Saya ini, kalau diibaratkan kue Lebaran, mungkin saya itu kue jahe di antara setumpuk nastar dan kastengel yang laris manis. Bukan tidak enak, tapi terlalu beradab, terlalu kompleks, dan terlalu jujur untuk selera pasar. Kue jahe adalah pernyataan, nastar hanya basa-basi. Begitulah kira-kira posisi saya sebagai penganut J-Music Garis Keras . Kenapa? Jawabannya ada di playlist saya, yang secara kultural terasa seperti sebuah benteng pertahanan terakhir peradaban telinga yang dikepung oleh invasi barbar Dangdut Koplo dan Pop Indonesia yang liriknya selalu berkutat pada drama perselingkuhan yang tidak pernah selesai. Saat teman-teman kantor, tetangga kosan, atau bahkan tukang parkir depan Indomaret asyik bergoyang menikmati beat Koplo yang candu abis (dengan sound kenceng dari speaker Bluetooth seukuran galon yang dibeli dari hasil menunggak cicilan pinjol), atau larut dalam melodi galau Pop Indonesia yang liriknya nampol di hati namun miskin substansi, saya malah asyik headbang...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."