Menjadi pemilik ruko atau warung kelontong sering kali dianggap oleh orang awam sebagai pekerjaan paling santai sedunia. Di mata mereka, kami adalah orang-orang beruntung yang hanya perlu duduk manis, kipas-kipas duit di bawah embusan angin sepoi-sepoi, menonton anime atau scrolling TikTok di meja kasir, sambil sesekali melayani pembeli yang datang membawa rezeki. Bayangan itu sangat indah, seperti filter Instagram yang menutupi pori-pori kenyataan yang kasar. Hahahahaha. Izinkan saya tertawa sarkas sebentar. Mat***! Sebagai anak pemilik ruko kecil-kecilan yang dikelola secara kekeluargaan—dan tolong garis bawahi kata "keluarga", bukan korporasi kapitalis dengan sistem shift pegawai 24 jam yang punya SOP menyapa pelanggan dengan senyum pepsodent—saya merasa perlu meluruskan imajinasi liar kalian. Ruko kami adalah sumber rezeki, betul. Kami senang melayani, betul. Tapi belakangan ini, tempat tinggal sekaligus tempat usaha kami ini berubah menjadi ladang trauma yang bikin jan...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."