Beberapa hari lalu jam 10 pagi, matahari sudah mulai terasa menyengat di ufuk timur. Saya baru saja selesai menuntaskan tugas rutin memberi makan ayam di belakang rumah—sebuah aktivitas yang jauh dari hiruk-pikuk istilah asing. Setelah tangan bersih, saya memutuskan untuk rehat sejenak. Sofa di ruang tamu menjadi sasaran empuk untuk meluruskan kaki sambil scrolling YouTube, mencari ketenangan di sela waktu istirahat. Namun, kedamaian pasca-ngurus ayam itu mendadak buyar karena sebuah dialog dari balik jendela. Tetangga lewat, ngerumpi dengan suara nyaring, dan meluncurlah istilah maut yang legendaris itu: "Baby Sister." Seketika, jempol saya berhenti scrolling. Dalam hati saya langsung membatin, "Wah, muncul lagi nih istilah 'saudara bayi', wkwkwk!" Rasanya ingin tertawa, tapi ada rasa kesal yang juga ikut menyelinap. Fenomena "Saudara Kandung" Bayi yang Salah Kaprah Sejak kapan pengasuh bayi secara otomatis berubah profesi menjadi saudara kandun...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."