Langsung ke konten utama

Masjid Dekat Rumah Saya Hobi Bongkar Pasang Keramik: Ini Tempat Ibadah atau Katalog Interior Berjalan?


Bagi warga di kampung saya, suara yang paling akrab dari masjid bukanlah sekadar azan merdu, melainkan dentuman martil dan deru mesin pemotong keramik. Masjid kami seolah memiliki "krisis identitas" yang akut. Bayangkan, ubin yang masih kinclong dan layak pakai harus pasrah dihancurkan kembali bukan karena rusak, melainkan karena alasan filosofis yang menyakitkan: "kurang enak dipandang."


Estetika Sebagai Hukum Tertinggi

Dalam kamus pengurus masjid saya dulu, estetika adalah segalanya. Jika warna keramik hijau dianggap tidak serasi dengan cat tembok terbaru, solusinya hanya satu: hancurkan dan ganti dengan granit bertema earth tone agar terlihat kekinian. Proyek abadi ini membuat tukang bangunan langganan kami mungkin sudah bisa membeli mobil sendiri, sementara hati para jamaah yang rutin menyisihkan uang belanja ke kotak amal merasa sesak melihat amanah umat berubah menjadi puing dalam sekejap.

Melupakan Fikih Prioritas

Setiap pecahan keramik itu adalah uang keringat dari pedagang pasar hingga buruh yang berharap menjadi amal jariyah, bukan sekadar memuaskan selera interior pengurus yang labil. Menghancurkan bangunan layak demi keindahan semata sudah mendekati perilaku tabzir (mubazir). Seandainya dana bongkar-pasang itu dialihkan untuk beasiswa anak yatim atau modal usaha warga yang tercekik pinjol, masjid akan benar-benar menjadi episentrum kesejahteraan umat.

Jebakan Proyekisme Pengurus

Ada fenomena "Jebakan Proyekisme" di mana pengurus merasa baru dianggap bekerja jika ada pembangunan fisik yang terlihat mata. Padahal, indikator kesuksesan masjid yang utama adalah seberapa penuh saf jamaah dan seberapa hidup pengajian anak-anaknya. Tuhan tidak akan bertanya seberapa mahal merek ubin tempat kita sujud, melainkan seberapa peduli kita pada tetangga masjid yang mungkin sedang kelaparan.

Harapan untuk Sujud yang Tenang

Kini, hobi "modifikasi" itu mulai mereda dan suara mesin gerinda tak lagi terdengar. Sebagai jamaah, saya hanya berharap obsesi estetika ini tidak kumat lagi. Keindahan sejati sebuah masjid terletak pada ketulusan hati jamaahnya dan manfaat sosialnya, bukan pada kemewahan granitnya. Biarkan kami sujud dengan tenang di atas ubin yang lama, asalkan hati kami damai karena tahu uang umat digunakan di jalan yang benar-benar diridhai-Nya.

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Mengapa renovasi masjid sering dianggap mubazir oleh jamaah?

Renovasi dianggap mubazir jika tujuannya hanya untuk mengubah estetika atau mengikuti tren desain, sementara bangunan lama masih sangat layak pakai. Hal ini dianggap membuang-buang dana amanah umat yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan sosial atau pendidikan.

2. Apa yang dimaksud dengan "Jebakan Proyekisme" dalam pengurusan masjid?

Ini adalah pola pikir di mana pengurus merasa prestasi mereka hanya diukur dari pembangunan fisik (semen dan bata). Akibatnya, program kerja lebih fokus pada renovasi bangunan daripada pemberdayaan jamaah atau kegiatan rohani.

3. Bagaimana cara terbaik mengelola dana pembangunan masjid menurut artikel ini?

Dana sebaiknya dikelola berdasarkan skala prioritas. Setelah bangunan masjid fungsional dan nyaman, sisa dana lebih baik dialihkan untuk kesejahteraan umat, seperti beasiswa bagi warga kurang mampu atau bantuan modal usaha bagi jamaah.

Kritik Sosial, Manajemen Masjid, Dana Umat, Renovasi Masjid, Fikih Prioritas, Mubazir, Estetika Masjid, Pengurus Masjid, Amal Jariyah, Dilema Jamaah, Kesejahteraan Umat, Proyek Fisik, Etika Beragama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...