Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...
"Berawal dari sekadar berbagi keresahan, kini menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sini, saya merangkum setiap kegelisahan hidup menjadi tutorial praktis dan pelajaran bermakna yang semoga bisa membantu harimu sedikit lebih mudah."