Melawan Arus 'My Bini' Nasional: Mengapa Saya Lebih Bangga Memuja Saara Hazuki di Tengah Demam Freya dan Momona
Dunia digital hari ini adalah sebuah mesin raksasa yang bekerja tanpa henti untuk menyeragamkan isi kepala kita. Algoritma media sosial tidak sekadar menyarankan apa yang mungkin kita suka, ia mendikte apa yang harus kita suka agar kita tetap relevan dalam percakapan publik. Fenomena ini menciptakan sebuah gelombang "latah" massal yang seringkali melumat identitas pribadi. Di tengah riuhnya jutaan orang yang berebut meneriakkan nama yang sama, saya mendapati diri saya berdiri di pojok yang sunyi namun penuh kebanggaan, memegang erat dukungan saya untuk Saara Hazuki dari grup Jepang, Takane no Nadeshiko (Takaneko).
Ketidaktertarikan saya pada arus utama bukan karena saya anti-sosial, melainkan karena saya menolak untuk membiarkan tren menentukan apa yang harus menggetarkan hati saya.
Invasi Visual: Fenomena Freya dan Netizen yang Kehilangan Filter
Semuanya bermula dari layar YouTube yang tiba-tiba dibanjiri oleh satu wajah: Freya JKT48. Awalnya, saya hanya melihatnya sebagai bagian dari dinamika budaya pop lokal. Namun, lama-kelamaan, frekuensinya menjadi tidak masuk akal. Konten-konten kreatif—yang seringkali berlebihan—mengedit sosoknya seolah-olah ia adalah pendamping hidup setiap penontonnya. Di kolom komentar, ribuan netizen yang entah dari mana asalnya, mendadak seragam meneriakkan narasi "My Bini," "Istriku," atau berebut klaim kepemilikan seolah-olah mereka sedang dalam sebuah sayembara massal.
Keheranan saya memuncak saat melihat seorang teman di dunia nyata menjadikan wajah Freya sebagai wallpaper PC-nya. Di sana saya menyadari bahwa popularitas bukan lagi sekadar apresiasi terhadap karya, melainkan sebuah bentuk obsesi yang menular. Banyak orang tidak benar-benar ngefans karena mereka memahami perjalanan sang idol; mereka ngefans karena "semua orang sedang ngefans dia." Menjadi bagian dari massa yang memuja Freya terasa seperti tiket instan untuk dianggap "nyambung" atau "asik" dalam pergaulan digital. Namun bagi saya, keseragaman itu justru terasa menakutkan. Mengapa kita harus menjadi replika satu sama lain dalam hal selera?
Di Dalam Fandom Pun Ada Kasta Popularitas: Kasus Momona vs. Saara
Keunikan selera saya tidak berhenti pada penolakan terhadap tren lokal. Bahkan ketika saya masuk ke dalam dunia yang lebih spesifik—fandom Takaneko—saya kembali menemukan pola "ikut-ikutan" yang serupa. Di dalam Takaneko, mata dunia digital seolah terpaku pada satu titik: Momona Matsumuri.
Dengan pengikut yang hampir menyentuh angka 500 ribu, Momona adalah "Freya-nya Takaneko". Dia adalah magnet utama, wajah yang paling sering muncul di timeline, dan sosok yang paling banyak dipuja oleh mereka yang menyukai Takaneko. Sementara itu, di sudut lain, ada Saara Hazuki. Dengan jumlah pengikut yang "hanya" belasan ribu, Saara seringkali luput dari pandangan massa. Di grup-grup diskusi dunia maya, suara penggemar Saara terkubur oleh hiruk-pikuk pujian untuk Momona.
Di sinilah ujian orisinalitas itu terjadi. Banyak orang yang awalnya menyukai Takaneko akhirnya "menyerah" pada arus besar dan memilih ngefans pada Momona karena alasan yang sama dengan para pemuja Freya: agar punya banyak teman bicara, agar kontennya banyak yang menyukai, atau agar merasa berada di pihak yang "menang". Namun bagi saya, angka di profil Instagram bukanlah indikator kualitas dari sebuah koneksi antara idol dan penggemarnya.
Saara Hazuki: Sebuah Pilihan yang Jujur
Mengapa saya tetap memilih Saara Hazuki di tengah gempuran angka ratusan ribu pengikut Momona dan jutaan penyebutan nama Freya? Jawabannya sederhana: Otentisitas.
Ngefans kepada Saara Hazuki adalah sebuah tindakan pemberontakan kecil terhadap algoritma. Saya tidak menyukainya karena dia viral. Saya menyukainya karena karakteristiknya yang khas, vokal lembutnya yang memberikan warna berbeda dalam harmoni Takaneko, dan ketangguhannya di panggung meskipun ia bukan sosok yang paling "berisik" di media sosial. Ada kepuasan batin yang luar biasa ketika kita bisa menghargai sesuatu yang tidak dilihat oleh orang banyak.
Menjadi satu dari belasan ribu orang yang mendukung Saara terasa jauh lebih berharga daripada menjadi satu dari jutaan orang yang berteriak "My Bini" di kolom komentar Freya. Di sana ada eksklusivitas rasa; sebuah pemahaman bahwa selera saya tidak dibentuk oleh apa yang disuapkan oleh YouTube atau TikTok, melainkan oleh apa yang benar-benar menyentuh logika dan estetika saya secara mandiri.
Psikologi "Latah" dan Matinya Kemandirian Berpikir
Fenomena netizen yang berebut memuja satu sosok ikonik sebenarnya mencerminkan haus-nya masyarakat kita akan validasi kelompok. Ketika seseorang ikut-ikutan ngefans pada apa yang viral, dia sebenarnya sedang membeli "rasa aman". Dia merasa aman karena seleranya sama dengan orang lain, sehingga dia tidak perlu repot-repot menjelaskan mengapa dia menyukai hal tersebut.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal: matinya kemandirian berpikir. Kita menjadi masyarakat yang hanya bisa bergerak searah dengan angin tren. Jika besok algoritma memutuskan bahwa sosok lain yang harus viral, maka massa yang sama akan berpindah ke sana dengan kecepatan cahaya, meninggalkan idol sebelumnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ini adalah bentuk cinta yang dangkal, cinta yang hanya berdasarkan pada "siapa yang paling ramai dibicarakan."
Saya menolak untuk menjadi bagian dari massa yang tak berpikir itu. Saya bangga menjadi orang yang "tidak nyambung" di tongkrongan digital saat mereka membahas Freya. Saya bangga tetap setia pada Saara Hazuki saat mayoritas fans Takaneko hanya membicarakan Momona. Bagi saya, memiliki selera yang berbeda bukan berarti saya merasa lebih hebat, tapi itu adalah bukti bahwa saya masih memiliki kendali atas diri saya sendiri.
Menghargai yang Niche di Dunia yang Mengagungkan yang Masif
Dunia ini akan menjadi tempat yang sangat membosankan jika kita semua memiliki wallpaper PC yang sama. Keindahan seni dan budaya pop justru terletak pada keragamannya. Jika semua orang hanya melihat pada yang memiliki pengikut jutaan, maka bakat-bakat luar biasa seperti Saara Hazuki tidak akan pernah mendapatkan tempat untuk bersinar.
Dukungan saya untuk Saara adalah pengingat bagi diri saya sendiri bahwa kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan kuantitas. Belasan ribu pengikut Saara adalah individu-individu yang mungkin, seperti saya, memiliki filter yang kuat terhadap tren. Kami adalah orang-orang yang memilih untuk melihat lebih dalam daripada sekadar apa yang muncul di permukaan Explore Instagram.
Kesimpulan: Kemenangan dalam Menjadi Diri Sendiri
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa cepat kita mengikuti arus atau seberapa keras kita berteriak di tengah kerumunan yang seragam. Pertempuran sesungguhnya terjadi di dua front: antara raga kita melawan tuntutan hidup, dan antara logika kita melawan dikte algoritma.
Sama seperti keputusan saya untuk tetap mandi di rumah jam 11 siang demi menjaga martabat dan tandon air di FH, pilihan saya untuk mendukung Saara Hazuki di tengah demam Freya atau Momona adalah sebuah pernyataan sikap. Saya menolak menjadi replika. Saya memilih untuk tetap otentik, meski itu berarti saya harus berjalan kaki lebih jauh, pulang lebih siang, dan menyukai sosok yang tidak banyak dibicarakan orang di tongkrongan digital.
Menjadi berbeda itu memang melelahkan, tapi di sanalah letak kemewahannya. Ada kepuasan batin saat kita tahu bahwa langkah kaki kita—dan getaran hati kita—tidak dikendalikan oleh apa yang sedang trending, melainkan oleh prinsip dan rasa yang kita bangun sendiri secara mandiri.
Sedikit Bahan Bakar untuk Perjuangan Ini
Menulis di blog yang belum terjamah Adsense rasanya mirip dengan mendukung Saara Hazuki di tengah riuhnya pemuja Freya: sebuah perjuangan sunyi yang dilakukan atas dasar kejujuran, bukan demi angka semata. Di dunia yang serba diatur oleh iklan dan tren massal, mempertahankan kemandirian berpikir lewat tulisan tentu membutuhkan "bahan bakar" yang nyata.
Jika tulisan ini berhasil menyentuh logika atau estetika mandirimu, dan kamu ingin memberikan apresiasi agar saya tetap bisa konsisten berdiri di pojok yang sunyi namun berisik ini, saya membuka ruang untuk dukungan sukarela (saweran).
Setiap rupiah yang kamu berikan adalah bentuk pemberontakan kita bersama terhadap dominasi arus utama. Silakan pilih ke mana dukunganmu ingin dilabuhkan:
🐈 https://saweria.co/hambaz – Bantu saya menyediakan makanan dan obat-obatan untuk kucing jalanan yang membutuhkan. Aktivitas bantuan ini akan saya publikasikan di YouTube: (615) dexpe land - YouTube.
💻 https://sociabuzz.com/hamdanbasofi/tribe– Dukung saya agar tetap konsisten berkarya dan mengelola blog ini.
🐈 https://saweria.co/hambaz – Bantu saya menyediakan makanan dan obat-obatan untuk kucing jalanan yang membutuhkan. Aktivitas bantuan ini akan saya publikasikan di YouTube: (615) dexpe land - YouTube.
💻 https://sociabuzz.com/hamdanbasofi/tribe– Dukung saya agar tetap konsisten berkarya dan mengelola blog ini.
Sekecil apa pun dukunganmu—entah untuk keberlanjutan blog ini atau untuk perut kucing yang lapar—akan sangat saya hargai. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Komentar