Langsung ke konten utama

Bencana Banjir, Kayu Gelondongan, dan Pernyataan Pejabat yang Bikin "Hanyut" Logika


Aku marah. Serius, siapa yang nggak emosi membaca berita belakangan ini? Di saat warga sedang sibuk menguras lumpur, menyelamatkan sisa harta, bahkan menangisi keluarga yang jadi korban banjir bandang, tiba-tiba muncul pernyataan dari seorang menteri yang rasanya seperti menabur garam di atas luka yang masih menganga.

Coba bayangkan: ribuan gelondongan kayu hanyut menghantam pemukiman. Bukti fisik bertebaran di mana-mana. Tapi, narasi yang keluar dari pusat justru bilang itu "roboh alami" karena tanah longsor, bukan akibat pembalakan liar.

Hah? Gimana konsepnya, Pak? Pernyataan ini jelas bikin aku—dan mungkin jutaan warga lain—merasa logika kita sedang dipermainkan.

Kayu Gelondongan vs "Roboh Alami"

Ayo kita pakai akal sehat saja, nggak usah pakai bahasa langit. Kalau satu atau dua pohon tumbang karena angin atau tanah labil, itu namanya musibah alami. Masuk akal.

Tapi kalau yang hanyut itu kayu gelondongan dalam jumlah massal, potongannya rapi, atau bahkan sisa-sisa tebangan yang jelas bekas gergaji mesin (bukan patah karena akar yang tidak kuat), anak SD pun paham kalau itu bukan kerjaan angin sepoi-sepoi. Itu kerjaan manusia.

Menyebut bencana yang jelas-jelas ada andil tangan jahil manusia sebagai "murni faktor alam" adalah bentuk gaslighting tingkat nasional. Seolah-olah warga dipaksa memaklumi nasib, sementara akar masalahnya—hutan yang dibabat habis—malah dilindungi dengan alasan "alami".

Pejabat Nyaman, Rakyat Tenggelam

Ini bagian yang paling bikin dada sesak, dan ini adalah inti dari kemarahan kita. Pernyataan yang menyangkal fakta lapangan itu gampang banget keluar dari mulut mereka yang hidupnya aman, nyaman, dan jauh dari lumpur.

Pembalakan liar (illegal logging) dan alih fungsi hutan itu bisnis basah, duitnya kencang. Para pejabat atau oknum di balik layar menikmati kekayaan dari sana. Dan, kita patut curiga, bisa jadi pejabat yang bersuara lantang membela "roboh alami" itu juga mendapat bagian dari bisnis haram tersebut.

Mereka menikmati kekayaan yang diperoleh dari tangisan warga dan kerusakan rumah. Tapi ketika alam mulai "menagih" keseimbangannya lewat banjir bandang, siapa yang bayar harganya?

Bukan mereka. Yang bayar harganya adalah warga kecil. Kita yang dapet lumpurnya, kita yang dapet tangisannya. Pejabat menikmati cuan, rakyat menikmati air bah. Adil? Jelas nggak.

Stop Normalisasi Bencana Ekologis!

Jangan mau dibilang "baper" atau terlalu politis kalau kita marah soal ini. Emosi kita valid. Marah itu perlu. Karena tumpukan kayu gelondongan yang hanyut itu adalah alarm keras bahwa hutan kita sedang sekarat.

Kalau solusinya cuma ngasih mie instan dan pernyataan penyangkalan tanpa berani menindak tegas pelaku perusakan hutan, ya siap-siap saja banjir bandang jadi agenda tahunan. Kita butuh pejabat yang berani mengakui fakta, bukan yang jago ngeles kayak bajaj.

Tags

banjir bandang, kayu gelondongan, pembalakan liar, illegal logging, bencana alam atau ulah manusia, kerusakan lingkungan, kritik pejabat, banjir bandang indonesia, deforestasi, opini banjir

FAQ

1. Kenapa banjir bandang sering membawa kayu gelondongan? Banjir bandang membawa kayu biasanya karena kerusakan di area hulu. Pohon yang ditebang (illegal logging) dan ditinggalkan, atau tanah gundul yang longsor, akan terbawa arus deras saat hujan lebat karena tidak ada lagi akar yang mengikat tanah.

2. Apa tanda-tanda kayu hasil pembalakan liar vs roboh alami? Kayu hasil pembalakan biasanya memiliki bekas potongan gergaji yang rapi di ujungnya dan cabang-cabangnya sudah dibersihkan. Pohon roboh alami biasanya tercabut dengan akarnya atau patahannya tidak beraturan dan masih memiliki ranting lengkap.

3. Apakah benar banjir bandang murni bencana alam? Jarang sekali murni alam. Curah hujan tinggi adalah pemicu (faktor alam), tapi keparahan banjir bandang biasanya ditentukan oleh kondisi lingkungan (faktor manusia). Hutan yang rusak memperparah dampak banjir berkali-kali lipat.

4. Mengapa masyarakat marah dengan istilah "roboh alami"? Karena istilah tersebut dianggap sebagai upaya "cuci tangan" atau lari dari tanggung jawab. Masyarakat merasa penderitaan mereka diremehkan, dan lebih jauh lagi, menduga pejabat tersebut melindungi (atau dilindungi oleh) pelaku kejahatan lingkungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...