Di era digital saat ini, jarak antara keinginan dan pemenuhannya hanya terpaut beberapa klik saja. Iklan dengan slogan menggiurkan seperti "Dana Cair Kilat", "Syarat Cuma KTP", atau "Beli Sekarang Bayar Nanti" (Paylater) bertebaran di mana-mana—mulai dari aplikasi belanja daring, portal berita, hingga beranda media sosial kita. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan secara instan tersebut, ada jebakan finansial yang siap menerkam siapa saja yang kurang waspada.
Baru-baru ini, penulis ternama Tere Liye membagikan sebuah tulisan yang sangat tajam di akun Facebook resminya mengenai fenomena ini. Sebagai seseorang yang selama ini menjaga prinsip untuk tidak pernah menyentuh pinjaman online (pinjol) maupun paylater, saya merasa analisis beliau sangat relevan dan perlu disebarluaskan. Ini bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang bagaimana kita menjaga kemerdekaan finansial dan kesehatan mental kita sendiri di tengah gempuran konsumerisme.
Fenomena Pinjol dalam Angka: Ledakan yang Mengkhawatirkan
Dalam tulisannya, Tere Liye—yang juga merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia—mengungkapkan data yang cukup mengerikan bagi masa depan ekonomi masyarakat. Setahun lalu, tercatat ada sekitar 15 juta akun aktif pinjol di Indonesia. Angka ini melonjak tajam menjadi 30 juta akun hanya dalam waktu satu tahun.
Lonjakan 100% ini menunjukkan betapa masifnya penetrasi pinjaman berbasis teknologi di masyarakat kita. Angka ini bahkan belum mencakup pengguna fitur paylater yang kini sudah terintegrasi secara halus di hampir semua platform e-commerce. Jika kita melihat data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mayoritas pengguna pinjol adalah kelompok usia produktif (19–34 tahun), yang ironisnya seharusnya berada dalam masa puncak untuk menabung dan berinvestasi, bukan malah menumpuk utang konsumtif.
Bedah Kerugian Pinjol Menurut Perspektif Ekonomi Tere Liye
Tere Liye menyoroti masalah ini bukan dari sisi emosional semata, melainkan dari kacamata ekonomi murni. Berikut adalah tiga alasan utama mengapa pinjol dan paylater sebenarnya adalah "perampok" masa depan kita:
1. Biaya Admin yang Tak Kasat Mata (Potongan di Depan)
Banyak orang tergoda karena angka cicilannya terlihat kecil di aplikasi. Namun, Tere Liye mengingatkan adanya Biaya Admin di depan yang sering kali mencapai 5% hingga 10%.
Mari kita hitung secara sederhana: Jika Anda meminjam Rp1.000.000 dan hanya menerima Rp950.000 karena dipotong biaya admin Rp50.000, namun Anda tetap harus melunasinya dalam satu bulan sebesar Rp1.000.000 (belum termasuk bunga), maka secara efektif Anda sudah menanggung beban 5% per bulan. Secara tahunan, bunga efektif ini mencapai 60% per tahun! Ini adalah beban bunga yang jauh lebih tinggi daripada bunga kredit perbankan konvensional manapun.
2. Bunga yang Tetap Mencekik Meski Ada Regulasi
Meskipun OJK terus berusaha memperketat aturan, kenyataannya beban ini tetaplah berat. Per 1 Januari 2026, maksimal bunga pinjol ditetapkan di angka 0,1% per hari. Kedengarannya kecil? Tunggu dulu. Secara tahunan, angka tersebut tetap mencapai 36,5%.
Jika angka ini digabung dengan biaya admin dan biaya layanan lainnya, total beban finansial yang ditanggung nasabah bisa mencapai 50% atau lebih. Artinya, jika Anda meminjam Rp10 juta, Anda harus mengembalikan setidaknya Rp15 juta. Anda membayar harga yang sangat mahal hanya untuk sebuah "kenikmatan sesaat" yang sebenarnya tidak Anda miliki uangnya saat itu.
3. Jebakan Konsumtif pada Barang yang Susut Nilainya (Depreciating Assets)
Ini adalah poin krusial dalam literasi keuangan. Kebanyakan orang menggunakan pinjol untuk membeli barang konsumtif, seperti ponsel keluaran terbaru, baju bermerek, atau sekadar memenuhi gaya hidup agar terlihat mampu di media sosial.
Masalahnya, saat Anda masih mencicil utangnya yang berbunga tinggi, nilai barang tersebut justru terus merosot (depresiasi). Kita terjebak dalam kondisi membayar harga premium untuk sesuatu yang nilainya terus berkurang setiap hari. Secara ekonomi, ini adalah keputusan finansial terburuk yang bisa diambil oleh seseorang.
Mengapa Paylater Sama Berbahayanya?
Banyak orang merasa paylater lebih aman dibanding pinjol karena sering menawarkan promo "Bunga 0%". Namun, secara psikologis, paylater menciptakan ilusi daya beli. Fenomena ini dalam psikologi ekonomi disebut sebagai frictionless spending—proses belanja yang dibuat terlalu mudah sehingga otak kita tidak sempat memproses rasa sakit saat mengeluarkan uang.
Akibatnya, orang cenderung membeli barang yang tidak mereka butuhkan dengan uang yang belum mereka miliki. Ketika tagihan membengkak di akhir bulan dan pendapatan tidak mencukupi, barulah siklus utang dimulai. Paylater adalah gerbang awal menuju ketergantungan pada pinjol.
Perspektif Penulis: Hidup Tenang Tanpa Cicilan Adalah Mewah
Sebagai pengelola blog ini, saya secara pribadi sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Tere Liye. Seumur hidup, saya memegang prinsip untuk tidak pernah menggunakan pinjol atau paylater. Mengapa? Karena bagi saya, ketenangan pikiran (peace of mind) jauh lebih berharga daripada memiliki barang mewah hasil berutang.
Ada kelegaan luar biasa ketika kita bangun di pagi hari dan tahu bahwa setiap rupiah yang kita hasilkan bulan ini sepenuhnya milik kita. Tidak ada bayang-bayang debt collector, tidak ada bunga yang terus berjalan saat kita tidur, dan tidak ada rasa cemas saat melihat kalender tanggal jatuh tempo.
Saya melihat banyak kasus di sekitar saya di mana orang awalnya hanya mencoba "pinjam kecil-kecilan" untuk kebutuhan mendesak. Namun, karena kemudahannya, mereka mulai meminjam untuk keinginan. Akhirnya, mereka terjebak dalam lingkaran setan "gali lubang tutup lubang", di mana mereka meminjam di aplikasi B untuk menutupi utang di aplikasi A. Ini adalah kehancuran finansial secara perlahan.
Setuju dengan analogi Tere Liye, setiap kali kita mengklik tombol "setuju" di aplikasi pinjol, sebenarnya kita sedang membeli masalah di masa depan. Kita mengambil jatah uang masa depan kita (yang seharusnya untuk tabungan, pendidikan anak, atau hari tua) untuk digunakan hari ini. Secara tidak langsung, kita sedang membatasi ruang gerak dan pilihan hidup kita di masa depan.
Tips Menghindari Jebakan Utang Digital
Agar tidak terjerumus dalam lubang pinjol dan paylater, ada beberapa langkah konkret yang bisa kita lakukan:
Bangun Dana Darurat: Milikilah tabungan minimal 3–6 kali pengeluaran bulanan. Dana inilah yang akan menyelamatkan Anda saat ada kondisi darurat, sehingga Anda tidak perlu melirik pinjol.
Terapkan Aturan 24 Jam: Jika ingin membeli barang yang bukan kebutuhan pokok, tunggu 24 jam sebelum memutuskan. Biasanya, setelah 24 jam, keinginan impulsif itu akan mereda.
Hapus Aplikasi yang Menggoda: Jika Anda merasa sulit mengendalikan diri, hapus aplikasi belanja atau nonaktifkan fitur paylater di ponsel Anda.
Bedakan Kebutuhan dan Keinginan: Jika Anda tidak punya uang tunai untuk membelinya sekarang, berarti Anda belum mampu. Jangan dipaksakan dengan utang.
Kesimpulan: Kendalikan Nafsu, Lindungi Masa Depan
Pesan penutup dari Tere Liye sangatlah mendalam: "Kalian memasung diri sendiri." Kedisiplinan melawan keinginan untuk berutang adalah investasi terbaik bagi kesehatan mental dan finansial kita dalam jangka panjang.
Memang benar, hidup di tengah gempuran tren flexing (pamer kekayaan) dan kemudahan teknologi membutuhkan "iman finansial" yang kuat. Namun, percayalah, saat Anda mampu disiplin mengendalikan nafsu untuk berutang, kitalah pemenang aslinya. Jangan biarkan masa depan Anda yang berharga tergadai hanya karena gengsi atau keinginan impulsif yang hanya bertahan beberapa menit.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan pandangan ekonomi Tere Liye ini, atau justru punya sudut pandang lain mengenai kemudahan teknologi finansial ini? Mari kita berbagi pendapat secara sehat di kolom komentar agar kita bisa saling belajar menjaga kesehatan kantong kita.

Komentar