Langsung ke konten utama

Gadget Baru Terus, Perlu Nggak Sih Upgrade Tiap Tahun? Sebuah Memoar Perjuangan dan Kesetiaan

 


Pernah nggak sih kamu merasa terintimidasi tiap kali melihat iklan HP baru? Iklannya selalu sama: kamera yang bisa memotret bintang, layar lipat, hingga prosesor setara komputer super. Rasanya, HP yang lagi kita genggam—yang mungkin casing-nya kusam atau baterainya mulai bocor—jadi kelihatan kayak rongsokan. Namun, sebelum kamu tergiur fitur cicilan demi gengsi, mari kita bicara soal prinsip yang mungkin sudah langka di tahun 2026 ini: memakai sebuah barang sampai titik darah penghabisan.

Nostalgia Nokia N70: Melawan Arus di Tengah Demam Android

Kisah ini dimulai saat saya masih SMA di rentang tahun 2013 hingga 2016. Saat itu, teman-teman saya sudah heboh pamer HP Android dengan layar sentuh lebar. Tapi saya? Saya masih sangat setia mendekap Nokia N70. Secara teknologi, saya tertinggal jauh. Di saat orang lain menggeser layar, saya menikmati bunyi klik-klik tombol fisik yang empuk.

Alasan utama saya bertahan? Gamenya asyik banget! Sampai detik ini pun saya masih kangen mainin game-game era Symbian itu. Game seperti Sky Force, Explode Arena, atau jajaran game N-Gage punya daya tarik tak tergantikan. Mereka simpel, tanpa internet, dan tanpa iklan yang tiba-tiba muncul. Main game di N70 memberikan kepuasan murni. Bagi saya saat itu, fungsi telepon, SMS, musik, dan game sudah lebih dari cukup. Hiburan terbaik nggak selalu butuh spesifikasi "dewa".

Era Transisi: Dari Barang Rusak ke HP Second 100 Ribuan

Kesetiaan pada N70 berakhir di penghujung 2016 karena kerusakan teknis yang biaya servisnya lebih mahal dari beli baru. Awal 2017, saya resmi "hijrah" ke Android. Namun, karena keterbatasan dana, saya cuma bisa membeli HP second seharga 100 ribuan.

Bisa kamu bayangkan Android macam apa yang didapat dengan harga segitu? Speknya rendah dan kondisinya sudah sangat lelah. Alhasil, dalam kurun waktu singkat saya sempat ganti HP sampai 4 kali! Semuanya barang bekas dan sering rewel. Tapi itulah realitanya; saya harus bertahan dengan apa yang ada demi tetap bisa berkomunikasi.

Puncak Perjuangan: Membeli Oppo A5s dari Hasil Merantau

Tahun 2019 menjadi momen bersejarah. Setelah 4 bulan merantau dan bekerja keras, saya akhirnya membeli HP baru gres: Oppo A5s seharga 2,1 juta rupiah. Ini adalah trofi kemandirian saya. Saking semangatnya, uang saya sebenarnya masih kurang sedikit, sampai saya harus meminjam uang ke bos untuk menutup kekurangannya.

Masalah muncul di tahun 2021 karena kecerobohan saya. Penyakit "penyimpanan penuh" padahal file sedikit mulai menyerang. Belum lagi urusan fisik. Dari tahun 2020 hingga awal 2024, saya tercatat sudah ganti baterai sebanyak 4 kali dan LCD sebanyak 4 kali juga! Saya akui saya kurang hati-hati. HP jatuh, layar pecah, ganti lagi, pecah lagi. Tapi bagi saya, selagi bisa dibenahi, kenapa harus beli baru? HP ini adalah saksi bisu keringat saya di perantauan.

Drama Tahun 2024: Transisi, Hujan, dan "Kematian" Bertahap Si A15

Pertengahan tahun 2024, saya akhirnya memutuskan sedikit naik kelas dengan membeli Oppo A15. Lagi-lagi saya beli second, tapi secara spek lebih lancar untuk multitasking daripada A5s tua saya. Namun, drama sesungguhnya baru dimulai.

Setelah beli A15, Oppo A5s saya masuk kotak. Karena takut rusak kalau didiamkan, akhir 2024 saya belikan baterai baru agar bisa dipakai sebagai HP cadangan. Tapi baru sebentar dipakai bareng, si A5s malah sering ngehang dan susah hidup. Akhirnya saya kembali pakai satu HP saja, si A15.

Sialnya, baru dua bulan fokus pakai A15, kejadian konyol terjadi. Saya semangat bikin konten di tengah hujan. Saya pikir HP-nya kuat, ternyata tidak. HP itu nggak langsung mati seketika, tapi mati secara bertahap. Awalnya layar berkedip, esoknya sering restart sendiri, hingga tepat dua hari kemudian, si A15 benar-benar mati total. Gelap.

Masa Sulit: Zombie A5s dan Ketergantungan Listrik

Mau benerin A15 tapi uangnya belum ada. Terpaksa saya menghidupkan kembali "zombie" A5s yang memprihatinkan. Masa itu benar-benar menguji kesabaran. HP itu hanya bertahan paling lama 2 jam dari baterai 100%. Dan yang paling parah, kalau sudah mati, ia hanya bisa hidup kalau dicolok ke charger. Hidup saya benar-benar dibatasi oleh panjang kabel charger selama dua bulan itu. Saya harus selalu di dekat colokan listrik cuma buat sekadar balas pesan.

Solusi Ajaib 2026: LCD Copot dan Kekuatan Isolasi Bening

Dua bulan berselang, setelah tabungan cukup, saya membawa A15 ke tempat servis untuk ganti LCD. HP itu pun hidup kembali. Sementara si A5s baru benar-benar dibenahi total pada Februari 2026 karena kakak saya membutuhkannya. Si A5s resmi berpindah tangan setelah menemani saya selama 7 tahun sejak 2019.

Hingga saat ini, saya masih setia dengan Oppo A15 saya, meski kondisinya unik. LCD-nya suka copot sendiri! Saya sudah bolak-balik coba lem sendiri pakai lem khusus HP, tapi tetap saja suka lepas. Sepertinya memang ada masalah fisik pada rangkanya yang bikin LCD nggak bisa merekat sempurna. Akhirnya, daripada pusing, saya pakai solusi paling ampuh: solasi bening. Saya balut bagian yang lepas itu dengan isolasi, dan beres! LCD-nya nggak copot lagi dan HP tetap bisa dipakai kerja.

Meski boros baterai kalau dipakai multitasking berat—ngerjain survei, jualan, konten, sampai main Mobile Legends yang kadang bikin ngehang—saya tetap akan merawatnya. Saya sudah berjanji tidak gampang menyerah pada keadaan gadget saya selama ia masih bisa bekerja.

Alasan dan Tips Bertahan dengan HP Lama: Fungsi di Atas Gengsi!

Dari drama panjang saya, pelajaran terpenting adalah: fungsi harus jadi panglima. Banyak orang ganti HP cuma karena gengsi. Padahal, kalau HP lama masih bisa menjalankan tugasnya—meskipun harus dibantu isolasi bening—kenapa harus beli baru? HP sesederhana apa pun, kalau dipaksa produktif, ia bisa menghasilkan uang.

Mempertahankan gadget juga langkah nyata mengurangi limbah elektronik (e-waste) yang mencemari lingkungan di tahun 2026 ini. Menjadi keren adalah ketika kita bisa bertanggung jawab atas apa yang kita miliki. Jika HP mulai rewel, jangan langsung menyerah. Masalah memori penuh bisa diatasi dengan pindah file ke cloud, dan baterai boros bisa diakali dengan sedia powerbank. Menghargai barang berarti kreatif mencari solusi, bukan mencari alasan untuk membuangnya.

Agar HP "tempur" kamu tetap awet meski kamu ceroboh, berikut tips singkatnya:

  • Investasi Case Armor: Wajib pakai yang tebal agar LCD nggak gampang pecah saat jatuh.

  • Waspada Cairan: Jangan ulangi kebodohan saya; air adalah musuh nomor satu yang bisa mematikan HP secara perlahan.

  • Solusi Solasi Bening: Penyelamat nyata buat LCD yang mulai mangap tanpa perlu ke tukang servis lagi. Murah dan efektif!

  • Jaga Suhu Mesin: Hindari multitasking berat sambil charging agar motherboard nggak cepat rusak.

Kesimpulan: Bijaklah dalam Berteknologi Ganti HP itu sah saja kalau memang kebutuhan kerja sudah mendesak. Tapi kalau cuma lapar mata, ingatlah lagi perjuanganmu saat mencari uang untuk membelinya—terutama masa-masa sulit saat harus merantau atau saat kamu harus bergantung pada kabel charger.

Pengalaman dari Nokia N70 hingga Oppo A15 bersolasi bening mengajarkan satu hal: gadget hanyalah alat. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa mahal ponsel kita, melainkan oleh manfaatnya. Selama masih bisa menyala, rawatlah HP-mu baik-baik. Barang paling berharga bukanlah yang paling baru, melainkan yang paling setia menemani kita di titik terendah sekalipun.


Terima kasih sudah membaca! Jika kamu ingin memberikan apresiasi, saya menyediakan dua pintu dukungan:

Dukunganmu sangat berarti bagi kami semua!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...