Langsung ke konten utama

Baby Sitter!! Bukan Baby Sister!! Stop sok inggris!!


 

Beberapa hari lalu jam 10 pagi, matahari sudah mulai terasa menyengat di ufuk timur. Saya baru saja selesai menuntaskan tugas rutin memberi makan ayam di belakang rumah—sebuah aktivitas yang jauh dari hiruk-pikuk istilah asing. Setelah tangan bersih, saya memutuskan untuk rehat sejenak. Sofa di ruang tamu menjadi sasaran empuk untuk meluruskan kaki sambil scrolling YouTube, mencari ketenangan di sela waktu istirahat.

Namun, kedamaian pasca-ngurus ayam itu mendadak buyar karena sebuah dialog dari balik jendela. Tetangga lewat, ngerumpi dengan suara nyaring, dan meluncurlah istilah maut yang legendaris itu: "Baby Sister." Seketika, jempol saya berhenti scrolling. Dalam hati saya langsung membatin, "Wah, muncul lagi nih istilah 'saudara bayi', wkwkwk!" Rasanya ingin tertawa, tapi ada rasa kesal yang juga ikut menyelinap.

Fenomena "Saudara Kandung" Bayi yang Salah Kaprah

Sejak kapan pengasuh bayi secara otomatis berubah profesi menjadi saudara kandung si bayi? Padahal yang mereka maksud sudah pasti adalah Baby Sitter (penunggu/pengasuh bayi). Namun, entah kekuatan magis apa yang merasuki lidah warga kita, hingga istilah tersebut mengalami mutasi hubungan kekeluargaan yang begitu ajaib.

Kejadian pagi itu jujur saja membuat level kekesalan saya naik satu tingkat. Masalahnya, ini bukan pertama kalinya saya menyaksikan "kecelakaan" linguistik seperti ini. Sudah lama sebenarnya saya mengamati fenomena ini, baik di dunia nyata lewat obrolan pasar, maupun di dunia online. Dari zaman Facebook hingga era TikTok, istilah Baby Sister bertebaran layaknya jamur di musim hujan. Awalnya saya coba maklum, tapi kalau sudah bertahun-tahun dan polanya tetap sama, ini bukan lagi soal khilaf, melainkan simbol kegagalan literasi yang dipelihara secara kolektif.

Obsesi Hanger dan Gengsi Jemuran

Masalah "saudara perempuan bayi" ini ternyata baru menu pembuka. Hampir setiap pagi, telinga saya juga "disiksa" dengan teriakan istilah "Hanger." Setiap kali urusan menjemur baju dimulai, kata itu melesat dengan penuh keyakinan. Ada yang menyebutnya 'henger', ada yang 'heng-er', pokoknya harus terdengar kebarat-baratan.

Padahal, kita punya kosakata yang sangat paten, jelas, dan membumi: Gantungan Baju. Simpel dan tanpa risiko salah ucap. Tapi entah kenapa, bagi sebagian orang, menyebut "gantungan" seolah-olah menurunkan kasta sosial mereka. Apakah martabat daster yang basah akan naik derajatnya jika digantung di sebuah "hanger" ketimbang di sebuah "gantungan"? Saya rasa tidak. Saya yang paham sedikit-sedikit bahasa Inggris saja malah merasa risih. Ke keluarga sendiri, saya sering meluncurkan protes tanpa basa-basi: "Kenapa sih nggak bilang gantungan aja? Kok sok Inggris banget?"

Daftar Hitam Salah Kaprah yang Mendarah Daging

Jika kita mau membedah lebih dalam, Baby Sister dan Hanger hanyalah puncak gunung es dari lautan salah kaprah lainnya yang sering kita temui sehari-hari:

​1. Brake vs Breket (Bracket)

​Ini adalah salah kaprah yang sering terjadi di dunia otomotif atau bengkel. Banyak orang bilang, "Remnya pakai breket apa?" atau bahkan menggunakan kata breket untuk merujuk pada aktivitas mengerem. Mari kita luruskan: Brake (dibaca: breik) artinya Rem. Sedangkan Bracket (dibaca: bræ-kit) artinya Penyangga atau siku-siku besi. Jadi, kalau Anda bilang "nge-breket", secara teknis Anda sedang melakukan aktivitas penyanggaan, bukan menghentikan laju kendaraan.

​2. Steak vs Stik (Stick)

​Di warung-warung makan, seringkali kita melihat menu tertulis "Stik Ayam" atau "Stik Daging". Secara bunyi (fonetik), Steak memang dibaca mirip 'stik'. Namun secara penulisan, Stick berarti tongkat, kayu, atau lidi. Jadi, kalau Anda menulis "Makan stik", secara harfiah Anda sedang mengajak orang untuk mengunyah potongan kayu, bukan daging panggang yang lezat.

​3. Salah Fungsi Kata "Keep"

​Di dunia Online Shop, kata Keep sudah mengalami pergeseran makna yang luar biasa. Pembeli sering bilang, "Sist, keep baju yang ini ya!" Padahal, makna asli Keep adalah menyimpan atau menjaga. Dalam bahasa Inggris yang benar, kalau mau memesan barang, harusnya menggunakan kata Book atau Reserve. Tapi ya itulah, gengsi pakai istilah Inggris seringkali mengalahkan ketepatan maknanya.

​4. Join dan "Nge-join"

​Istilah ini paling sering dipakai di grup WhatsApp atau komunitas. "Nanti aku nge-join ya!". Mencampur adukkan kata kerja bahasa Inggris (Join) dengan imbuhan bahasa Indonesia (Nge-) adalah bentuk hibrida bahasa yang sebenarnya sangat berantakan. Mengapa tidak bilang "Ikutan" atau "Bergabung" saja? Jauh lebih enak didengar dan tidak terkesan dipaksakan.

Darurat Literasi di Balik Gengsi Linguistik

Semua ini bermuara pada satu masalah besar: rendahnya minat literasi. Kita terlalu sering menjadi "penelan" informasi tanpa pernah menjadi "penyaring". Kita bangga meniru apa yang tren tanpa peduli apakah itu benar. Padahal, di era informasi yang sudah digenggam tangan ini, mengecek perbedaan antara Sister dan Sitter hanya butuh waktu lima detik di mesin pencari.

Fenomena "Keminggris" ini adalah bukti nyata kalau gengsi kadang memang lebih besar daripada fungsi. Satu orang salah sebut, satu lingkungan ikut-ikutan sampai kesalahan itu dianggap sebagai kebenaran umum yang hakiki. Kita seolah-olah takut dicap "ndeso" kalau menggunakan bahasa ibu, padahal menggunakan bahasa asing secara asal-asalan justru menunjukkan kualitas literasi kita yang sebenarnya.

Mari Kembali ke Akar: Benar Itu Lebih Keren daripada Sok Keren

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk mulai lebih peduli pada apa yang kita ucapkan. Tidak ada salahnya belajar bahasa asing, itu bagus sekali! Tapi, pelajarilah dengan benar. Jangan hanya mengambil "kulit" kerennya saja tanpa memahami isinya. Literasi bukan hanya soal bisa membaca tulisan, tapi soal memahami makna di balik kata-kata tersebut.

Jika memang ragu dengan pelafalan atau arti suatu kata asing, jangan malu untuk kembali ke bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak akan mengurangi kecerdasan atau status sosial kita sedikit pun. Malah, itu menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang percaya diri.

Hasil dari kejadian jam 10 pagi tadi akhirnya menyadarkan saya: niatnya mau istirahat habis kasih makan ayam, malah dapat bahan tulisan karena batin yang meronta. Mari kita kurangi penggunaan istilah yang dipaksakan. Daripada maksa pakai bahasa Inggris tapi ujung-ujungnya malah menciptakan "saudara perempuan bayi" di jemuran, mending kita balik lagi ke istilah "gantungan" dan "pengasuh". Lebih akrab di telinga, lebih jelas maknanya.


Terima kasih sudah membaca! Jika kamu ingin memberikan apresiasi, saya menyediakan dua pintu dukungan:

Dukunganmu sangat berarti bagi kami semua!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...