Langsung ke konten utama

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup.

​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal.

​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten.

​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagram bisa bikin satu grup WhatsApp nangis berjamaah—malah disuruh ikut olimpiade Matematika. Ini kan aneh tingkat dewa namanya. Ini bukan pendidikan, ini adalah pemaksaan yang cuma bikin anak-anak kita stres sebelum waktunya. Guru-guru ini seolah-olah sedang menganggap muridnya itu robot yang tinggal dipencet tombolnya lalu bisa berubah jadi apa saja.

​Obsesi Nilai Rata-Rata yang Menyakitkan
Akar masalah dari segala kekonyolan ini sebenarnya klasik: sistem pendidikan kita itu benci banget kalau ada anak yang cuma jago di satu bidang. Kita masih terjebak dalam pikiran lama bahwa murid yang pintar adalah mereka yang nilainya bagus di semua mata pelajaran. Saya sering gemas sendiri melihat guru yang masih meributkan nilai murid yang "cuma" pas-pasan di beberapa pelajaran, padahal di saat yang sama, si murid punya nilai sempurna di satu bidang yang dia sukai.

​Logika pendidikan kita itu anehnya minta ampun. Kalau ada anak dapet nilai 10 di Matematika tapi dapet 75 di Olahraga, yang dibahas pas pembagian rapor malah Olahraganya. Si anak disuruh les lah, disuruh latihan fisik tambahan lah, sampai-sampai si anak lupa kalau dia sebenarnya hebat di angka. Kita seperti memaksa seekor ikan untuk belajar lari di hutan hanya supaya dia dianggap "hewan yang seimbang".

​Dunia ini butuh orang yang ahli di bidangnya masing-masing, bukan robot yang bisa semua hal tapi nggak ada yang benar-benar dikuasai.

​Murid Cuma Jadi Pelengkap Formulir Sekolah
​Kekonyolan ini mencapai puncaknya ketika sekolah kekurangan peserta lomba. Di sinilah muncul logika maut dari pihak sekolah: "yang penting ada perwakilan." Seringkali, murid-murid yang "nggak enakan" atau yang kebetulan lewat di depan kantor guru dipaksa ikut lomba yang jelas-jelas bukan keahliannya. Murid-murid ini dijadikan tumbal hanya demi memenuhi kuota pendaftaran, supaya nama sekolah tetap ada di daftar peserta dan kepala sekolah nggak kena tegur atasan.

​Bukannya dibantu untuk menemukan apa yang sebenarnya mereka sukai, para murid ini malah dilempar ke "medan perang" tanpa persiapan. Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak: mereka kalah telak, pulang dengan perasaan malu, dan merasa dirinya bodoh. Padahal mereka nggak bodoh, mereka cuma dipaksa jadi ikan yang disuruh lomba manjat pohon kelapa melawan monyet.
Bolos sebagai Bentuk Protes yang Masuk Akal
​Melihat semua kekacauan di atas, saya secara sadar mendukung keputusan keponakan saya untuk bolos. Kadang, diam di rumah, tidur, atau sekadar bengong di teras jauh lebih bermanfaat daripada datang ke sekolah cuma untuk dipermalukan dalam bidang yang bukan keahlian kita.

​Kita harus berhenti memaksa anak untuk "keluar dari zona nyaman" kalau ujung-ujungnya cuma bikin mereka trauma. Keluar dari zona nyaman itu bagus, tapi kalau dipaksa masuk ke zona yang bikin gila, itu namanya penyiksaan.
​Bolos dalam konteks ini adalah sebuah protes terhadap sistem yang memaksa semua orang harus seragam. Jika sekolah sudah nggak mau lagi mendengarkan bakat unik muridnya, maka "mogok" sementara adalah cara paling jujur untuk berkata: "Maaf Pak, Bu, saya manusia, bukan mesin!"

​Pesan untuk Orang Tua
​Untuk para orang tua di luar sana, tolonglah, jangan langsung marah kalau anak Anda menolak perintah sekolah yang nggak nyambung sama bakatnya. Jangan biarkan bakat alami anak Anda luntur hanya karena tuntutan sekolah agar semua murid bisa segala hal secara rata-rata.

​Sekolah harusnya jadi tempat mengasah bakat yang spesifik, bukan pabrik yang memproduksi barang massal yang semuanya sama. Dunia ini butuh ahli matematika dan penulis cerita secara terpisah, bukan satu orang yang dipaksa bisa keduanya tapi hasilnya cuma setengah-setengah.


Lagian, perlu diingat kembali, Avatar Aang saja butuh waktu bertahun-tahun dan bimbingan banyak guru sakti buat menguasai semua elemen. Lah, ini keponakan saya disuruh jadi penulis cuma dalam semalam? Guru-guru kita ini memang kadang merasa lebih sakti daripada Raja Api Ozai.


​FAQ
​1. Mengapa sistem pendidikan dianggap mematikan bakat unik?
Karena obsesi terhadap nilai rata-rata yang menuntut semua murid unggul di segala bidang tanpa terkecuali.
​2. Apa dampaknya jika murid dipaksa ikut lomba yang tidak diminati?
Bisa merusak mental, menurunkan kepercayaan diri, dan membuat anak merasa dirinya "bodoh" di tempat yang salah.
​3. Apa solusinya?
Sekolah dan orang tua harus mendukung spesialisasi bakat anak, bukan memaksakan standar keseragaman yang kaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...