Langsung ke konten utama

Menghapus Watermark InShot adalah Tiket Neraka, Isinya Pinjol dan Godaan Video Call

 

Saya akui, saya ini penganut ekonomi pas-pasan. Alias, kaum jelata yang mati-matian menghindari paket premium, termasuk langganan InShot Pro. Ya gimana, uangnya mending buat beli kuota, daripada buat menghilangkan watermark yang bisa diakali dengan menonton satu video iklan doang.

Tapi, harga yang harus saya bayar untuk menjadi pengguna gratisan ini sungguh tak manusiawi. Menghapus watermark di InShot (atau editor video gratisan mana pun) ibaratnya membuka portal dimensi lain yang isinya hanya dua hal: Iblis Pinjol dan Cewek-Cewek Kurang Bahan.

Sumpah, ini bikin emosi.

Drama Iklan Pinjol, Bikin Gengsi Auto Naik

Keresahan ini bermula dari niat suci ingin mengunggah video ke YouTube. Saya klik tombol “Hapus Watermark”, dan bersiaplah menyambut iklan. Ekspektasi saya, paling tidak iklan kopi sachet atau deterjen, yang setidaknya masih ada relevansinya dengan kehidupan rumah tangga saya (walaupun saya belum berkeluarga).

Realitanya? Iklan Pinjol, kawan. Pinjaman Online.

Muncul dengan jingle riang gembira dan janji-janji surga yang seharusnya cuma diucapkan oleh malaikat. Katanya, tanpa bunga. Katanya, cair cepat seperti air keran bocor. Katanya, limit tak terbatas, seolah uang itu tinggal dipetik di pohon.

Saya ini termasuk manusia yang alergi utang. Prinsip saya sederhana: kalau bisa bayar tunai hari ini, kenapa harus dibayar pakai rasa waswas tiga bulan ke depan? Utang itu opsi terakhir, opsi yang hanya boleh diambil kalau Anda benar-benar mau beli beras buat perut, bukan buat beli sneakers baru demi memenuhi tuntutan gengsi di Instagram.

Melihat iklan pinjol yang agresif dan menggebu-gebu itu, rasanya seperti dilecehkan secara finansial. Mereka seolah berteriak, “Hei, miskin! Kami tahu dompetmu kosong! Ambil ini, ayo berutang, demi apa pun yang sedang tren!”

Padahal, saya cuma mau hapus watermark demi kemaslahatan video 720p saya. Bukannya dapat ketenangan, malah dapat tekanan mental untuk segera jadi budak cicilan. Kampret.

Godaan Video Call dan Rasa Malu yang Tak Tergantikan

Jika iklan pinjol adalah pelecehan finansial, maka iklan kedua ini adalah pelecehan sosial, bahkan pelecehan pendengaran.

Ini tentang iklan aplikasi live video call yang (maaf kata) isinya cuma pameran aurat. Iklan tersebut menampilkan cewek-cewek cantik dengan pakaian minimalis, menggoda, menunjuk-nunjuk badan, dan berjoget dengan ekspresi yang menjanjikan dosa besar.

Saya bisa menoleransi iklan saham yang rumit. Saya bisa mengabaikan iklan e-commerce yang flash sale-nya sudah pasti tidak saya kejar. Tapi, bagaimana saya harus menoleransi iklan ini, apalagi di situasi publik?

Pernah suatu kali, saya sedang santai di kafe sambil menikmati latte, lalu tiba-tiba iklan laknat itu muncul. Sialnya, volume HP saya belum sempat saya kecilkan.

Jeduar! Suara mendesah, godaan manja, dan alunan musik ala kamar hotel langsung memenuhi radius satu meja. Saya langsung panik, buru-buru membanting HP, dan secara refleks menoleh ke kiri-kanan, berharap tidak ada yang menyadari saya sedang "dijualin" aplikasi video call esek-esek.

Wajah saya langsung panas. Bukannya mendapat ketenangan setelah sukses menghapus watermark, saya malah dicap sebagai kaum Om-Om Genit yang hobi mencari hiburan murahan. Cuih, rasanya pengin banting HP sampai ke Galaksi Andromeda.

Titik Terang dan Iklan yang Masih Mending

Sebenarnya, ada juga iklan yang lumayan—sekaligus menjadi titik terang di kegelapan dunia free user. Saya mencatat ada beberapa iklan yang layak diacungi jempol, atau minimal, tidak membuat saya ingin menjual ginjal.

Pertama, Iklan Investasi dan Keuangan. Iklan saham, beli emas digital, atau kripto. Walaupun saya belum tentu punya uangnya, setidaknya iklan-iklan ini mengajak saya untuk berpikir produktif. Sebuah wacana tentang masa depan yang lebih cerah, walau hanya janji palsu, tetap lebih baik daripada ajakan berutang.

Kedua, Iklan Game. Inilah iklan favorit saya. Sebagai gamer kelas kere, melihat iklan game baru selalu membuat saya terhibur. Walaupun mayoritas iklan game itu penipu ulung—gameplay yang disajikan di iklannya keren, begitu diinstal, ternyata isinya cuma puzzle tiga warna yang diulang-ulang—minimal ini urusan antara saya dan developer yang tega berbohong.

Ketiga, Iklan Kursus Online dan Peningkatan Skill. Iklan belajar bahasa, coding, atau desain grafis. Iklan ini setidaknya memberikan ilusi bahwa saya adalah manusia yang ambisius dan mau meningkatkan kualitas diri. Ini meningkatkan rasa percaya diri saya sementara, sebelum saya sadar bahwa saya tidak punya waktu untuk mengikuti kursus tersebut.

Keempat, Iklan Makanan dan Minuman Dingin. Iklan kopi, seblak pedas, atau es krim. Kenapa ini bagus? Karena ini realistis dan bisa langsung dieksekusi! Setelah emosi karena iklan pinjol, melihat iklan es krim dingin adalah terapi yang cepat dan murah. Tidak perlu modal utang, tidak perlu modal skill, cukup modal sedikit receh.

Pada akhirnya, inilah risiko hidup sebagai pengguna gratisan. Kita harus merelakan mental health kita dipertaruhkan demi sebongkah video tanpa watermark.

Jika tulisan ini kelak tayang, tolong kasih tahu redaktur sekalian. Saya hanya berharap, para pengiklan Pinjol dan Video Call itu segera sadar bahwa target pasar mereka bukanlah kami, para editor video InShot yang cuma ingin berbagi keresahan, bukan berbagi nomor rekening. Sekian.

NB : Artikel ini adalah draft dari terminal mojok.co (tidak lolos tayang)

​FAQ (Frequently Asked Questions)

​1. Mengapa iklan di aplikasi gratisan seringkali tidak relevan atau "liar"?

Aplikasi menggunakan jaringan iklan pihak ketiga (seperti AdMob). Pengiklan pinjol dan aplikasi live streaming biasanya berani membayar "bid" tinggi agar iklan mereka muncul di mana saja, tanpa mempedulikan apakah audiensnya sedang ingin meminjam uang atau hanya ingin mengedit video kucing.

​2. Apakah ada cara menghindari iklan "berbahaya" saat menghapus watermark?

Selain membayar versi Pro, cara yang paling umum (tapi sedikit merepotkan) adalah mematikan koneksi internet sebelum menekan tombol hapus watermark. Namun, beberapa aplikasi sekarang mewajibkan koneksi internet aktif agar tombol "Watch Ad" bisa berfungsi.

​3. Benarkah iklan game yang muncul seringkali menipu?

Ya, fenomena ini disebut misleading ads. Pengembang menggunakan gameplay yang terlihat seru (seperti teka-teki cabut pin) hanya untuk menarik click-through rate. Padahal, isi aslinya seringkali jauh berbeda. Tujuannya hanya satu: mengejar jumlah unduhan sebanyak-banyaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...