Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label pengalaman pribadi

Kerja Online itu Luas, Gak Cuma Slot: Curhat Urus Nikah yang Malah Dicustam Pak Mudin

Halo semua! Apa kabar? Semoga sehat dan dompet tetap tebal, terutama bagi para pejuang cuan digital. Kali ini saya ingin berbagi cerita "ngenes" tapi lucu tentang pengalaman pribadi saat mengurus administrasi yang cukup sakral. Penasaran? Yuk, simak! Menjelang pernikahan bulan April nanti, hari-hari saya diwarnai kesibukan luar biasa. Bukan hanya soal dekorasi atau katering, tapi urusan administrasi yang menguras kesabaran. Salah satu momen paling berkesan adalah saat saya sowan ke rumah Pak Mudin untuk mengurus berkas pendaftaran nikah. Niat hati ingin semua lancar, saya malah terjebak dialog "budaya" yang bikin batin bergejolak. Malam itu, setelah Maghrib, saya meluncur ke rumah Pak Mudin dengan map berisi dokumen. Beliau menyambut ramah di ruang tamu yang temaram. Sambil membolak-balik berkas, beliau berhenti. Ternyata persiapan saya jauh dari sempurna. Ada berkas krusial yang lupa saya bawa, seperti surat pengantar RT dan keterangan kesehatan dari Puskesmas. Pak...

Jangan Demi Konten Jadi Ompong! Pelajaran Mahal dari Creator Makan Usia 20-an.

Di usia 28 tahun, saat teman-teman sebaya saya sedang pusing memikirkan cicilan KPR, investasi saham, atau mengejar posisi manajer, saya justru terjebak dalam masalah yang lebih "purba": urusan gigi. Sementara mereka sibuk membandingkan harga  skincare  biar awet muda, saya sibuk membandingkan harga lem gigi palsu yang paling rekat agar tidak lepas saat sedang bicara. Menjadi pengguna gigi palsu di usia kepala dua bukanlah cita-cita saya. Namun, jika menengok ke belakang, saya sadar bahwa ini adalah akumulasi dari dosa-dosa kuliner yang saya pupuk sejak remaja, ditambah ambisi saya sebagai seorang  content creator  makan yang agak kelewat batas demi sebuah angka  engagement  yang fana. Jagoan Panas dan Lingkaran Setan di Warung Keluarga Keberanian (atau lebih tepatnya kebodohan) saya terhadap makanan ekstrem sebenarnya sudah terlihat sejak zaman SMA. Saya ingat betul, saat istirahat sekolah, saya dan teman-teman sering nongkrong di depan gerbang buat beli p...

Martabat di Balik Debu: Kisah Kami Bertahan Hidup dari Limbah dan Rongsok

Kisah yang saya tulis ini adalah sebuah kilas balik tentang masa-masa paling sulit namun paling membentuk mental dalam hidup kami. Ini adalah catatan tentang perjuangan yang kami lalui empat tahun lalu, saat dunia sedang karut-marut akibat pandemi dan kami harus bertahan hidup dengan cara apa pun. Kini, sudah setahun lamanya kami benar-benar berhenti dari dunia limbah ini, namun baunya seolah masih menempel di ingatan. Semuanya bermula saat saya harus pulang ke rumah setelah kena PHK dari pekerjaan sebagai terapis di perantauan. Di rumah, adik saya yang sebelumnya bekerja sebagai kurir pun mengalami nasib serupa. Kami menjadi dua laki-laki dewasa yang mendadak menganggur, padahal ayah kami sudah meninggal dan beban keluarga besar ada di pundak kami. Sebelum terjun ke dunia rongsok, ekonomi keluarga kami sebenarnya sudah ditopang oleh beberapa lini. Keluarga kami memang sudah lama memiliki Ruko Sembako. Usaha ini sudah berjalan lama, bahkan sebelum saya lahir. Selain ruko, kami juga men...

Tutorial Menjaga Badan Agar Tidak "Hancur" bagi Si Pekerja Keras yang Ambisius

  Menjadi orang yang tidak enakan sekaligus ambisius adalah kombinasi maut yang lebih berbahaya daripada telat makan saat maag akut. Saya adalah contoh korbannya. Di dalam kepala, saya merasa seperti Iron Man yang serba bisa dan tahan banting. Namun kenyataannya? Saya hanyalah manusia biasa yang kalau angkat batako puluhan biji langsung merasa sendi tangan seperti mau lepas dari engselnya dan butuh bantuan koyo cabai segera. Masalah utama saya sebenarnya satu: saya suka memaksakan diri demi tujuan yang (katanya) mulia. Baru-baru ini, ada proyek pembangunan rumah dan kandang ternak di rumah. Alih-alih duduk manis di depan laptop sambil menyeruput kopi, jiwa "buruh" saya meronta-ronta. Saya turun tangan membantu bongkar muat material, mengangkat puluhan batako, hingga menggotong asbes yang lebarnya minta ampun. Pikir saya sederhana, bahkan cenderung naif: jika saya yang menangani urusan angkat-angkat beban berat ini, tukangnya bisa lebih fokus membangun dan pekerjaan cepat sele...