Menjelang siang di bulan Ramadan, suasana di rumah kami biasanya berubah menjadi zona sunyi yang penuh dengan aktivitas terselubung. Di dapur, Ibu sedang "bertempur" melawan panasnya kompor untuk menyiapkan masakan buka puasa kami sekeluarga. Aroma tumisan bawang dan rempah menyeruak, menciptakan ujian berat bagi lambung yang sedang kosong. Sementara itu, saya baru saja menyelesaikan urusan rutin mengurus ayam di belakang dan sedang mencoba meluruskan punggung yang rasanya hampir patah. Dalam kondisi seperti ini, pintu depan rumah—yang merangkap sebagai akses utama warung kelontong kecil-kecilan kami—memang sengaja kami tutup rapat. Bukan karena kami sedang memusuhi dunia atau mendadak sombong, tapi ini murni soal protokol keamanan aset. Warung kami menyediakan segala macam kebutuhan pokok; dari beras, sabun, chiki-chiki anak-anak, rokok, hingga minuman dingin di kulkas. Jika pintu dibiarkan menganga tanpa penjagaan sementara seluruh penghuni rumah berada di bagian belakang, ...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."