Pernahkah Anda merasa seperti "anak tiri" di kota sendiri? Bagi saya, perasaan itu muncul setiap pagi. Tepat setelah shift malam berakhir dan kota mulai menggeliat, saya memulai ritual harian: berjalan kaki 3 kilometer menuju rumah. Bagi sebagian orang, jarak ini mungkin terdengar singkat. Namun, di tengah hutan beton yang tidak ramah, 3 kilometer adalah sebuah "medan gerilya" perkotaan . Niat hati ingin mencari udara pagi dan peregangan otot, realitanya saya justru terjebak dalam rasa frustrasi. Trotoar yang terputus proyek bangunan, jalur yang "dijajah" parkir motor liar, hingga lapak PKL permanen adalah makanan sehari-hari. Bahkan, tak jarang motor nekat naik ke trotoar demi menghindari macet, memaksa saya hampir melompat ke selokan demi keselamatan nyawa. Masalah trotoar bukan sekadar estetika kota, melainkan hak asasi warga . Artikel ini akan mengupas mengapa fasilitas pejalan kaki kita memprihatinkan dan bagaimana cara kita merebut kembali hak terseb...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."