Selamat datang di prasmanan spiritual tahunan, di mana menu sunnah laku keras tapi hidangan wajib justru dibiarkan dingin tak tersentuh. Ada sebuah keajaiban tahunan yang jauh lebih konsisten daripada jadwal datangnya tagihan listrik atau janji manis politisi saat kampanye: fenomena "Masjid Dadakan" di awal Ramadhan. Sebagai saksi mata yang cukup rajin memperhatikan deretan sandal di teras masjid—dari yang merek Swallow sampai yang punya teknologi anti-maling—saya selalu takjub. Masjid yang selama sebelas bulan lamanya hanya dihuni oleh kakek-kakek setia yang batuknya lebih nyaring dari speaker, serta suara kipas angin yang berderit memohon pensiun, tiba-tiba berubah menjadi venue konser akbar. Semua orang datang. Benar-benar semua orang. Termasuk tetangga sebelah yang selama ini kita kira sudah pindah kewarganegaraan atau mungkin sedang menjalani misi rahasia ke luar angkasa karena tidak pernah terlihat dalam radar shaf shalat fardhu. Tiba-tiba, di malam pertama tarawih, dia...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."