Bagi banyak siswa SMA atau SMK tingkat akhir, pertanyaan "Mau kuliah di mana?" sering kali terasa lebih menakutkan daripada ujian nasional itu sendiri. Di koridor sekolah, di grup WhatsApp, hingga di meja makan bersama keluarga, topik ini seolah menjadi satu-satunya indikator apakah masa depan seseorang akan cerah atau suram. Namun, di tengah tekanan sosial dan gempuran pamer kampus di media sosial, muncul sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan: Kuliah hanya karena gaya-gayaan. Tanpa cita-cita yang jelas, tanpa riset jurusan, banyak remaja yang terjebak dalam arus FOMO (Fear of Missing Out) atau sekadar ingin menjaga gengsi agar tidak dianggap "pengangguran" oleh lingkungan sekitar. 1. Tren "Ikut-ikutan": Ketika Teman Menjadi Kompas Utama Banyak siswa memilih jurusan bukan karena minat, melainkan karena teman satu gengnya masuk ke sana. Kuliah dianggap sebagai ajang reuni yang diperpanjang. Ada rasa takut jika tidak kuliah, mereka akan kehilangan l...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."