Langsung ke konten utama

Gara-gara Story WA, Aku Jadi Pengen Bahas Ini: Sekadar vs. Sekedar (Plus 10 Kata Baku Lainnya)

 


Jadi ceritanya gini, kemarin aku iseng lagi scroll story WhatsApp. Terus, aku lihat saudaraku bikin status, caption-nya: "Cuma sekedar hiburan".

Waduh, jiwa "polisi bahasa"-ku langsung meronta-ronta, nih. Pengen banget rasanya nge-reply buat benerin, tapi takut dibilang cerewet atau sok tahu. Padahal, kata yang dia pakai itu sebenernya salah kaprah, lho.

Nah, daripada aku pendam sendiri (atau malah berantem sama saudara gara-gara ejaan, haha), mending aku tumpahin di sini aja. Sekalian kita belajar bareng biar Bahasa Indonesia kita makin oke dan nggak malu-maluin kalau lagi nulis yang agak resmi atau buat konten medsos.

Kasus Utama: Mana yang Benar, Sekadar atau Sekedar?

Ini nih biang keroknya. Banyak banget orang yang nulis "Sekedar". Mungkin karena di lidah rasanya lebih enak kali, ya? Atau karena sering denger orang ngomong pakai "E".

Tapi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata yang baku itu "Sekadar".

Kenapa? Karena kata dasarnya itu "Kadar", bukan "Kedar". Logikanya sama kayak "Se-rumah" (Satu rumah), jadi "Se-kadar" (Satu kadar/sesuai kadar).

Jadi mulai sekarang:

  • Salah: "Cuma sekedar iseng."

  • Benar: "Cuma sekadar iseng."

10 Kata Lain yang Sering Banget Salah Tulis

Selain kasus di atas, ada banyak kata lain yang sering banget kita salah ketik di chat, caption, atau tugas. Coba cek, kamu masih sering salah di nomor berapa?

  1. Silakan (bukan Silahkan)

    • Nggak perlu pakai 'H' ya, guys. Kata dasarnya "Sila", bukan "Silah".

  2. Antre (bukan Antri)

    • Kalau lagi baris nunggu giliran, itu namanya mengantre, bukan mengantri. Kata aslinya dari bahasa Belanda: in de rij.

  3. Apotek (bukan Apotik)

    • Cara ngafalinnya gampang: Ingat aja profesinya itu Apoteker, bukan Apotiker. Tempat kerjanya ya Apotek.

  4. Aktivitas (bukan Aktifitas)

    • Kalau "Aktif" memang pakai F, tapi kalau sudah jadi kata benda "Aktivitas", huruf F-nya ganti jadi V (serapan dari Activity).

  5. Analisis (bukan Analisa)

    • Ini serapan dari bahasa Inggris Analysis. Jadi yang bener pakai akhiran -sis, bukan -sa.

  6. Nasihat (bukan Nasehat)

    • Vokal yang bener itu I, bukan E. Jadi, dengerin nasihat orang tua, ya!

  7. Praktik (bukan Praktek)

    • Sama kayak apotek tadi. Ingat aja, di sekolah adanya ujian Praktikum, bukan Praktekum.

  8. Risiko (bukan Resiko)

    • Hidup memang penuh risiko, bukan resiko. Ingat kata aslinya dari bahasa Inggris: Risk.

  9. Ubah (bukan Rubah)

    • Hayo, siapa yang sering nulis "Merubah"? Yang bener itu Mengubah (dari kata dasar Ubah). Kalau Rubah itu nama hewan (Fox), kasihan kalau dibawa-bawa. 🦊

  10. Indera (bukan Indra)

    • Kalau Indra itu nama temanku. Kalau alat perasa (mata, hidung, telinga), itu namanya Panca Indera.

Tips Biar Nggak Salah Lagi

Simpel aja kok:

  1. Download KBBI di HP: Serius, ini ngebantu banget kalau lagi ragu.

  2. Cari Kata Dasarnya: Kebanyakan salah eja itu karena kita lupa kata dasarnya apa.

  3. Biasain Aja: Awalnya mungkin kaku nulis "Silakan" tanpa H, tapi lama-lama jadi kebiasaan kok.

Yuk, mulai pelan-pelan benerin tulisan kita. Nulis bener itu keren, lho! Nggak cuma buat tugas sekolah atau kerjaan, tapi buat update status juga biar makin elegan. 😉

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Kenapa sih kita harus pakai kata baku, kan yang penting ngerti?

Betul, dalam percakapan santai yang penting nyambung. Tapi, membiasakan kata baku itu melatih logika berpikir kita. Selain itu, kalau kamu nulis surat lamaran kerja, email ke dosen/bos, atau bikin konten profesional, ejaan yang benar nunjukin kalau kamu orang yang teliti dan profesional.

2. Apa bedanya "di" yang dipisah dan "di" yang disambung?

Ini paling sering salah! Rumusnya gampang: Kalau "di" diikuti nama tempat, harus DIPISAH (contoh: di rumah, di kantor). Kalau "di" diikuti kata kerja, harus DISAMBUNG (contoh: dimakan, ditulis, dilihat).

3. "Sekadar" atau "Sekedar", mana yang paling sering dipakai di media?

Sayangnya, media atau caption medsos masih sering pakai "Sekedar". Tapi kalau kamu cek buku terbitan resmi atau portal berita yang kredibel, mereka pasti pakai "Sekadar". Yuk, jadi agen perubahan yang pakai kata bener!

4. Gimana cara cek kata baku yang paling cepat?

Sekarang gampang banget. Kamu bisa buka Google dan ketik "KBBI [kata yang dicari]", atau langsung ke laman kbbi.kemdikbud.go.id. Ada juga aplikasinya di Play Store/App Store. Gratis, kok!

Kata Kunci:

kata baku bahasa indonesia, sekadar vs sekedar, penulisan silakan yang benar, kbbi online, kesalahan ejaan umum, antre atau antri, praktik atau praktek, tips menulis bahasa indonesia, belajar bahasa indonesia santai, ejaan yang disempurnakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...