Langsung ke konten utama

Rupiah Gaib dan Persentase Halusinasi: Mengapa Literasi Angka di Game Begitu Menyedihkan?

Bekerja di sebuah farming house, apalagi mengurus game sekompleks Lost Ark, memang membutuhkan ketahanan mental yang luar biasa. Bukan cuma soal mekanik bos yang bikin darah tinggi atau RNG yang pelitnya minta ampun, tapi lebih kepada polusi suara dari rekan kerja dan saudara sendiri. Beberapa bulan lalu, keresahan saya kembali mencapai puncaknya. Ini sebenarnya bukan fenomena baru bagi saya; saya sudah sering menemui "kecelakaan logika" seperti ini di pengalaman-pengalaman masa lalu. Namun, melihatnya kambuh lagi di lingkungan kerja profesional dengan intensitas yang tinggi benar-benar bikin saya ingin resign dari percakapan sehari-hari.

Permasalahannya mungkin terlihat sepele bagi orang awam, tapi bagi saya yang menghargai ketepatan, ini adalah horor linguistik. Mari kita bedah keajaiban logika yang terjadi di markas farming ini.

Sejak Kapan Arkesia Pakai Kurs Rupiah?

Mari kita bahas "tersangka" pertama: penyebutan mata uang. Kejadian ini sering terjadi pada teman dan saudara saya saat kami sedang asyik farming. Bayangkan skenarionya: rekan kerja saya baru saja mendapatkan item berharga atau selesai melakukan transaksi. Dengan wajah tanpa dosa dan penuh semangat, dia bercerita, "Wah, harganya cuma 200 Rupiah!"

Detik itu juga, otak saya rasanya ingin disconnect. Saya ingin bertanya dengan nada paling sarkastis yang saya punya, "Mas, itu gamenya buatan Bank Indonesia atau gimana?". Di game Lost Ark, atau game mana pun yang kita kerjakan di sini, tidak ada mata uang Rupiah. Adanya Gold, Silver, Coin, atau istilah mata uang spesifik di dalam dunia fantasi tersebut.

Rupiah itu mata uang sah Republik Indonesia yang kita pakai buat bayar cicilan atau beli nasi padang di depan kantor, bukan buat transaksi di Auction House. Kalau harganya 200, ya bilang saja 200 Gold. Sesimpel itu. Menyebut "Rupiah" untuk satuan koin game itu bukan cuma salah sebut, tapi sudah masuk kategori sesat logika. Adik saya sendiri pun sering melakukan hal yang sama. Sudah berkali-kali saya jelaskan dengan sabar, tapi entah kenapa penjelasan saya seperti masuk telinga kanan dan keluar lewat portal chaos dungeon. Gengsi untuk terlihat benar seolah kalah oleh kebiasaan asal sebut.

Tragedi Persentase yang "Kurang Angka"

Belum kelar urusan Rupiah gaib, muncul lagi permasalahan kedua yang berhubungan dengan angka. Kali ini soal Gear Score (GS), sesuatu yang sakral bagi setiap pemain Lost Ark. Teman saya sedang berusaha keras menaikkan GS karakternya menuju angka 1680. Saat itu posisinya berada di angka 1674. Selisihnya jelas: kurang 6 poin lagi.

Tapi apa yang keluar dari mulutnya? Dengan penuh keyakinan dia bilang, "Dikit lagi nih, kurang 6% lagi!"

Wah, kalau ini sih sudah masuk tahap halusinasi matematika tingkat dewa. Mari kita hitung pakai logika waras. Kalau targetnya 1680, maka 1% saja nilainya sudah 16,8 poin. Kalau dia dengan entengnya bilang kurang 6%, itu artinya secara matematis dia mengaku karakternya masih kurang 100 poin lebih! Di dunia Lost Ark, selisih 100 poin GS itu jaraknya sejauh bumi dan langit. Butuh perjuangan berbulan-bulan untuk mengejar angka sebanyak itu.

Kenapa sih harus maksa pakai kata "persen" kalau yang dimaksud adalah angka bulat? Padahal dia bisa bilang kurang 6 angka atau kurang 6 poin. Menyebut persen di saat yang tidak tepat itu menunjukkan kalau kita malas berpikir atau sekadar ingin istilah yang terdengar "teknis" tapi sebenarnya kosong makna.

Meluruskan Logika: Kapan Harus Pakai Persen?

Biar tidak terus-menerus salah kaprah, mari kita pahami secara singkat bedanya Poin dan Persen. Poin atau Angka Bulat adalah nilai absolut yang tetap. Kalau kurang 6, ya berarti tinggal butuh 6 langkah lagi. Titik.

Sedangkan Persen (%) adalah nilai relatif yang digunakan untuk menunjukkan perbandingan, pembagian, atau probabilitas.

 * Contoh Benar (Bagi Hasil): "Pembagian hasil farming kita sudah disepakati, yaitu 75% untuk farmer dan 25% untuk owner." (Ini benar, karena menunjukkan porsi dari total pendapatan).

 * Contoh Benar (Probabilitas): "Peluang berhasil honing senjata ini cuma 3%." (Ini benar karena bicara soal kemungkinan dari 100 kali percobaan).

Jadi, jangan pernah gunakan persen untuk menyebut selisih angka mati seperti Gear Score. Menyebut "kurang 6%" padahal aslinya kurang 6 poin itu sama saja kamu melebih-lebihkan tingkat kesulitan sebanyak 16 kali lipat. Itu bukan sekadar salah sebut, itu adalah fitnah matematika yang bikin telinga orang yang paham jadi gatal.

Bahaya "Asal Sebut" yang Menjadi Budaya Kerja

Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar seperti protes orang yang terlalu perfeksionis. "Ah, cuma salah sebut doang, yang penting kan sesama pekerja farming paham maksudnya." Nah, di situlah letak bahayanya. Budaya "yang penting paham" ini adalah musuh utama dari literasi. Kalau dari hal kecil seperti satuan mata uang game dan persentase saja kita sudah malas untuk benar, bagaimana kita bisa teliti dalam urusan yang lebih besar?

Di sebuah farming house, ketepatan data adalah kunci profesionalisme. Kita ini professional farmers, bukan sekadar bocah yang main game untuk mengisi waktu luang. Menyebut koin sebagai Gold adalah bentuk harga diri atas profesi yang kita jalani. Menyebut selisih angka sebagai poin adalah bentuk ketelitian intelektual. Jangan sampai kemalasan berpikir membuat kita terdengar tidak kompeten di bidang yang kita geluti sendiri.

Darurat Literasi di Lingkungan Digital

Pengalaman saya beberapa bulan lalu ini mempertegas bahwa darurat literasi itu nyata adanya. Kita hidup di era digital, bekerja di depan layar setiap hari, tapi seringkali abai pada logika bahasa dan angka yang paling mendasar. Kita terlalu fokus pada grinding sampai lupa mengasah ketajaman otak dalam berkomunikasi secara logis.

Seringkali, kesalahan ini muncul karena budaya "ikut-ikutan". Satu orang salah menyebut Rupiah, yang lain merasa itu keren dan mengikutinya. Satu orang salah menggunakan istilah persen, yang lain ikut menyebarkannya. Akhirnya, kesalahan kolektif ini dianggap sebagai kebenaran umum. Inilah yang saya sebut sebagai polusi literasi di lingkungan kerja.

Mengajak Kembali ke Jalur Logika

Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk hati rekan-rekan seprofesi, saudara, dan siapa pun yang bekerja di dunia game. Yuk, mulai sekarang kita perbaiki cara kita bicara agar komunikasi kita lebih berkualitas:

 * Gunakan Satuan pada Tempatnya: Kalau di dalam game itu satuannya Gold, sebutlah Gold. Jangan membawa-bawa nama Rupiah kecuali kita memang sedang menghitung hasil konversi ke saldo rekening bank.

 * Pahami Konsep Satuan vs Persentase: Poin ya poin, persen ya persen. Jangan dicampur aduk. Selisih 6 angka itu bukan 6 persen. Titik.

 * Hargai Ketepatan: Menjadi benar itu tidak merugikan. Justru dengan berbicara tepat, kita menunjukkan kualitas diri kita sebagai pekerja yang teliti dan berwawasan.

Bekerja di farming house memang melelahkan secara fisik, tapi jangan sampai otak kita juga ikut "lelah" sampai kehilangan fungsi logika dasarnya. Literasi itu bukan cuma soal membaca buku-buku berat, tapi soal bagaimana kita menempatkan kata dan angka pada porsi yang seharusnya. Jangan sampai kita jago farming Gold jutaan, tapi untuk menyebut satuannya saja kita masih "miskin" secara literasi.

Mari kita jaga kewarasan bersama. Berhenti menjadikan koin game sebagai Rupiah, dan berhentilah memakai persen untuk selisih angka bulat. Benar itu keren, dan teliti itu jauh lebih berwibawa daripada sekadar ikut-ikutan tren salah kaprah yang memalukan.


Terima kasih sudah membaca! Jika kamu ingin memberikan apresiasi, saya menyediakan dua pintu dukungan:

Dukunganmu sangat berarti bagi kami semua!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...