Langsung ke konten utama

Jangan Demi Konten Jadi Ompong! Pelajaran Mahal dari Creator Makan Usia 20-an.

Di usia 28 tahun, saat teman-teman sebaya saya sedang pusing memikirkan cicilan KPR, investasi saham, atau mengejar posisi manajer, saya justru terjebak dalam masalah yang lebih "purba": urusan gigi. Sementara mereka sibuk membandingkan harga skincare biar awet muda, saya sibuk membandingkan harga lem gigi palsu yang paling rekat agar tidak lepas saat sedang bicara.

Menjadi pengguna gigi palsu di usia kepala dua bukanlah cita-cita saya. Namun, jika menengok ke belakang, saya sadar bahwa ini adalah akumulasi dari dosa-dosa kuliner yang saya pupuk sejak remaja, ditambah ambisi saya sebagai seorang content creator makan yang agak kelewat batas demi sebuah angka engagement yang fana.

Jagoan Panas dan Lingkaran Setan di Warung Keluarga

Keberanian (atau lebih tepatnya kebodohan) saya terhadap makanan ekstrem sebenarnya sudah terlihat sejak zaman SMA. Saya ingat betul, saat istirahat sekolah, saya dan teman-teman sering nongkrong di depan gerbang buat beli pentol kuah.

Teman-teman saya biasanya meniup-niup pentol mereka sampai dingin. Saya? Tidak perlu. Begitu pentol diangkat dari panci yang airnya masih mendidih, langsung saya lahap bulat-bulat. Teman-teman saya sampai melongo, "Lho, nggak panas, Ta?" saya cuma senyum sombong sambil mengunyah santai seolah lidah saya terbuat dari asbes. "Sudah biasa," jawab saya waktu itu dengan bangga.

Saya merasa punya kekuatan super karena bisa menahan suhu panas. Tapi saya lupa, gigi dan gusi saya bukan terbuat dari keramik tahan api. Masalahnya, cobaan itu tidak berhenti di sekolah. Di rumah, keluarga saya buka warung yang menjual berbagai macam kebutuhan, mulai dari es kristal, minuman dingin, hingga aneka snack manis. Ini adalah "surga" sekaligus "neraka" bagi kesehatan mulut saya.

Kebiasaan makan panas itu langsung saya "bilas" dengan minum es kristal dari warung sendiri yang dinginnya menusuk tulang. Perubahan suhu yang drastis ini—dari panas mendidih ke dingin membeku—ternyata adalah cara terbaik untuk meretakkan struktur gigi secara perlahan tapi pasti. Belum lagi godaan camilan manis yang selalu tersedia di rak warung. Perpaduan suhu ekstrem dan gula berlebih ini adalah resep sempurna untuk menghancurkan enamel gigi.

Totalitas Konten yang Berujung Ompong

Dosa-dosa masa remaja itu akhirnya menemui hari penghakimannya saat saya mulai terjun ke dunia konten. Sebagai orang yang memang sering bikin konten makan, saya selalu ingin memberikan yang terbaik dan terlihat totalitas. Prinsip saya sederhana: kalau kontennya nggak ekstrem, nggak bakal ramai.

Puncaknya terjadi saat saya bikin konten ASMR makan bebek goreng. Dalam pikiran saya, suara "kriuk" dari tulang bebek yang hancur akan menjadi audio yang sangat memuaskan. Maka, dengan penuh semangat di depan kamera, saya tidak hanya memakan dagingnya, tapi tulang-tulangnya pun saya sikat habis. Saya pikir, gigi saya masih sekuat dulu saat saya pamer makan pentol panas di depan teman-teman SMA.

Krak!

Awalnya saya pikir itu bunyi tulang bebek yang pecah. Ternyata, itu bunyi masa depan saya yang retak. Gigi tengah bagian atas saya copot seketika. Konten yang harusnya menggugah selera malah berubah jadi film horor dokumenter dalam sekejap. Di depan kamera, saya terdiam, meratapi satu aset berharga yang barusan tanggal dari tempatnya.

Jebakan Batman Bernama Temptooth

Karena malu punya "jendela" di bagian depan dan tuntutan untuk terus tampil di layar ponsel, saya mencari jalan pintas: temptooth. Butiran plastik polimer yang kalau diseduh air panas bisa menjadi lembek dan dibentuk jadi gigi tiruan dadakan.

Karena pengen instan, saya melakukan cara yang salah kaprah. Begitu plastik panas itu saya bentuk di gusi, saya langsung mengguyurnya dengan air es di dalam mulut agar plastik itu mengeras seketika di tempatnya. Plastik yang mengeras langsung di gusi itu menjepit sisa-sisa gigi saya dengan sangat kuat. Selama berbulan-bulan, saya terjebak dalam siklus ini. Setiap kali temptooth itu sudah kusam, saya mencabutnya paksa untuk membuat yang baru.

Di sinilah petaka besar itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Saya punya "gigi dobel"—sisa gigi lama yang tinggal sedikit dari masa kecil. Akibat sering mencabut paksa rakitan temptooth yang menjepit terlalu kuat, suatu hari sisa gigi dobel itu benar-benar ikut tercabut sampai ke akarnya, menempel di plastik polimer yang saya lepas. Saya sukses membuat diri saya sendiri makin ompong gara-gara sok tahu urusan kedokteran gigi DIY.

Akhirnya Menyerah pada Dokter Gigi (dan Berkah BPJS)

Setelah berbulan-bulan bertahan dengan rasa tidak nyaman, minggu kemarin saya akhirnya resmi menyerah dan datang ke dokter gigi. Saya sadar, eksperimen plastik ini harus diakhiri sebelum gusi saya makin hancur.

Gigi saya diukur, dicetak, dan diperiksa secara profesional. Awalnya, dokter bilang saya harus bersabar. "Ini harus dikirim ke lab dulu, Mas. Tapi labnya lagi tutup, jadi kemungkinan baru jadi 3 minggu lagi," kata dokter. Saya sudah pasrah membayangkan harus vakum bikin konten makan cukup lama.

Soal biaya, awalnya saya agak deg-degan. Harga gigi palsu dari dokter itu sekitar 1 jutaan rupiah. Angka yang lumayan buat urusan satu biji gigi. Tapi untungnya, ada potongan dari BPJS sekitar 500 ribu rupiah. Jadi, saya hanya perlu mengeluarkan sisa biayanya. Sebuah investasi yang jauh lebih masuk akal daripada terus-terusan beli plastik polimer yang malah merusak gusi.

Namun, keajaiban terjadi. Baru seminggu berlalu, admin klinik mengirim pesan WhatsApp bahwa gigi tiruan saya sudah jadi lebih cepat dari jadwal. Akhirnya, minggu kemarin saya resmi membuang temptooth itu selamanya dan beralih ke gigi palsu profesional yang jauh lebih aman..

Minggu Pertama yang Menyiksa: Perang Melawan Rasa "Pelo"

Namun, memakai gigi palsu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Hari-hari awal pemakaian adalah sebuah siksaan fisik dan mental. Rasanya sangat risih. Ada benda asing yang menempel di langit-langit mulut yang membuat saya merasa haus terus-menerus. Bahkan, saking risihnya, saya merasa kayak susah napas. Rasanya mulut ini penuh sesak.

Saya bahkan sempat mengeluh kepada keluarga di rumah. "Duh, kok malah enak pakai temptooth ya?" kata saya saat itu. Memang benar, pakai temptooth rakitan sendiri itu rasanya instan, langsung enak dipakai tanpa perlu adaptasi aneh-aneh. Sedangkan gigi palsu dari dokter ini menuntut perjuangan.

Masalah paling memalukan adalah saat berbicara. Dalam bahasa Jawa, saya mendadak jadi orang pelo (cadel). Suara saya jadi tidak jelas, kata-kata yang keluar terdengar lucu. Mau ngomong "mangan" atau "ngombe" saja rasanya lidah ini balapan dengan plat gigi palsu. Saya sempat merasa sangat tidak percaya diri untuk bicara, apalagi bikin konten.

Struktur Gigi yang "Gak Karuan"

Dokter gigi saya sempat berkomentar bahwa struktur gigi saya sudah agak "gak karuan". Mungkin ini akibat sisa-sisa gigi dobel yang copot paksa dan kebiasaan buruk saya selama bertahun-tahun. Kondisi ini membuat gigi palsu saya tidak bisa terlalu kokoh atau cekat dengan sendirinya di awal.

Dokter menyarankan saya untuk menggunakan Polident (perekat gigi tiruan) agar lebih stabil. Saya pun segera memesannya secara online. Paket perekat itu sebenarnya baru saja datang hari ini. Tapi anehnya, setelah melewati masa kritis 4 hari pertama, mulut saya mulai beradaptasi secara ajaib.

Memasuki hari keempat, rasa pelo itu mulai hilang. Bicara saya mulai normal kembali. Rasa mengganjal yang bikin haus dan sesak napas itu perlahan memudar. Bahkan, meskipun perekat yang saya beli sudah sampai, saya belum memakainya. Rasanya sekarang sudah jauh lebih enak dan lebih merekat secara alami dibanding saat pertama kali dipasang di klinik.

Penyesalan yang Menjadi Pelajaran

Sekarang, saya resmi menjadi pengguna gigi palsu profesional di usia 28 tahun. Meskipun sekarang sudah mulai terbiasa, tetap saja rasa "aslinya" tidak akan pernah bisa tergantikan. Untuk urusan minuman dingin, saya sudah mulai tahu diri. Meskipun godaan warung keluarga masih kuat, saya lebih sayang pada sisa gigi yang masih tersisa.

Pesan saya buat kalian sesama pecinta kuliner atau content creator: Jangan pernah sepelekan kesehatan gigi hanya demi totalitas konten atau sekadar memanjakan lidah. Jangan meniru aksi sok jagoan saya makan pentol mendidih atau mengunyah tulang bebek. Gigi permanen itu aset sekali seumur hidup. Sekali hilang, dia tidak akan tumbuh lagi kecuali kamu siap menghadapi drama pelo dan sesak napas saat mencoba gigi palsu baru.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan sekarang, saya harus puas merayakan sisa masa muda saya dengan senyum yang dirawat lebih ekstra. Jangan sampai kalian mengalami apa yang saya rasakan: kehilangan gigi asli gara-gara ego, konten, dan keinginan untuk selalu instan. Gigi palsu mungkin bisa mengembalikan fungsi kunyah, tapi ia tak akan pernah bisa menggantikan rasa kokohnya gigi asli pemberian Tuhan.

FAQ: Hal yang Sering Ditanyakan Mengenai Gigi Palsu & Perawatan Gigi

  • Apakah memakai gigi palsu di usia muda (20-an) itu memalukan? Sama sekali tidak. Kehilangan gigi bisa terjadi karena faktor genetik, kecelakaan, atau kebiasaan buruk di masa lalu. Menggunakan gigi palsu profesional justru menunjukkan bahwa Anda peduli pada kesehatan jangka panjang dan fungsi pengunyahan daripada menunda perawatan yang berisiko merusak gusi.

  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk terbiasa bicara normal dengan gigi palsu? Rata-rata dibutuhkan waktu 4 hingga 7 hari bagi lidah dan otot mulut untuk beradaptasi dengan plat gigi palsu. Pada hari-hari pertama, Anda mungkin akan merasa pelo (cadel) atau air liur berlebih, namun ini akan hilang seiring dengan latihan bicara secara rutin.

  • Apakah aman menggunakan temptooth atau gigi plastik DIY yang dibeli secara online? Sangat tidak disarankan untuk penggunaan jangka panjang. Plastik polimer DIY seringkali menjepit sisa gigi atau gusi terlalu kuat, menghalangi aliran darah, dan bisa menyebabkan infeksi atau membuat sisa gigi asli tercabut saat dilepas. Konsultasi ke dokter gigi adalah solusi paling aman dan tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...