Langsung ke konten utama

Martabat di Balik Debu: Kisah Kami Bertahan Hidup dari Limbah dan Rongsok

Kisah yang saya tulis ini adalah sebuah kilas balik tentang masa-masa paling sulit namun paling membentuk mental dalam hidup kami. Ini adalah catatan tentang perjuangan yang kami lalui empat tahun lalu, saat dunia sedang karut-marut akibat pandemi dan kami harus bertahan hidup dengan cara apa pun. Kini, sudah setahun lamanya kami benar-benar berhenti dari dunia limbah ini, namun baunya seolah masih menempel di ingatan. Semuanya bermula saat saya harus pulang ke rumah setelah kena PHK dari pekerjaan sebagai terapis di perantauan. Di rumah, adik saya yang sebelumnya bekerja sebagai kurir pun mengalami nasib serupa. Kami menjadi dua laki-laki dewasa yang mendadak menganggur, padahal ayah kami sudah meninggal dan beban keluarga besar ada di pundak kami.

Sebelum terjun ke dunia rongsok, ekonomi keluarga kami sebenarnya sudah ditopang oleh beberapa lini. Keluarga kami memang sudah lama memiliki Ruko Sembako. Usaha ini sudah berjalan lama, bahkan sebelum saya lahir. Selain ruko, kami juga menangani ternak ayam dan bebek di belakang rumah, sementara Mbak saya bekerja sebagai buruh pabrik demi menghidupi tiga anaknya. Namun, saat krisis pandemi datang, pendapatan harian dari ruko dan telur ternak hanya cukup untuk perputaran modal harian. Kami butuh napas tambahan agar dapur tetap ngebul dan cicilan tidak macet.

Rongsoklah yang memicu keberanian kami untuk berekspansi di tengah himpitan ekonomi tersebut. Tepat satu bulan setelah kami konsisten berjibaku dengan debu rongsokan dan mulai melihat hasil timbangan yang stabil, kami memutuskan untuk membuka unit usaha baru, yaitu Warung Kopi. Modal dan mental yang terkumpul dari sebulan pertama nyari rongsok itulah yang kami putar untuk membuka warung tersebut. Jadi, selama beberapa tahun berikutnya, hari-hari kami diisi dengan melayani pembeli di ruko sembako, mengantar gas LPG, mengurus warung kopi, menjaga ternak, dan tentu saja menyortir rongsok. Tubuh kami mungkin lelah, tapi semangat kami penuh karena merasa setiap rupiah yang masuk adalah hasil keringat yang jujur.

Berikut adalah catatan pengalaman kami selama tiga tahun berjibaku dengan limbah:

1. Evolusi dari Sampingan Menjadi Bisnis Utama

Bisnis rongsok ini lahir secara tidak sengaja dari ruko kami sendiri. Sebagai pedagang sembako, ruko kami menghasilkan banyak kardus bekas wadah dagangan yang awalnya hanya ditumpuk di dalam rumah agar tidak berantakan. Melihat tumpukannya yang menggunung, kami mulai berpikir untuk menjadikannya uang. Dari sekadar membersihkan ruko, adik saya mulai jeli. Setiap pagi saat ia mencari pakan alternatif untuk ternak ayam dan bebek kami ke pasar, ia mulai memunguti botol plastik dan kardus bekas yang dibuang orang.

Rutinitas pagi adik saya sebenarnya adalah berburu makanan afkir di pasar. Ia tidak hanya mencari sayuran lonyot, tetapi juga makanan manusia yang sudah tidak layak jual seperti kue-kue basah, jajanan pasar yang sudah mulai keras, hingga nasi sisa dari warung-warung. Semua itu dikumpulkan untuk pakan ternak agar biaya operasional kami rendah. Di sela-sela memungut nasi dan sayur afkir itulah, ia mulai "gatal" melihat botol plastik dan kardus yang berceceran. Ternyata, hasilnya lumayan saat timbangannya dikumpulkan. Sejak saat itu, ia mulai serius mengatur jadwal: pagi, siang, dan sore khusus mencari rongsok. Bahkan pernah dalam beberapa minggu ia menambahkan waktu tambahan yaitu nyari di malam hari, juga waktu subuh.

2. Berburu di Pasar, Depan Rumah Tetangga hingga Pengajian Malam

Pencarian adik saya tidak hanya terbatas di pasar pada siang hari. Kami mulai jeli melihat peluang dari acara-acara besar di sekitar desa atau kota kami. Jika ada pengajian akbar atau acara umum yang melibatkan massa dalam jumlah banyak, adik saya dibantu saya sudah bersiap-siap. Beberapa kali kami datang ke tempat bekas acara pengajian besar tepat setelah acara bubar atau saat dini hari.

Kami pernah mencari rongsok mulai jam 2 pagi hingga jam 5 subuh. Di saat orang lain masih terlelap, kami berjibaku memunguti sisa-sisa botol mineral dan kardus snack yang berserakan. Meski dingin menusuk tulang dan rasa kantuk luar biasa, melihat karung-karung mulai terisi penuh memberikan kepuasan tersendiri. Kami mengejar waktu agar area tersebut bersih sebelum pagi hari, sekaligus mengamankan barang sebelum pemulung lain datang. Selain itu kami juga menemukan tempat tambahan untuk mencari rongsok yaitu di depan warung orang yang ramai, karena banyak rongsoknya akhirnya adik saya juga ngambil rongsokan di sana saat subuh untuk tambah-tambah.

3. Fitnah Keji: Tuduhan Mencuri yang Menyakitkan

Di tengah kerja keras itu, ada satu kejadian yang sangat melukai perasaan adik saya. Suatu hari, ia dituduh mencuri rongsokan milik orang lain. Tuduhan itu datang dari seorang penjual pisang di pasar yang dengan ringannya menuding adik saya mengambil barang yang bukan haknya. Padahal, setiap barang yang adik saya bawa pulang adalah hasil memulung di tumpukan sampah atau pemberian sukarela dari pedagang yang iba.

Meskipun banyak orang yang membela dan bersaksi bahwa tidak mungkin adik saya mencuri karena mereka tahu kebaikannya, fitnah itu tetap memukul batinnya. Ia merasa martabatnya diinjak-injak di tengah lingkungan pasar yang sudah ia anggap seperti rumah sendiri.

Namun, kebenaran akhirnya menemukan jalannya. Tak lama kemudian, pencuri aslinya tertangkap basah oleh petugas pasar saat tengah beraksi mencuri rongsok milik pedagang lain. Seketika itu juga, nama baik adik saya bersih secara otomatis.

Meski demikian, luka di hati tidak bisa sembuh secepat itu. Sejak kejadian tersebut, adik saya bersumpah tidak akan pernah lagi membeli pisang atau barang apa pun dari penjual yang telah menuduhnya. Ini bukan tentang dendam, melainkan tentang prinsip: bahwa harga diri tidak bisa dibeli dengan kata maaf yang datang terlambat.

4. Pembagian Peran dan Gotong Royong Keluarga Besar

Dalam menjalankan bisnis ini, pembagian tugas kami terbentuk secara alami namun sangat ketat. Adik saya menjadi The Field Man, sang pencari rongsok utama. Sementara saya mengambil peran sebagai The Lab Man, penyortir utama di halaman belakang. Namun, ini adalah proyek pertahanan hidup seluruh keluarga.

Ibu saya, meski sudah sepuh, tidak mau tinggal diam. Saat beliau sedang keluar rumah dan menemukan rongsok, Ibu akan membawanya pulang. Mbak saya pun demikian, selalu membawa botol bekas sepulang dari pabrik. Bahkan, Mas saya yang sudah berkeluarga pun ikut membantu. Ia sering mengumpulkan kardus dari tempat kerjanya, serta botol dan bak plastik bekas dari rumah istrinya untuk dikirimkan ke rumah kami. Dukungan ini menjadi suplai berharga yang menambah volume timbangan kami setiap bulannya. Rumah kami sudah seperti terminal sampah kecil, tapi di sanalah kehangatan keluarga kami terasa.

5. Akrobat Sortir dan Siasat Menantang Banjir

Ujian terberat saya sebagai penyortir adalah masalah tempat dan cuaca. Karena kami tidak memiliki gudang, rongsok terpaksa kami tumpuk di halaman belakang rumah. Masalahnya, meskipun sudah ditutup, air hujan tetap sering masuk. Tapi ya bagaimana lagi, daripada tidak ditutup sama sekali, hancurnya akan jauh lebih parah.

Cara sortir saya sangat manual dan penuh perjuangan. Saya menggunakan kandang jemur ayam yang bagian bawahnya saya hadapkan ke arah saya. Bagian atas kandang itu saya tutup dengan karung-karung bekas agar air hujan tidak langsung mengenai saya dan barang yang sedang dipilah. Ruangnya sangat sempit, membuat gerakan saya terbatas, tapi itu satu-satunya pelindung yang saya punya. Terkadang, jika hujan sangat deras, saya memasang terpal tambahan di bagian atas untuk memperluas area perlindungan.

Hal yang paling melelahkan adalah saat hujan mulai ekstrem dan ancaman banjir atau genangan air muncul. Sebelum saya menaruh rongsok di tanah, saya harus membangun semacam dudukan atau tempat yang lebih tinggi agar barang-barang, terutama kardus dan kertas, tidak terkena genangan air hujan di bawah. Jika tanda-tanda banjir datang, saya harus buru-buru memindahkan barang ke tempat yang lebih aman. Tubuh saya seringkali gemetar menahan dingin, namun pikiran saya hanya tertuju pada tumpukan kardus agar tidak menjadi bubur.

6. Belajar Kasta Sampah dan Ilmu dari Pengepul

Awalnya, saya benar-benar buta soal kasta sampah. Saya pernah mengalami momen memalukan saat pertama kali menjual hasil kumpulan kami ke pengepul besar. Saya mengira semua kertas kotak adalah "kardus". Kotak susu hingga wadah obat nyamuk saya campur jadi satu. Sesampainya di sana, kami diomelin habis-habisan karena mencampur kardus dengan duplex. Ternyata, harganya jauh berbeda dan mencampurnya dianggap merugikan pengepul.

Dari rasa malu itu, saya belajar otodidak lewat YouTube. Selain itu, saya beruntung bertemu pengepul yang sangat baik hati. Ia mengajari saya dengan sabar perbedaan material plastik toko, kertas putih, dan duplex. Saya mulai paham mana plastik yang laku mahal dan mana yang hanya "sampah" biasa. Berkat arahannya, hasil sortir saya perlahan menjadi lebih profesional dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi di mata pengepul besar. Kami bukan lagi sekadar pemulung amatir, tapi sudah mulai paham manajemen kualitas limbah.

7. Kebaikan Tersembunyi di Sudut Pasar

Di balik kerasnya debu pasar, ada sisi kemanusiaan yang menyentuh. Banyak pedagang pasar yang sering melihat adik saya berkeliling merasa simpati pada kegigihannya. Diam-diam, mereka mulai membantu mengumpulkan kardus dan botol dari toko mereka untuk diberikan secara cuma-cuma kepada adik saya. Mereka melihat seorang anak muda yang tidak malu bekerja kasar demi keluarga.

Pernah ada pedagang yang sengaja menaruh uang Rp50.000 di bawah tumpukan kardus. Saat adik saya menemukannya dan bertanya jujur karena takut itu uang yang terjatuh, pedagang itu hanya tersenyum dan menjawab, "Itu bukan uangku, ambil saja, itu rezekimu." Tidak hanya di pasar, tetangga sekitar pun mulai terbiasa mengantarkan barang rongsok mereka ke rumah kami daripada dibuang ke tempat sampah. Kebaikan-kebaikan kecil ini yang seringkali membuat mata kami berkaca-kaca di tengah debu rongsokan.

8. Berkah dari Bongkaran Toko dan Servis Barang Bekas

Kami juga pernah diminta bantuan oleh pemilik toko untuk membereskan sampah-sampah besar setelah mereka melakukan renovasi. Selain dibayar uang jasa karena telah membersihkan area mereka, kami diizinkan membawa pulang semua sampah hasil bongkaran tersebut. Ternyata di balik tumpukan "sampah" itu, banyak barang yang masih sangat layak dipakai. Kami membawa semua barang itu ke belakang rumah untuk disortir dengan teliti. Meski capek luar biasa harus angkat-angkat barang berat, kami menjalaninya dengan hati sangat senang karena tahu nilainya bisa berlipat ganda saat dijual kembali atau dimanfaatkan sendiri.

9. Harta Karun di Antara Limbah

Salah satu hal yang membuat saya tetap bersemangat menyortir adalah "harta karun" yang sering terselip. Kami sering menemukan pakaian yang masih bagus, HP jadul yang ternyata masih berfungsi meskipun hanya bertahan sebulan, hingga kipas angin yang setelah saya servis sedikit bisa mendinginkan kamar kami selama berbulan-bulan. Mainan untuk keponakan hingga uang tunai yang terselip pun pernah kami dapatkan. Kami pernah menemukan lembaran uang yang terjepit di dalam lipatan majalah lama. Bagi kami, barang-barang ini adalah bonus dari Tuhan atas kerja keras kami yang mungkin tidak seberapa ini.

10. Drama Janji Palsu Pengepul

Urusan menjual barang rongsok ternyata penuh drama. Karena tidak punya pengepul tetap, kami sering berganti pembeli demi mencari harga tertinggi. Pernah suatu kali kami janjian dengan seorang pengepul besar, namun ia tak kunjung muncul dengan seribu alasan "besok pagi" atau "nanti sore". Karena butuh uang cepat dan halaman sudah makin sesak, saya mencari pembeli lain tanpa pemberitahuan. Tak disangka, saat pembeli baru sedang menimbang barang, pembeli pertama tiba-tiba muncul. Suasana mendadak canggung luar biasa; dua pengepul bertemu di depan tumpukan rongsok yang sama. Kejadian itu mengajarkan kami soal pentingnya loyalitas dan komunikasi dalam bisnis sampah.

11. Stigma Sosial dan Ketebalan Telinga

Menjadi tukang rongsok itu berat secara mental, terutama di lingkungan sosial yang masih memandang pekerjaan dari penampilan luar. Adik saya pernah dihina seseorang saat arisan Al Banjari mingguan karena pekerjaannya dianggap rendah dan kotor. Penghinaan itu membuat adik saya marah besar; ia memblokir kontak orang tersebut dan tidak menyapanya selama berbulan-bulan. Kejadian itu membekas sebagai pengingat bahwa pekerjaan ini membutuhkan ketebalan telinga yang luar biasa. Orang hanya melihat tangan kami hitam kena debu, tapi mereka tidak tahu bahwa dari situlah martabat keluarga kami tetap tegak tanpa harus mengemis pada siapa pun.

12. Manajemen Keuangan dan Titik Jenuh

Keuangan kami kelola dengan sistem satu pintu oleh Ibu dan adik saya. Hasil jualan harian dari ruko, warung kopi, dan telur digunakan untuk perputaran modal harian, sementara hasil rongsok menjadi tabungan tambahan untuk kebutuhan mendesak. Namun, bisnis ini ada pasang surutnya. Pernah berbulan-bulan barang kami menumpuk karena harga rongsok dunia sedang hancur. Halaman belakang rumah menjadi sarang tikus karena barang tak kunjung laku. Karung-karung wadah rongsok lapuk karena panas dan hujan, kardus hancur menyerap air tanah hingga menjadi bubur tak bernilai. Itulah titik di mana kami merasa benar-benar lelah secara fisik dan batin, merasa seolah usaha kami sia-sia.

Penutup: Garis Finis di Dunia Digital

Empat tahun lalu rongsok adalah penyelamat, namun setiap perjalanan punya garis finis. Sejak setahun terakhir, kami berhenti karena menemukan jalan baru di dunia digital: farming game. Peluang ini sebenarnya pernah ditawarkan teman dulu, tapi saya tolak karena menganggap rongsok lebih "nyata" dan terlihat hasilnya secara fisik. Ternyata takdir membawa kami kembali ke depan layar komputer setelah sekian lama menjauh dari dunia profesional.

Sekarang kami bekerja lebih santai, jauh dari terik matahari dan ancaman hujan yang membasahi kardus. Namun, pengalaman rongsok tetap menjadi guru terbaik dalam hidup kami. Ia membuktikan bahwa kehormatan seorang laki-laki terletak pada kemampuannya menjaga keluarga tetap bertahan, meski harus dengan tangan yang menghitam oleh debu sampah. Jika kalian sedang di titik nadir, lihatlah sekeliling. Mungkin ada botol plastik yang menunggu untuk diubah menjadi martabat baru di masa depan. Jangan pernah malu dengan pekerjaan apa pun selama itu halal, karena seringkali emas tersembunyi di balik tumpukan limbah yang orang lain hindari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...