Dunia farming house adalah sebuah ekosistem yang unik, sekaligus melelahkan secara mental. Bayangkan sebuah tempat di mana orang-orang berkumpul untuk mencari nafkah melalui dunia virtual, beradu mekanik melawan bos-bos raksasa, mengejar target Gold jutaan per minggu, namun di sisi lain, banyak yang "cacat mekanik" dalam urusan paling dasar dalam kehidupan manusia: menjaga kebersihan.
Saya telah menghabiskan dua tahun terakhir sebagai penghuni tetap di sini. Jadwal saya tetap dan nyaris tanpa celah: dari habis Isya hingga jam 7 pagi, setiap hari. Libur hanya menjadi opsi jika tubuh saya benar-benar tumbang oleh penyakit atau ada urusan darurat yang tidak bisa ditunda. Secara teknis, saya adalah "penjaga malam" sekaligus farmer garis keras. Namun secara praktis, peran saya dan satu rekan saya, sebut saja Si S, telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh dari sekadar pemain game. Kami berdua telah menjadi benteng terakhir yang menjaga agar farming house ini tidak berubah menjadi tempat pembuangan akhir.
Si S dan Beban Mandat yang Tak Berkesudahan
Beberapa hari yang lalu, Si S bercerita kepada saya dengan nada yang dipenuhi rasa frustrasi. Si S adalah tipe orang yang sering menginap, bisa 3 sampai 4 hari berturut-turut tanpa pulang. Dia terjebak dalam dilema yang klasik bagi orang-orang "nggak enakan". Suatu ketika, dia merasa kejengkelannya sudah mencapai ubun-ubun melihat kelakuan rekan kerja lain yang seenaknya sendiri. Gelas kotor ditinggalkan begitu saja di atas meja PC, piring ditumpuk di dapur hingga sisa makanan mengering dan mengundang koloni semut, seolah-olah mereka mengharapkan ada peri keajaiban yang akan mencucinya di tengah malam.
Si S merasa memiliki tanggung jawab moral karena dia yang paling sering berada di sana. Dia takut jika owner datang tiba-tiba dan melihat tempat kerja ini sudah seperti kandang. Karena tidak berani menegur langsung (karena penyakit "nggak enakan" tadi), dia memilih jalur pasif-agresif yang sangat modern: membuat status WhatsApp. Dia berharap mereka yang merasa bersalah akan sadar diri.
Namun, dunia tidak seindah itu. Alih-alih rekan kerja yang sadar, justru owner yang melihat status tersebut. Owner pun memintanya untuk menegur yang lain secara langsung. Di sinilah letak tragedinya: Si S tetap tidak berani. Dia akhirnya memohon kepada owner untuk yang turun tangan sendiri.
Peran Si S bermula dari sebuah mandat sederhana. Dahulu, ia dipercaya oleh pemilik (owner) untuk bertanggung jawab atas pencahayaan. Itulah alasan mengapa ia menjadi sosok yang paling rajin menyalakan dan mematikan lampu di seluruh area farming house, termasuk di lantai atas yang merupakan area pribadi pemilik yang jarang dihuni.
Seluruh gerak-gerik Si S didasari oleh rasa tanggung jawab tersebut. Ia menyapu halaman, menata piring dari pengering ke rak, hingga terkadang mencuci gelas milik teman-temannya yang sering menunda pekerjaan. Ia melakukan itu semua karena merasa "dititipkan" tempat ini.
Namun, ada dualitas menarik dalam sikapnya. Meski terlihat sangat berdedikasi, ia pernah berujar saat kami berdebat soal kewajiban menjaga kebersihan: “Ini bukan rumahku, jadi aku tidak punya kewajiban untuk membersihkannya.” Tampaknya, bagi Si S, tindakannya bukanlah bentuk kepemilikan, melainkan murni penghormatan terhadap amanah yang pernah ia terima.
Karakter Personal: Mengapa Saya Berbeda dengan Si S
Jika Si S bergerak karena mandat dan rasa tidak enak, alasan saya jauh lebih fundamental dan mungkin sedikit melelahkan bagi diri saya sendiri: Saya memang tipe orang yang tidak bisa melihat kotoran sedikit pun.
Bagi saya, kebersihan bukan soal mandat dari owner atau karena ada orang lain yang melihat. Kebersihan adalah kebutuhan untuk ketenangan pikiran. Saya tidak bisa fokus mengejar target Gold jika di bawah kaki saya ada debu, atau jika di sudut mata saya terlihat wastafel yang berlendir. Maka, tanpa perlu disuruh, saya mengambil peran sebagai "Menteri Kebersihan" di jam malam saya.
Setiap hari, ritual saya bukan hanya menyalakan PC dan masuk ke Arkesia. Saya menyapu teras depan agar siapapun yang datang merasa tempat ini terurus. Saya menyapu seluruh ruangan farming, kamar tidur yang sering dipakai bergantian, hingga ke area dapur. Saya bahkan memiliki sistem manajemen sampah sendiri: sampah saya kumpulkan dan saya bakar setiap hari. Untuk sampah rongsok, saya kumpulkan dengan rapi, lalu saya minta adik saya yang juga bekerja di sini untuk membawanya pulang agar bisa dimanfaatkan.
Dapur adalah medan perang utama saya. Saya tidak hanya mencuci piring atau gelas yang berserakan. Saya menyikat wastafelnya, membuang sisa-sisa makanan yang biasanya dibiarkan membusuk oleh rekan kerja lain, membersihkan kompor dari noda minyak dan cipratan masakan, hingga mengelap meja dapur sampai benar-benar bersih. Kamar mandi pun tidak luput dari perhatian saya; saya membersihkannya beberapa kali seminggu agar tetap layak pakai dan tidak berbau.
Bahkan di area PC, tempat yang paling sering diabaikan, saya melakukan pembersihan menyeluruh. Saya melakukan "kebus-kebus" (membersihkan debu) tidak hanya di permukaan meja, tapi sampai ke bagian-bagian sulit yang jarang dijangkau tangan manusia—celah-celah kabel, belakang monitor, hingga sela-sela perangkat yang biasanya menjadi sarang debu tebal. Jika Si S ketiduran, saya jugalah yang memastikan mandat lampunya tetap berjalan dengan baik.
Kejenuhan dalam "Perang" Sendirian
Jujur saja, belakangan ini saya mulai mencapai titik jenuh yang luar biasa. Rasa lelah saya bukan hanya karena kurang tidur atau tekanan target di dalam game, melainkan karena perasaan bahwa saya berjuang sendirian menjaga kewarasan tempat ini. Saya merasa terjebak dalam rutinitas membersihkan kekacauan yang dibuat oleh belasan orang lain, sementara saya tidak melihat satu pun dari mereka yang memiliki inisiatif serupa.
Kekesalan saya sebenarnya bukan kepada individu tertentu secara personal, melainkan kepada sikap apatis massa. Rasanya tidak adil ketika belasan orang menikmati fasilitas yang sama, namun membiarkan beban kebersihan fisik—seperti menyikat wastafel yang berkerak, menyapu tiap sudut ruangan, atau mengurus sampah yang menumpuk—hanya bertumpu pada pundak saya.
Bahkan ketika ada rekan lain seperti Si S yang rajin menjalankan tugas spesifiknya (seperti menjaga penerangan), tetap saja porsi kerja untuk menjaga kebersihan gedung ini terasa timpang karena hanya saya yang turun tangan langsung. Saya merasa seperti memikul beban kebersihan seluruh gedung ini sendirian, sementara yang lain hanya melihat kotoran itu tanpa pernah tergerak untuk membantu mengeksekusinya.
Titik Balik: Saat Gerutu Berganti Janji
Namun, ada sebuah kejadian yang baru-baru ini mengubah total suasana hati saya. Saat saya bersiap-siap untuk berangkat kerja malam, adik saya yang bekerja di shift siang menceritakan sesuatu yang membuat hati saya terasa ringan. Ia bercerita bahwa Si S mulai mengambil tindakan nyata yang lebih berani; ia mengajak rekan-rekan kerja yang lain untuk mengepel lantai bersama-sama.
Mendengar kabar itu, saya merasa sangat senang. Ternyata, saya tidak lagi sendirian dalam urusan kebersihan ini. Kabar dari adik saya menjadi titik balik yang luar biasa bagi mental saya. Saya menyadari bahwa perubahan positif mulai terjadi, dan itu menghapus semua kejengkelan yang selama ini saya simpan rapat-rapat.
Malam itu, saya berangkat dengan energi yang berbeda. Saya berjanji pada diri sendiri: jika saatnya saya bersih-bersih, saya tidak akan mengeluh lagi. Gerutu yang biasanya menemani setiap ayunan sapu kini telah hilang. Saya justru semakin semangat untuk menyapu seluruh ruangan. Saya membersihkan area PC hingga ke bagian yang paling sulit terjangkau—celah-celah kabel, belakang monitor, hingga sela-sela perangkat yang biasanya menjadi sarang debu tebal. Kamar mandi saya bersihkan dengan lebih giat, dapur saya tata kembali, dan semua gelas kotor saya sikat tanpa ada sisa gerutu sedikit pun di dalam hati. Rasa dongkol itu hilang, berganti dengan perasaan puas melihat tempat kerja menjadi bersih karena mulai ada kesadaran kolektif.
Ke depannya, saya bahkan sudah berencana untuk membersihkan kaca-kaca jendela yang sudah lama tidak dilap. Saya ingin melihat cahaya matahari pagi menembus kaca yang bening, bukan kaca yang buram oleh debu bertahun-tahun.
Paradoks "Tamu" di Rumah Sendiri
Keresahan terbesar saya dan Si S adalah melihat bagaimana rekan kerja lain memposisikan diri mereka di farming house ini. Mereka bertingkah seperti tamu hotel, bukan seperti orang yang sedang bekerja di tempat yang sama setiap hari.
Ada sebuah mentalitas yang aneh: "Selama ada yang membersihkan, kenapa saya harus repot?" Mereka bisa meninggalkan gelas bekas kopi atau teh begitu saja di meja PC selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Mereka melihat wastafel penuh sisa makanan seolah-olah itu adalah pemandangan alam yang normal. Mereka tidak peduli jika meja dapur berminyak, karena bagi mereka, meja itu hanya tempat untuk meletakkan piring, bukan bagian dari lingkungan hidup mereka.
Mereka gagal memahami bahwa kebersihan tempat kerja berpengaruh langsung pada produktivitas. Bagaimana bisa kamu melakukan raid tingkat tinggi dengan presisi jika di sekelilingmu aroma sisa makanan basi mulai menusuk hidung? Bagaimana bisa kamu fokus melihat layar jika debu di mejamu sudah cukup tebal untuk ditulis dengan jari?
Perjuangan yang Tidak Terlihat (dan Tidak Terbayar)
Saya akui, ada sisi dari diri saya yang berharap upaya ini membuahkan sesuatu yang lebih. Selain sekadar curhat, saya mencoba menuangkan semua keresahan ini ke dalam artikel. Harapan saya sederhana: selain untuk menyentil mereka, saya juga berharap bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui Adsense. Namun, kenyataan seringkali pahit. Pengajuan Adsense saya ditolak berulang kali. Saya mencoba peruntungan dengan menaruh tautan donasi di Saweria, berharap ada sesama farmer atau pembaca yang bersimpati dengan nasib "penjaga kebersihan" di malam hari ini, namun hasilnya pun nihil.
Ini menciptakan rasa lelah yang berlapis. Lelah karena farming hingga pagi, lelah karena harus membersihkan kekacauan orang lain tanpa dibayar, dan lelah karena upaya kreatif untuk mendokumentasikan keresahan ini pun belum membuahkan hasil finansial. Namun, kembali lagi ke karakter saya: meski kecewa, saya tetap tidak bisa berhenti menyapu. Saya tetap tidak bisa membiarkan wastafel itu kotor. Karena pada akhirnya, saya melakukannya untuk diri saya sendiri—agar saya tidak gila tinggal di lingkungan yang kumuh.
Pesan untuk Rekan-Rekan "Pasukan Semut"
Melalui tulisan panjang ini, saya ingin menyampaikan pesan kepada rekan-rekan kerja saya, baik yang di sini maupun di luar sana yang memiliki kelakuan serupa. Kami, saya dan Si S, bukanlah pelayan kalian. Si S menjaga lampu karena dia menghargai kepercayaan owner. Saya membersihkan dapur dan area PC karena saya menghargai diri saya sendiri dan kenyamanan bekerja.
Jika kalian bisa mengingat mekanik bos yang rumit, menghafal urutan skill dengan presisi, dan menghitung setiap Gold yang masuk ke kantong, seharusnya kalian juga punya cukup memori otak untuk mengingat cara mencuci piring dan cara membuang sisa makanan ke tempat sampah. Jangan jadikan status "junior" atau "senior" sebagai alasan untuk abai pada kebersihan dasar.
Kebersihan itu bukan soal siapa yang punya rumah, tapi soal siapa yang punya harga diri. Apakah harga diri kalian lebih murah daripada sepiring sisa makanan yang dikerubuti semut?
Penutup: Menjaga Peradaban di Balik Layar
Pada akhirnya, saya dan Si S akan tetap menjadi dua pilar utama di farming house ini. Si S dengan mandat lampunya, dan saya dengan sapu serta kain lap saya. Kami akan terus menjaga agar tempat ini tetap layak disebut kantor, bukan gudang berantakan.
Dua tahun sudah saya bertahan dengan rutinitas ini. Dari menyapu teras saat matahari sudah mulai tenggelam, hingga membersihkan area PC saat fajar menyingsing di jam 7 pagi. Mungkin suatu saat nanti, rekan-rekan lain akan sadar. Atau mungkin, artikel saya suatu saat akan diterima Adsense. Namun sebelum hari itu tiba, saya akan kembali ke wastafel itu, menyikatnya lagi, dan memastikan bahwa setidaknya di jam operasional saya, tidak ada satu pun semut yang berani berpesta di atas sisa ketidaksadaran orang lain.
Terima kasih sudah membaca! Jika kamu ingin memberikan apresiasi, saya menyediakan dua pintu dukungan:
🐈 https://saweria.co/hambaz – Bantu saya menyediakan makanan dan obat-obatan untuk kucing jalanan yang membutuhkan. Aktivitas bantuan ini akan saya publikasikan di YouTube: Dexpe Land Green Farm.
💻 https://sociabuzz.com/hamdanbasofi/tribe– Dukung saya agar tetap konsisten berkarya dan mengelola blog ini.
Dukunganmu sangat berarti bagi kami semua!

Komentar