Saya ini, kalau diibaratkan kue Lebaran, mungkin saya itu kue jahe di antara setumpuk nastar dan kastengel yang laris manis. Bukan tidak enak, tapi terlalu beradab, terlalu kompleks, dan terlalu jujur untuk selera pasar. Kue jahe adalah pernyataan, nastar hanya basa-basi. Begitulah kira-kira posisi saya sebagai penganut J-Music Garis Keras.
Kenapa? Jawabannya ada di playlist saya, yang secara kultural terasa seperti sebuah benteng pertahanan terakhir peradaban telinga yang dikepung oleh invasi barbar Dangdut Koplo dan Pop Indonesia yang liriknya selalu berkutat pada drama perselingkuhan yang tidak pernah selesai.
Saat teman-teman kantor, tetangga kosan, atau bahkan tukang parkir depan Indomaret asyik bergoyang menikmati beat Koplo yang candu abis (dengan sound kenceng dari speaker Bluetooth seukuran galon yang dibeli dari hasil menunggak cicilan pinjol), atau larut dalam melodi galau Pop Indonesia yang liriknya nampol di hati namun miskin substansi, saya malah asyik headbang (di dalam hati, tentu saja) mendengarkan musik Jepang. Mulai dari J-Pop yang catchy ala YOASOBI yang lirikalnya sangat filosofis, soundtrack anime lawas yang bikin nostalgia masa kecil yang lebih damai—sebelum kita tahu pahitnya cicilan rumah—sampai rock energik ala ONE OK ROCK yang membuat saya merasa sanggup mengangkat beban 100 kg di gym (padahal tidak).
Tolong jangan salah sangka, lho. Saya tidak anti-lokal. Saya menghargai Pop Indonesia, namun seringkali ia terasa seperti produk massal yang dibuat berdasarkan survei pasar: 90% galau, 10% semangat palsu. Dangdut? Ia adalah musik pesta yang tak terelakkan. Tapi jujur, rasa cinta dan kesetiaan abadi saya telah terpatri pada J-Music. Kenikmatannya itu lho, seperti menemukan artefak kuno yang memancarkan kebijaksanaan di pasar loak yang harganya murah tapi kualitasnya premium. J-Music menawarkan kerumitan melodi yang memaksa otak untuk berpikir, bukan hanya bergoyang tanpa arah.
Hegemoni Speaker Galon dan Teror Diskriminasi Audio
Pernah nggak sih, kamu merasa minoritas kultural di antara mayoritas yang selera musiknya seolah diatur oleh buzzer di media sosial? Nah, kira-kira begitulah rasanya jadi saya. Apalagi ketika kita dipaksa berada di satu ruang, di bawah hegemoni speaker galon yang menyuarakan lagu-lagu dengan bahasa yang "kita ngerti".
Inilah dilema kaum J-Music: Kami tahu kami memiliki selera yang lebih kompleks, namun kami harus menundukkan kepala demi ketenangan massal. Kalau orang lain bisa dengan santai menyambungkan speaker Bluetooth dan menyetel lagu 'Sayang' milik Via Vallen—sebuah lagu yang secara akademis telah terbukti membuat orang lebih cepat lapar dan ingin segera joget—saya harus melalui proses yang sangat traumatis.
Saya ini penganut teori: kebijaksanaan musikal pribadi tidak boleh mengganggu kebahagiaan massal yang dangkal, tetapi jangan sampai kebahagiaan massal itu merusak kesehatan mental saya.
Setiap mau share musik—misalnya saat saya kebagian slot muter lagu di kantor—saya harus melewati tahap yang disebut Protokol Keamanan Budaya Tingkat Tinggi yang terdiri dari beberapa mantra:
Cek Lingkungan dan Analisis Resiko: Apakah ada rekan kerja yang baru putus cinta dan berpotensi protes karena lirik Jepang terlalu puitis dan kurang nampol? Resikonya adalah degradasi status sosial dan dicap sok-sokan.
Lagu Pembuka/Penjinak Massa (The Universal Sacrifice): Wajib putar lagu Inggris dulu. Anggap saja sebagai 'penawar' sebelum 'racun' J-Music masuk. Ini adalah upaya terakhir untuk menunjukkan, "Oh, dia masih normal, kok. Selera musiknya universal (baca: standar dan aman)."
Filtrasi Ketat (Tingkat Elit Anime): Kalaupun nekat mau muter lagu Jepang, harus yang benar-benar terkenal dan punya konteks global. Minimal lagu yang jadi opening Attack on Titan yang sudah mendunia, atau soundtrack dari film Makoto Shinkai yang dianggap seni sinematik. Intinya, lagu yang orang bisa bilang, "Oh, ini lagu yang di anime itu ya?" sehingga ada pembenaran atas keberadaan bahasa asing.
Ini semua demi menghindari tatapan diskriminatif bercampur heran dari rekan kerja, yang seringkali diikuti pertanyaan retoris penuh judgement: "Lagi dengerin apa sih? Kok bahasanya aneh? Kayak lagi di Jepang." Ya ampun, rasanya malu sendiri, padahal musik Jepang itu sebuah mahakarya aransemen, bukan sekadar background noise untuk mengiris bawang.
Earphone: Manifesto Kultural dan Senjata Rahasia
Untungnya, saat ini saya punya Senjata Rahasia Penebusan Sosial yang menyelamatkan hidup: earphone atau headset. Benda ini bukan hanya alat pendengar, melainkan sebuah manifesto kultural—sebuah perisai isolasi yang membatasi dunia luar yang berisik dan dunia dalam yang penuh melodi.
Dengan dua benda keramat itu, saya bisa bebas dari kewajiban berbudaya mainstream. Saya bisa manggung solo di kursi kerja saya, berkaraoke lirih di transportasi umum, tanpa perlu khawatir ada yang terganggu dengan lirik bahasa non-Inggris yang aneh di telinga mereka. Mereka asyik dengan dunia mereka yang fana dan serba instan, saya asyik dengan J-Rock dan J-Pop saya yang abadi dan penuh effort.
Di dalam playlist tersembunyi itu, ada lagu-lagu legendaris yang membawa saya kembali ke masa nostalgia, seperti hampir semua lagu dari YUI. Vibe-nya itu lho, akustik, mellow, tapi tetap powerful. Kalau lagi bad mood atau butuh suntikan semangat, lagu 'Good-bye Days' atau 'Rolling Star' dari YUI sudah seperti penghargaan Nobel Kesusastraan bagi jiwa saya yang lelah.
Lalu, ada juga yang lebih fresh dan girly tapi tetap powerful—semisal Takane no Nadeshiko. Musik mereka itu lho, J-Pop idol yang melodinya manis banget tapi aransemennya nggak cengeng. Cocok buat mood booster sambil membayangkan diri jadi pemeran utama di drama slice of life. Atau HoneyWorks, yang lagu-lagunya selalu berhasil membangun narasi romansa remaja yang terlalu indah untuk terjadi di dunia nyata.
Tidak lupa, Aimer, dengan suara seraknya yang khas, yang mampu merangkai Ballad menjadi semacam ritual pemurnian dosa. Dan tentu saja, Radwimps, yang lagu-lagunya membuat Anda merasa seolah sedang berlari di padang rumput yang luas di bawah langit senja. Untuk kebutuhan cover yang berkualitas tinggi, ada Raon Lee, yang selalu berhasil menghidupkan kembali nostalgia soundtrack anime dengan vokalnya yang powerful, membuktikan bahwa telinga kita ini memang diciptakan untuk menikmati kerumitan.
Sambil sesekali menyisipkan kontribusi lokal yang patut diacungi jempol, seperti mendengarkan cover RayNiCH. RayNiCH, yang notabene dari Indonesia, justru berhasil menghadirkan vibe J-Rock yang otentik dan dark, membuktikan bahwa DNA J-Music itu sudah merasuk ke mana-mana, bahkan ke telinga orang Indonesia yang menolak kiblat Pop yang seragam. Mendengarkan mereka memberikan kepuasan tersendiri—merasa paling keren sedunia karena playlist saya tidak hanya berisi musisi dari Tokyo, tapi juga talenta lokal yang berjuang melawan arus mainstream dengan kiblat Jepang.
Kadang, keinginan untuk unjuk gigi dan share playlist saya itu besar sekali, lho. Ingin banget teriak, "Hey, coba deh dengerin 'Kaikai Kitan' dari EVE! Dijamin candu, jauh lebih berkelas dari semua lagu cinta lokal yang cuma laku di podcast!"
Tapi, ya sudahlah. Demi kedamaian telinga manusia di sekitar, biar saya saja yang menikmati playlist ini. Biar saya saja yang dianggap aneh, karena saya tahu keanehan saya ini jauh lebih keren daripada normalitas mereka. Paling banter, kalau ada yang bertanya kenapa pakai earphone terus, saya akan menjawab, "Lagi dengerin instruksi rahasia dari atasan di Tokyo. Ini penting untuk masa depan negara."
Minimal, dengan pakai earphone, saya nggak perlu repot-repot menyusun strategi pembukaan lagu setiap kali mau muter lagu. Cukup klik, dan saya sudah berada di tengah Tokyo yang sibuk, dikelilingi bunga sakura dan ramen hangat. Siapa peduli dengan Dangdut pantura? Saya sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi kiamat dengan melodi yang indah.
Ya, sudah, segitu saja dulu curhatan minoritas J-Music ini. Saya mau lanjut dengerin ending Kimi no Na wa dulu. Sssst, jangan berisik. Ini demi kelangsungan umat manusia.

Komentar