Halo pembaca semua. Artikel kali ini agak beda karena berangkat dari curhatan temanku yang baru aja pulang kerja dalam keadaan emosi, tapi bingung mau diluapin ke mana.
Temanku ini punya keponakan perempuan—sebut saja namanya Mawar. Singkat cerita, hidup Mawar ini memang nggak mudah. Bapaknya nikah lagi saat dia umur 3 tahun dan nggak pernah ngurusin dia lagi. Mungkin ini yang bikin mentalnya agak fragile. Kalau lagi "waras", dia anak baik. Tapi kalau lagi "kumat" stresnya? Wah, satu rumah bisa kena semprot. Mulai dari ibunya, omnya, sampai neneknya sendiri jadi sasaran.
Dan asal kalian tahu, cerita di bawah ini bukanlah puncak dari kelakuannya. Masih banyak kejadian yang jauh lebih parah, tapi kejadian pagi ini bener-bener bikin temanku (omnya Mawar) ngelus dada.
Drama Subuh: Logika Air Wudhu vs Emosi
Kejadiannya pas mau shalat Subuh. Di rumah mereka, air PDAM itu jarang hidup lancar. Jadi solusinya, keluarga menampung air di tandon, lalu diiskan ke ember-ember Dan wadah kecil buat wudhu, karena gak ada gentong besar.
Tapi bagi Mawar yang lagi kumat, ini masalah besar.
Pas mau wudhu, dia nanya ke neneknya, "Ini air mengalir apa bukan?"
Neneknya jawab polos, "Bukan."
Mawar langsung ngegas, "Lho kok bukan? Berarti air tandon?"
"Iya," kata Nenek.
Di sinilah logika "ajaib" itu keluar. Mawar langsung nyolot:
"Hii kok pakai air Lele! Pantesan aku sakit gigi terus, ternyata selama ini air lele!"
Bayangin logikanya: Air tandon (yang emang ada satu ikan lele buat makan jentik) disalahin sebagai penyebab sakit gigi. Padahal air itu bersih, cuma nggak mengalir langsung dari kran saat itu juga.
Nggak cuma sampai situ, Mawar makin menjadi dan teriak ke neneknya: "HUH PEMALAS!!"
Alasannya? Karena menurut dia, neneknya malas nggak mau nyalain kran langsung (padahal airnya emang lagi mati/kecil, makanya pakai tandon). Neneknya cuma diam. Beliau nggak ngelawan karena tahu, kalau cucunya ini diladeni pas lagi kumat, bakal makin meledak dan kata-katanya bakal lebih menyakitkan lagi.
Emosi yang Tertahan di Ujung Chat WhatsApp
Nenek akhirnya cuma bisa memendam sakit hati dan cerita ke anaknya (temanku ini) yang baru pulang kerja. Mendengar ibunya dikatain "Pemalas" sama cucu sendiri, temanku jelas marah besar.
Dia udah buka HP, udah ngetik panjang lebar mau ngelabrak keponakannya itu lewat WhatsApp. Tapi... jarinya berhenti.
Dia ingat, keponakannya itu posisinya lagi sekolah di luar kota. Dia takut kalau dimarahin sekarang, stres keponakannya makin parah dan malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di sana. Akhirnya, amarah itu dia telan bulat-bulat.
Daripada meledak nggak jelas, dia ingat aku yang biasa nulis. Jadi dia minta tolong aku "Tolong tulis ini jadi artikel, Bro. Biar jadi pelajaran, sekaligus biar uneg-unegku keluar," katanya.
Bedah Kesalahan: Buat Pelajaran Kita Bersama
Dari cerita temanku ini, ada 4 poin fatal yang sebenernya nggak boleh kita tiru, sestres apapun kondisi kita:
1. Membentak Orang Tua (Nenek) Itu Dosa Besar
Stres karena ditinggal bapak atau tekanan sekolah itu valid. Tapi membentak nenek yang udah ngerawat kita? Itu big no. Nenek itu posisinya orang tua. Kalau lagi emosi, mending diam daripada keluar kata-kata kasar.
2. Ironi Kata "PEMALAS"
Mawar ngatain neneknya pemalas. Padahal, siapa yang nyiapin air wudhu di ember? Nenek dan keluarga. Siapa yang nggak mau repot ngisi bak? Mawar. Ini ibarat maling teriak maling. Dia yang nggak mau usaha, orang lain yang dibilang malas.
3. Cocoklogi Sakit Gigi vs Air Lele
Guys, sakit gigi itu karena bakteri, gigi berlubang, atau saraf gigi. Nggak ada hubungannya sama air tandon yang dipakai kumur, apalagi cuma ada satu lele di tandon raksasa. Menyalahkan air wudhu atas sakit gigi itu cuma alasan buat marah-marah aja.
4. Salah Kaprah Fiqh Wudhu
Mawar ngira wudhu sah cuma kalau airnya ngucur deras dari kran (air mengalir). Padahal dalam Islam, air tandon yang banyak (dua qullah) itu suci dan mensucikan. Apalagi air itu dialirkan dari PDAM -> Tandon -> Ember. Jadi secara syariat, wudhunya sah. Marahnya itu nggak berdasar ilmu.
Penutup
Buat temanku dan Nenek yang sabarnya seluas samudera, semangat ya. Ujian menghadapi anggota keluarga yang mood swing-nya parah emang berat banget. Dan buat kita semua, yuk belajar ngontrol lisan. Jangan sampai "stres" dijadikan kartu sakti buat nyakitin hati orang yang paling tulus ngurusin kita.
Semoga si Mawar segera sadar dan sembuh dari trauma masa lalunya, tanpa harus nunggu kehilangan orang-orang yang sayang sama dia.
Curhatan, Emosi Keluarga, Trauma Anak, Konflik Keluarga, Mawar Nenek, Kontrol Emosi, Stres Berat, Anak Trauma, Lisan Kasar, Emosi Meledak, Air Wudhu, Fiqh Air, Hukum Air Tandon, Air Mengalir, Wudhu Sah, Menghormati Orang Tua, Dosa Membentak Nenek, Nenek Sabar, Hubungan Cucu Nenek, Cara Mengontrol Emosi Saat Stres, Kesalahan Fatal Saat Marah, Pelajaran Hidup, Kisah Nyata Keluarga, Psikologi Keluarga.

Komentar