Halo semua! Apa kabar? Semoga sehat dan dompet tetap tebal, terutama bagi para pejuang cuan digital. Kali ini saya ingin berbagi cerita "ngenes" tapi lucu tentang pengalaman pribadi saat mengurus administrasi yang cukup sakral. Penasaran? Yuk, simak!
Menjelang pernikahan bulan April nanti, hari-hari saya diwarnai kesibukan luar biasa. Bukan hanya soal dekorasi atau katering, tapi urusan administrasi yang menguras kesabaran. Salah satu momen paling berkesan adalah saat saya sowan ke rumah Pak Mudin untuk mengurus berkas pendaftaran nikah. Niat hati ingin semua lancar, saya malah terjebak dialog "budaya" yang bikin batin bergejolak.
Malam itu, setelah Maghrib, saya meluncur ke rumah Pak Mudin dengan map berisi dokumen. Beliau menyambut ramah di ruang tamu yang temaram. Sambil membolak-balik berkas, beliau berhenti. Ternyata persiapan saya jauh dari sempurna. Ada berkas krusial yang lupa saya bawa, seperti surat pengantar RT dan keterangan kesehatan dari Puskesmas. Pak Mudin pun mencatat daftar "PR" untuk saya di secarik kertas.
Setelah urusan administrasi selesai, beliau menyandarkan punggung ke kursi kayu. Di sinilah "sidang" dimulai. Beliau menatap saya dengan tenang—khas orang tua yang ingin mengenal calon pengantin di wilayahnya—lalu bertanya, "Masnya sekarang sibuk kerja apa?"
Entah kenapa, otak saya mendadak blank. Padahal saya sudah berjanji untuk hati-hati menjawab. Dengan jujur tanpa filter, saya menjawab, "Saya kerja di game online, Pak."
Seketika, gerakan tangan beliau terhenti. Suasana ruangan yang tadinya cair mendadak hening dan canggung. Pak Mudin menatap saya dengan raut wajah antara kaget, bingung, dan prihatin. Lalu meluncurlah pertanyaan yang rasanya seperti hantaman telak: "Slot, Mas?"
Duh, Gusti... rasanya saya ingin tepok jidat saat itu juga. Kenapa saya se-teledor itu? Harusnya saya bilang "kerja komputer" atau "IT" agar aman. Ternyata, istilah "game online" di telinga banyak orang tua sudah terpatri sebagai sinonim judi online atau slot. Seolah setiap anak muda di depan monitor berjam-jam hanyalah mereka yang memutar mesin demi mengejar scatter.
Padahal, pekerjaan saya jauh dari kata judi. Namun, menjelaskan ekosistem industri game ke Pak Mudin malam itu rasanya akan memakan waktu sampai subuh. Akhirnya, saya hanya bisa tersenyum kecut sambil membatin: Lain kali, jawab saja kerja di dinas kebersihan data atau bagian operasional keyboard!
Dejavu Stigma: Belajar dari Pengalaman Teman dan Sepupu
Kejadian sama Pak Mudin ini sebenarnya bikin saya dejavu berat. Kalau dipikir-pikir, saya ini kurang waspada, padahal sudah banyak "alarm" di sekitar saya. Tahun lalu saja, sepupu jauh saya berkunjung ke rumah. Pas lagi asyik ngobrol santai, dia tanya saya sekarang kerja apa. Begitu saya jawab main game online, reaksinya persis kayak Pak Mudin. Mata melotot dan langsung nyeletuk, "Slot?"
Belum lagi cerita dari teman seperjuangan saya di tempat farming. Dia jauh lebih dulu mengalami nasib serupa. Setiap kali dia ditanya tetangga atau orang baru soal pekerjaannya, jawaban "main game" selalu berujung pada tuduhan main judi. Dari pengalaman teman saya itulah, kami sebenarnya punya kesepakatan tidak tertulis: kalau ditanya orang awam, bilang saja "kerja komputer" atau "utak-atik komputer".
Bahkan teman saya itu sampai mewanti-wanti saya berkali-kali supaya jangan terlalu jujur kalau nggak mau diceramahi soal "pekerjaan layak". Tapi ya itu tadi, entah kenapa pas di depan Pak Mudin, semua benteng pertahanan saya runtuh. Mungkin karena suasana setelah Maghrib yang bikin saya terlalu rileks, atau memang saya yang terlalu polos. Harusnya saya dengerin saran teman saya itu. Kalau ditanya lagi nanti, saya sudah siapkan jawaban standar: "Saya teknisi komputer Pak," atau kalau mau lebih ekstrim ya bilang saja "ternak ayam" biar beliau langsung kasih jempol tanpa banyak tanya.
Meluruskan Benang Kusut di Depan Pak Mudin
Melihat reaksi Pak Mudin yang mendadak skeptis, saya langsung buru-buru melakukan klarifikasi sebelum salah pahamnya makin jauh. Saya jelaskan pelan-pelan kalau yang saya kerjakan ini murni masalah teknis, butuh ketelatenan, dan strategi yang matang. Saya nggak bilang detail soal tempat kerja saya, saya cuma bilang garis besarnya saja.
Saya jabarkan mekanismenya sesimpel mungkin. "Bukan judi Pak, tapi saya main game perang-perangan. Tugas saya itu ngumpulin koin atau barang-barang langka lewat misi-misi di dalam game. Nanti koin yang sudah terkumpul banyak itu dijual ke pemain lain dan ditukar dengan uang nyata," jelas saya.
Barulah setelah penjelasan panjang lebar itu, beliau manggut-manggut, meski saya nggak yakin seratus persen beliau paham bedanya farming gold dengan deposit slot yang meresahkan itu. Saking groginya karena merasa "diinterogasi", saya malah keceplosan soal penghasilan. Saya bilang, "Ya gaji saya sebulan sejuta lah, Pak."
Begitu kata itu keluar, saya langsung nyesel dua kali. Padahal dalam kenyataannya, kalau pasar lagi ramai atau saya sedang rajin-rajinnya mengejar target, hasilnya bisa berkali-kali lipat dari angka satu juta itu. Tapi ya begitulah, kalau saya bilang angka aslinya, saya malah takut beliau makin curiga kalau saya punya pesugihan digital yang bisa narik duit dari layar monitor.
Dilema Antara Pekerjaan "Layak" dan Kenyataan Digital
Mendengar angka satu juta yang saya sebut tadi, Pak Mudin tetap memberikan nasihat yang cukup menohok. "Mas, nanti kalau sudah punya istri, cari kerjaan yang layak ya. Yang bener gitu kerjanya," kata beliau sambil mengingatkan saya lagi soal berkas-berkas yang kurang tadi.
Kata-kata "kerja layak" itu terus terngiang-ngiang di telinga saya sepanjang jalan pulang menembus dinginnya malam. Memang sih, di mata generasi senior, kerja layak itu identik dengan seragam, kantor fisik, dan berangkat pagi pulang sore. Padahal bagi saya, definisi layak itu sederhana: hasilnya halal, tidak menipu orang lain, tidak merugikan siapapun, dan bisa dikerjakan dengan fleksibel selama saya bisa akses PC.
Diplomasi "Ternak Ayam" Sebagai Jalan Tengah
Momen paling unik sekaligus ironis adalah saat Pak Mudin terus memberikan wejangan agar saya punya masa depan yang "lebih jelas". Beliau khawatir kalau hidup dari dunia online itu tidak pasti. Akhirnya, saya pakai jurus diplomasi pamungkas agar obrolan malam itu berakhir damai. Saya bilang, "Iya Pak, rencana nanti kalau sudah nikah saya mau sambil ternak ayam juga di belakang rumah."
Ajaib! Begitu kata "ternak ayam" keluar dari mulut saya, wajah Pak Mudin yang tadinya tegang langsung cerah seketika. "Nah! Itu baru bagus, Mas! Sip, sip! Itu baru kerjaan nyata!" katanya sambil memberikan jempol lebar dan senyuman puas. Ternyata di tahun 2026 pun, ayam-ayam yang berisik di kandang tetap terasa lebih meyakinkan daripada aset digital di dalam PC.
Memanfaatkan Fasilitas untuk Gurita Bisnis
Pak Mudin mungkin nggak bakal nyangka kalau aktivitas digital saya di depan PC itu nggak cuma sebatas nge-game perang-perangan saja. Karena jujur saja, saya sendiri belum punya PC pribadi di rumah. Jadi, PC di tempat kerja itulah yang menjadi "nyawa" sekaligus pusat kendali bagi semua lini bisnis online saya. Di sela-sela waktu main game atau pas lagi istirahat, saya memanfaatkannya secara maksimal untuk mencari cuan tambahan sebagai usaha sampingan mandiri.
Di depan PC itulah, saya juga menjalankan bisnis dropshipping. Saya mengelola toko dan produk sendiri tanpa harus pusing memikirkan stok barang atau gudang. Semuanya saya kendalikan lewat layar monitor tersebut. Selain itu, saya juga rutin mengisi survei online internasional yang bayarannya dollar—recehan yang kalau dikumpulkan dengan konsisten, nilainya lumayan banget buat tambahan biaya nikah besok.
Dan tentu saja, saya menyalurkan segala keresahan dan isi kepala saya melalui blog pribadi ini, masih menggunakan fasilitas PC yang sama. Meskipun jujur saja, perjuangan di blog ini tidak semudah membalikkan telapak tangan atau secepat progres saya di dalam game. Akun AdSense saya ditolak berkali-kali sampai saya di titik malas untuk mengajukan lagi. Tapi, blog ini tetap jalan sebagai tempat saya berbagi tips hidup dan curhat jujur seperti yang sedang kalian baca sekarang. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan uang saat tulisan kita bisa relate dengan orang lain yang mungkin punya nasib sama di dunia teknologi yang keras ini. Fasilitas tempat kerja itu benar-benar menjadi saksi bisu perjuangan saya membangun aset dari nol di tengah keterbatasan.
Penutup: Tetap Semangat Pejuang Digital!
Pengalaman mengurus berkas nikah sehabis Maghrib ini jadi pelajaran berharga. Kita yang bekerja di dunia online memang harus punya stok sabar yang banyak, terutama saat berhadapan dengan stigma masyarakat. Kita sering dianggap pengangguran sukses, dianggap main judi, atau bahkan dianggap tidak punya masa depan hanya karena cara kerja kita berbeda.
Pesan saya buat kalian para pejuang cuan digital: jangan pernah berkecil hati. Selama apa yang kita kerjakan itu halal dan bisa memberikan nafkah yang cukup, gas terus! Kita tidak perlu validasi dari semua orang untuk merasa bahwa apa yang kita kerjakan itu berharga. Kadang kita memang harus sedikit "berakting" setuju soal rencana ternak ayam demi menjaga kerukunan sosial dan kelancaran administrasi pernikahan.
Pernikahan saya bulan April nanti tetap akan berjalan dengan bangga. Saya tetap akan menjadi pejuang game yang tekun, pengusaha dropship yang gigih, dan penulis blog yang setia berbagi cerita. Dan mungkin... beneran bakal bikin kandang ayam kecil-kecilan di belakang rumah agar Pak Mudin merasa menang dan saya pun tenang. Semangat buat kalian semua yang sedang berjuang di ladang digital!
Terima kasih sudah membaca! Jika kamu ingin memberikan apresiasi, saya menyediakan dua pintu dukungan:
🐈 https://saweria.co/hambaz – Bantu saya menyediakan makanan dan obat-obatan untuk kucing jalanan yang membutuhkan. Aktivitas bantuan ini akan saya publikasikan di YouTube: Dexpe Land Green Farm.
💻 https://sociabuzz.com/hamdanbasofi/tribe– Dukung saya juga agar tetap bisa konsisten berkarya dan mengelola blog ini.
Dukunganmu sangat berarti bagi kami semua!

Komentar