Sebelumnya, aku sudah pernah menceritakan bagaimana aku akhirnya "terjun bebas" menjadi petugas kebersihan sukarela di Farming House (FH). Sebuah peran yang tidak pernah tertulis di kontrak kerja, tapi harus aku ambil demi kesehatan mental dan kenyamanan mata saat bekerja. Kali ini, aku ingin sedikit membahas lagi pengalaman itu melalui cerita yang terjadi semalam, yang kemudian memicu ingatanku untuk membandingkannya dengan kondisi di FH lama yang jauh lebih tragis.
Banyak yang mungkin heran, kenapa aku rela repot-repot menyapu, mengebus debu, hingga mencuci piring milik orang lain? Jawabannya sederhana: Aku tidak mau tempat ini berakhir menjadi seperti FH lama. Aku punya semacam trauma visual terhadap tumpukan sampah, dan aku bersumpah tidak akan membiarkan FH baru ini jatuh ke lubang yang sama akibat pembiaran.
Malam Tadi: Estafet Kerja dan Keheningan yang Berdebu
Cerita ini bermula sekitar jam 8 malam tadi. Sore itu, adikku yang memegang shift pagi datang menjemputku ke rumah. Ini sudah menjadi rutinitas kami; dia yang bertugas di pagi hari akan menjemputku untuk berangkat kerja malam. Begitu aku sampai di lokasi FH dan memastikan semua aman, barulah dia bisa pulang untuk beristirahat. Kami seperti pelari estafet yang saling menjaga agar operasional tempat ini tidak terputus.
Saat aku sampai semalam, suasana FH sebenarnya masih lumayan hidup. Ada dua orang pelanggan yang sedang asyik menyewa warnet sejak jam 7 malam. Mereka duduk anteng di depan monitor, fokus dengan dunia mereka sendiri. Adikku sempat melayani proses administrasi mereka sebelum akhirnya dia pamit pulang.
Waktu terus merambat hingga jam menunjukkan pukul 9 malam. Kedua penyewa itu menyudahi sesi mereka, membayar biaya sewa, lalu beranjak pulang. Seketika, suasana yang tadinya penuh suara ketikan keyboard dan obrolan tipis berubah menjadi sunyi senyap. Aku benar-benar sendirian sekarang. Di tengah keheningan jam 1 pagi yang dingin, "penyakit" lama tempat ini mulai menampakkan wujudnya dengan sangat jelas di depan mataku.
Begitu fajar menyingsing sekitar jam setengah 7 pagi, sebelum aku mandi dan bersiap pulang, aku melakukan ritual pengecekan area. Dan benar saja, di meja kerja aku menemukan 4 buah gelas kotor. Awalnya, gelas-gelas ini letaknya terpencar, berantakan di sudut meja yang berbeda bekas dipakai orang-orang sebelumnya. Ada sisa teh yang sudah dingin, sisa kopi yang mengering di dinding gelas, sampai gelas air putih biasa yang sudah berdebu.
Alih-alih langsung membawanya ke dapur, aku memutuskan untuk melakukan sebuah "eksperimen sosial". Aku ambil gelas-gelas itu satu per satu, lalu aku jajarkan dengan sangat rapi di satu titik yang paling mencolok di tengah meja kerja. Aku ingin membuat sebuah "monumen pengingat". Aku ingin melihat, saat teman-temanku datang nanti, ada tidak sih secuil kesadaran untuk sekadar mencuci apa yang mereka pakai sendiri saat melihat barisan gelas itu menuntut untuk dibersihkan?
Kilas Balik: "Neraka" Sampah dan Misteri Ruangan Belakang di FH Lama
Melihat barisan gelas itu membuat memoriku langsung terlempar ke sebuah tempat yang jauh lebih "horor": FH Lama. Bagi teman-teman yang baru bergabung, kalian mungkin tidak akan percaya betapa tangguhnya mental yang dibutuhkan untuk sekadar bernapas di sana. Di FH lama, kata "jorok" bukan lagi sekadar sifat, tapi sudah menjadi budaya yang mendarah daging.
Dapur yang Menyerupai TPA
Dapur di FH lama adalah tempat yang paling aku hindari jika tidak terpaksa. Bayangkan, ada dua ember besar yang dikhususkan untuk sampah, tapi sampah-sampah di sana menumpuk hingga meluap ke lantai. Sisa makanan basah, plastik bungkus kopi, dan bungkus mi instan bercampur jadi satu. Mereka baru akan membakarnya kalau gunung sampah itu sudah benar-benar meluber dan aromanya sudah mulai "bernyanyi" memenuhi seluruh ruangan.
Wastafel "Museum" Barang Kotor
Wastafel di sana juga tidak kalah mengerikan. Piring dan gelas kotor menumpuk hingga menutupi keran air. Sisa lemak yang mengeras di piring sudah jadi pemandangan sehari-hari. Sebagai anak baru saat itu, aku hanya bisa diam dan menelan ludah. Aku merasa sungkan jika harus langsung menegur senior atau bersih-bersih sendiri.
Gudang Rongsok yang Menggunung
Namun, yang paling parah adalah ruangan belakang. Di FH lama, ada satu ruangan yang entah siapa yang memulai, perlahan berubah menjadi gudang rongsok raksasa. Isinya adalah tumpukan barang bekas yang tidak terurus. Plastik, kardus, dan benda-benda tak berguna dikumpulkan begitu saja hingga berkarung-karung besar.
Rongsokan itu dibiarkan menumpuk selama berbulan-bulan tanpa pernah dijual atau dibuang. Debunya sangat tebal, mungkin sudah jadi ekosistem sendiri bagi serangga dan laba-laba. Setiap kali aku melirik ke arah ruangan itu, rasanya sesak napas. Itu adalah simbol nyata dari sebuah pembiaran yang sudah mencapai level akut.
Bulan Ketiga: Momen Perlawanan dan Dokumentasi "Sejarah"
Setelah tiga bulan bertahan dalam diam, aku akhirnya kehilangan kesabaran. Rasa risihku menang telak atas rasa segan. Aku memutuskan untuk bergerak sendirian. Aku mulai mengosongkan wastafel yang penuh gelas berlendir itu satu per satu.
Namun, aku cerdik. Sambil mencuci, aku nyalakan kamera HP. Aku rekam semuanya—tumpukan gelasnya, gunung sampah di dapur, hingga kondisi wastafel yang berkerak—sebagai "bukti sejarah" betapa hancurnya manajemen kebersihan saat itu. Aku ingin punya bukti nyata jika suatu saat ada yang bertanya kenapa tempat itu bisa seburuk itu.
Puncaknya adalah saat aku menyapu kolong meja komputer. Meskipun luas FH lama tidak seberapa, kalian tahu berapa banyak sampah yang aku kumpulkan dari bawah meja? Satu kardus penuh! Ada botol plastik bekas, wadah makanan instan, sampai sampah plastik kecil yang entah sudah berapa bulan mendekam di sana. Aku bersihkan semuanya, aku buang sampahnya, dan sebagian botol aku pisahkan untuk dirongsokkan. Setidaknya, setelah itu lantai terasa lebih ringan diinjak walaupun belum sampai kinclong karena belum sempat dipel.
FH Baru: Sistem yang Lebih Sehat dan Terkontrol
Sekarang, di FH baru, aku benar-benar tidak ingin sejarah kelam itu terulang. Memang, di sini aku juga masih mengumpulkan rongsok dari hasil bersih-bersih—karena sayang kalau dibuang begitu saja dan masih punya nilai ekonomi—tapi caraku jauh lebih sistematis.
Aku tidak membiarkan rongsokan itu menumpuk berhari-hari apalagi sampai berkarung-karung besar dan berdebu seperti di FH lama. Setiap kali aku selesai bersih-bersih dan mendapatkan rongsok yang layak, aku langsung menyuruh adikku untuk membawanya pulang saat dia datang menjemputku atau saat pergantian shift. Dengan begitu, FH baru tetap bersih, tidak ada ruangan belakang yang menyeramkan, dan lingkungan kerja tetap terasa lega serta profesional.
Ritual "Kebus-Kebus" dan Filosofi Nyapu Dua Tahap
Selain urusan rongsok, aku sangat disiplin soal debu. Meja komputer di sini memiliki desain dua tingkat yang cukup menantang. Rak atas adalah tempat "singgasana" CPU, sementara rak bawah tempat monitor dan perangkat lainnya. Teman-temanku kalau bersih-bersih biasanya hanya fokus pada bagian depan meja yang kelihatan mata saja, seperti keyboard atau mouse.
Padahal, debu di rak atas itulah yang paling krusial. Kalau tidak "dikebus" (dikibas menggunakan kemoceng), debu akan menumpuk di ventilasi CPU. Akibatnya? Sirkulasi udara memburuk, mesin cepat panas, dan komputer jadi lemot. Karena itulah, pagi tadi aku mengambil kemoceng dan mulai ritual "kebus-kebus" total. Aku bersihkan tiap sudut, mulai dari belakang monitor yang penuh sarang laba-laba kecil sampai meja galon.
Setelah urusan meja beres, perjuangan lanjut ke lantai. Karena area FH baru ini lumayan luas, aku punya teknik khusus agar tidak cepat lelah: Nyapu dua tahap.
- Tahap pertama: Aku mulai dari area tengah, merayap ke kolong-kolong meja komputer yang penuh kabel, sampai ke seluruh lantai bawah hingga teras depan.
- Tahap kedua: Aku kembali ke dalam, mulai dari area kamar, kembali ke tengah, baru berakhir di dapur.
Dengan cara ini, ritme kerjaku jadi lebih enak dan energi tidak terkuras habis. Selesai menyapu, semua sampah aku kumpulkan dan langsung aku bakar di luar. Melihat api melahap sampah-sampah itu memberikan kepuasan tersendiri; rasanya seperti memusnahkan potensi kekacauan sebelum ia sempat tumbuh besar.
Penutup: Kesadaran adalah Kunci
Ada satu teman yang sering menginap di sini dan selalu mengklaim sudah bersih-bersih sebelum pulang. Tapi saat aku cek tadi pagi? Zonk. Debu di area monitor masih tebal dan lantai masih terasa kasar. Sepertinya definisi "bersih" setiap orang memang berbeda. Ada yang merasa sudah bersih padahal hanya memindahkan debu dari satu sisi ke sisi lain.
Pada akhirnya, aku rela menjadi "petugas kebersihan" sukarela ini demi kenyamanan kita bersama. Aku hanya ingin teman-temanku sadar bahwa tempat kerja yang bersih akan membawa energi positif bagi kita semua dalam mencari rezeki.
Yuk, buat teman-teman di FH, minimal jangan biarkan gelasmu menjadi penghuni tetap di atas meja. Jangan tunggu sampai "mata kebersihan"-ku bertindak dan HP-ku mulai merekam aksi bersih-bersihku jadi konten satir. Mari kita jaga FH baru ini agar tetap bersih, nyaman, dan jauh dari bayang-bayang "neraka rongsok" masa lalu.
Terima kasih sudah membaca! Jika kamu ingin memberikan apresiasi, saya menyediakan dua pintu dukungan:
🐈 https://saweria.co/hambaz – Bantu saya menyediakan makanan dan obat-obatan untuk kucing jalanan yang membutuhkan. Aktivitas bantuan ini akan saya publikasikan di YouTube: Dexpe Land Green Farm.
💻 https://sociabuzz.com/hamdanbasofi/tribe– Dukung saya agar tetap konsisten berkarya dan mengelola blog ini.
Dukunganmu sangat berarti bagi kami semua!

Komentar