Jadi ceritanya gini, kemarin aku iseng lagi scroll story WhatsApp. Terus, aku lihat saudaraku bikin status, caption-nya: "Cuma sekedar hiburan" . Waduh, jiwa "polisi bahasa"-ku langsung meronta-ronta, nih. Pengen banget rasanya nge-reply buat benerin, tapi takut dibilang cerewet atau sok tahu. Padahal, kata yang dia pakai itu sebenernya salah kaprah, lho. Nah, daripada aku pendam sendiri (atau malah berantem sama saudara gara-gara ejaan, haha), mending aku tumpahin di sini aja. Sekalian kita belajar bareng biar Bahasa Indonesia kita makin oke dan nggak malu-maluin kalau lagi nulis yang agak resmi atau buat konten medsos. Kasus Utama: Mana yang Benar, Sekadar atau Sekedar? Ini nih biang keroknya. Banyak banget orang yang nulis "Sekedar" . Mungkin karena di lidah rasanya lebih enak kali, ya? Atau karena sering denger orang ngomong pakai "E". Tapi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata yang baku itu "Sekadar". Kenapa? Karena...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."