Langsung ke konten utama

Kedinginan sampai jadi ninja sarung! Temenku yang lewat "kamu kenapa?"

Hawa super dingin memaksaku berubah menjadi ninja sarung

Kerja shift malam di depan komputer itu musuhnya cuma dua: Ngantuk dan DINGIN. Tapi entah kenapa, malam ini dinginnya juara banget. Padahal, kantor ini nggak pakai AC maupun kipas angin, lho! Murni angin malam yang menusuk sampai ke tulang.

Jujur, usahaku buat cari kehangatan malam ini sudah maksimal, bahkan mungkin agak lebay. Coba bayangkan saja outfit kerjaku malam ini:

  1. Kaos dalam.

  2. Kemeja kerja.

  3. Hoodie tebal.

  4. Jurus Terakhir: Sarung!

Dan sarungnya ini bukan cuma dililit di pinggang seperti mau ronda, ya. Saking nggak kuatnya menahan dingin, sarung itu aku tarik sampai menutupi seluruh badan, dari kaki sampai kepala. Cuma menyisakan muka doang yang mengintip ke layar monitor. Sudah persis seperti ninja atau mumi yang lagi dikejar deadline laporan.

Momen Canggung

Lagi asyik menggigil sambil mengetik dengan kostum super tertutup itu, tiba-tiba teman kerjaku lewat. Dia berhenti mendadak, lalu melihatku dengan tatapan aneh bercampur bingung.

Dia bertanya dengan nada polos banget, "Kamu kenapa?"

Aku cuma bisa ketawa, "Hahaha!"

Mungkin di mata dia, aku terlihat mengenaskan banget malam ini. Antara kayak orang sakit parah, atau lagi ritual pemanggilan arwah di pojokan kantor. Padahal aku cuma berusaha bertahan hidup dari udara dingin yang nggak ngotak ini, walau tanpa AC sekalipun!

Usaha "Panas Dalam"

Karena kostum "Ninja Sarung" ini ternyata masih tembus dinginnya, aku coba memanaskan badan dari dalam:

  • Minum teh atau kopi: Sekalian biar mata tetap melek.

  • Masak mie instan: Saking desperate-nya, mie goreng pun aku kasih kuah banyak-banyak. Bodo amat dibilang penistaan terhadap mie instan, yang penting panas dan berkuah!

  • Baluran balsam: Di mana-mana, biar hangatnya meresap.

Kata Orang Tua

Pas cerita ke orang tua soal insiden ini, mereka cuma bilang, "Itu pasti karena kamu lagi sakit, makanya biarpun udah dibungkus lapis-lapis tetap merasa kedinginan."

Mungkin benar juga, sih. Badan lagi nggak fit, kurang gerak karena duduk terus depan PC, ditambah angin malam yang jahat. Sepertinya aku memang harus memperbanyak vitamin dan istirahat biar nggak bikin teman kantor kaget lagi lihat kostum ninja sarungku ini.

Doakan cepat hangat kembali ya, kawan-kawan!

Kata Kunci: cerita lucu kerja malam, shift malam kedinginan, kostum ninja sarung, tips menghangatkan badan, kejadian lucu di kantor

FAQ (Tanya Jawab)

Q: Emangnya kantornya sedingin apa sampai pakai sarung?

A: Dingin banget! Walaupun nggak pakai AC atau kipas, angin malam yang masuk rasanya menusuk tulang, apalagi kalau kondisi badan lagi kurang fit.

Q: Reaksi teman kantor gimana pas lihat kamu?

A: Dia kaget dan bingung, menyangka aku kenapa-napa (sakit parah atau lagi ritual), padahal cuma kedinginan. Aku sampai ketawa melihat ekspresinya.

Q: Mie goreng dikasih kuah emang enak?

A: Dalam kondisi darurat kedinginan, enak banget! Kuah panasnya membantu menaikkan suhu tubuh, meskipun menyalahi kodrat mie goreng.

Label: Humor, Kehidupan Kantor, Curhat, Cerita Lucu, Shift Malam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...