Melawan Arus 'My Bini' Nasional: Mengapa Saya Lebih Bangga Memuja Saara Hazuki di Tengah Demam Freya dan Momona
Dunia digital hari ini adalah sebuah mesin raksasa yang bekerja tanpa henti untuk menyeragamkan isi kepala kita. Algoritma media sosial tidak sekadar menyarankan apa yang mungkin kita suka, ia mendikte apa yang harus kita suka agar kita tetap relevan dalam percakapan publik. Fenomena ini menciptakan sebuah gelombang "latah" massal yang seringkali melumat identitas pribadi. Di tengah riuhnya jutaan orang yang berebut meneriakkan nama yang sama, saya mendapati diri saya berdiri di pojok yang sunyi namun penuh kebanggaan, memegang erat dukungan saya untuk Saara Hazuki dari grup Jepang, Takane no Nadeshiko (Takaneko) . Ketidaktertarikan saya pada arus utama bukan karena saya anti-sosial, melainkan karena saya menolak untuk membiarkan tren menentukan apa yang harus menggetarkan hati saya. Invasi Visual: Fenomena Freya dan Netizen yang Kehilangan Filter Semuanya bermula dari layar YouTube yang tiba-tiba dibanjiri oleh satu wajah: Freya JKT48 . Awalnya, saya hanya melihatnya sebag...