Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kesejahteraan umat

Masjid Dekat Rumah Saya Hobi Bongkar Pasang Keramik: Ini Tempat Ibadah atau Katalog Interior Berjalan?

Bagi warga di kampung saya, suara yang paling akrab dari masjid bukanlah sekadar azan merdu , melainkan dentuman martil dan deru mesin pemotong keramik. Masjid kami seolah memiliki " krisis identitas " yang akut. Bayangkan, ubin yang masih kinclong dan layak pakai harus pasrah dihancurkan kembali bukan karena rusak, melainkan karena alasan filosofis yang menyakitkan: "kurang enak dipandang." Estetika Sebagai Hukum Tertinggi Dalam kamus pengurus masjid saya dulu, estetika adalah segalanya. Jika warna keramik hijau dianggap tidak serasi dengan cat tembok terbaru, solusinya hanya satu: hancurkan dan ganti dengan granit bertema earth tone agar terlihat kekinian. Proyek abadi ini membuat tukang bangunan langganan kami mungkin sudah bisa membeli mobil sendiri, sementara hati para jamaah yang rutin menyisihkan uang belanja ke kotak amal merasa sesak melihat amanah umat berubah menjadi puing dalam sekejap. Melupakan Fikih Prioritas Setiap pecahan keramik itu adalah uang ke...