Halo sobat ! Kembali lagi bareng aku, satu-satunya orang di Farming House (FH) yang kayaknya punya hubungan asmara yang sangat toxic sama sapu dan kemoceng. Di artikel sebelumnya, aku udah sedikit curhat gimana serunya (baca: capeknya) ngumpulin koin game demi sesuap nasi dan sebongkah berlian. Tapi kali ini, aku mau bahas sesuatu yang lebih krusial dari sekadar grinding koin: yaitu Grinding Debu dan Perang Melawan Sampah.
Jujur aja, hidup di FH itu ibarat main game RPG. Ada yang jadi attacker (si paling fokus cari koin), ada yang jadi support, dan ada aku yang entah kenapa malah dapat role sebagai NPC bagian bersih-bersih alias "Menteri Kebersihan" tanpa SK, tanpa gaji tambahan, tapi penuh dengan pengabdian.
Standar Bersih Kita Memang Beda, Kawan!
Awalnya, pas kita pindah ke FH yang sekarang, aku pikir kita semua punya visi yang sama soal kata "bersih". Ternyata aku salah besar. Standar bersih setiap orang itu emang beda-beda tipis sama standar kebahagiaan—abstrak banget! Di FH ini, nggak ada yang namanya jadwal piket yang ditempel di dinding pake kertas HVS yang udah menguning. Semuanya mengandalkan satu hal: Kesadaran Diri.
Dan kamu tahu kan? Kesadaran diri itu adalah barang langka di pasar gelap mana pun. Harganya jauh lebih mahal dari koin high-tier yang kita kumpulin tiap hari.
Teman-temanku itu sebenarnya baik, sumpah. Mereka mau kok bersih-bersih, tapi levelnya cuma "area sekitar tempat bermain". Kalau di sekitar meja PC mereka nggak ada sampah plastik yang menghalangi pergerakan mouse, ya dianggapnya dunia sudah suci dan damai. Beda sama aku. Aku nggak bisa lihat teras depan berdebu dikit aja, bawaannya pengen langsung orasi sambil pegang sapu. Dari teras depan sampai dapur, semuanya aku sikat bersih.
Ritual Bakar Sa
mpah: Tugas Suci Tiap Pagi
Selain nyapu, ada satu tugas "proyek besar" yang aku pegang sendiri: Logistik Persampahan. Aku itu tipe orang yang nggak bisa lihat sampah numpuk dikit. Rasanya kayak ada beban moral kalau sampah plastik bekas makanan atau kertas nggak segera dimusnahkan.
Tiap hari, aku keliling ngambilin sampah-sampah itu, terus aku buang dan aku bakar. Iya, dibakar sendiri! Kenapa harus tiap hari? Ya karena aku nggak mau FH kita jadi sarang semut, ulat, atau kecoa yang diam-diam ikut nungguin koin game kita cair. Dulu sih, Si C sempet rajin bantuin urus sampah ini. Pas awal-awal pindah, dia masih ada inisiatiflah buat buang-buang sampah. Tapi ya itu, "dulu". Sekarang? Sepertinya semangat kebersihannya sudah log-out permanen. Jadilah tugas suci ini kembali jatuh ke pundakku sepenuhnya.
Teori Konspirasi: Pembagian Tugas "Tak Kasat Mata"
Setelah sekian lama aku merasa jadi yang paling menderita, aku mulai merenung. Ternyata, tanpa kita sadari, di FH ini sudah terbentuk struktur organisasi yang sangat amat rahasia. Mari kita absen satu-satu:
1. Si A: Sang Penjaga Eksistensi (The Night Watch)
Si A ini anak yang suka nginep sampai 3 hari berturut-turut. Tugas mulianya? Memastikan FH nggak kosong. Dia juga memegang kendali penuh atas urusan lampu. Tapi, namanya juga manusia, Si A sering banget "korslet" jadwal tidurnya.
Sering terjadi momen epik di mana matahari sudah nongol dengan gagahnya, sinar sudah terang benderang menyinari bumi, tapi lampu teras dan lampu ruang tengah masih menyala terang benderang. Si A? Sudah deep sleep di depan monitor. Di sinilah peran "Menteri Kebersihan" merangkap "Menteri Energi" turun tangan. Kalau Si A ketiduran dan lupa matiin lampu pas matahari terbit, akulah yang diam-diam jalan keliling FH buat matiin saklar. Itung-itung bantu owner hemat token listrik, biar operasional FH lancar jaya!
2. Si B: Avatar Pengendali Air
Si B bertanggung jawab mengalirkan air dari musholla desa ke tandon FH lewat pompa air. Aku sengaja nggak mau tahu caranya! Karena kalau aku tahu, fix, daftar kerjaku makin panjang. Biarlah Si B yang memegang takdir air kami.
3. Si C: Mantan Chef & Petugas Sampah yang Pensiun
Dulu rajin masak nasi dan urus sampah. Sekarang? Dia sudah jarang masuk, dan semangat kerjanya sepertinya sudah habis barengan sama stok beras di dapur.
4. Si D: Kurir Gizi Antar Dimensi (Adikku & Aku)
Keluarga kami punya warung. Rekan-rekan sering banget nitip makanan ke kami. Lucunya, kalau di warung kami lagi nggak ada stok, kami bakal keliling cari ke tempat lain demi penuhi titipan mereka. Kita ini sudah kayak kurir makanan internal demi kelangsungan hidup para farmer.
5. Si E: Sang Runner Penyelamat Dompet
Pas ownwer masih hidup(sekarang digantiin istrinya) si E bareng si B jadi andalan buat beli cemilan mendadak atau ambil uang cash gajian buat teman-teman. Dia ini penyelamat buat yang butuh duit fisik di tangan secepat kilat.
Si Z: Sang "Paling Pemalas" yang Mengejutkan
Nah, sekarang kita bahas karakter yang paling fenomenal: Si Z. Kalau kalian tanya siapa orang yang paling jarang pegang sapu, paling jarang buang sampah, dan paling sering kelihatan santai pas yang lain lagi sibuk, jawabannya adalah Si Z. Di mata anak-anak lain, Si Z ini adalah MVP dalam kategori "Paling Pemalas". Kontribusinya untuk urusan harian? Hampir nol besar.
Tapi, ada satu babak dalam sejarah FH di mana Si Z berubah menjadi protagonist sejati. Kejadiannya saat momen krusial: Perpindahan ke FH Baru.
Kejadiannya bermula di FH lama saat kami sedang giliran shift malam. Saat itu ada beberapa teman yang tidak masuk, jadi kami yang ada di sana sedang asyik farming game. Tiba-tiba, almarhum owner datang memberi kabar mendadak: FH harus pindah saat itu juga!
Kami langsung buru-buru logout dari game. Di tengah kepanikan itu, seorang teman (yang sekarang sudah lama berhenti) membisikkan "ajakan sesat" kepadaku dan adikku.
"Eh, mending kita pulang aja yuk sekarang. Biar nggak disuruh-suruh angkat barang, capek," katanya.
Karena kondisi memang sudah sangat lelah, kami akhirnya terpengaruh dan memutuskan untuk pulang tanpa membantu apa-apa. Padahal, aset yang harus dipindah tidak main-main jumlahnya—mulai dari meja, kursi, sampai puluhan unit PC yang beratnya luar biasa.
Di sinilah "momen kejayaan" Si Z dimulai. Di saat kami semua kabur demi menghindari kerja bakti massal, Si Z yang selama ini dicap pemalas justru memilih bertahan. Saat FH baru dibuka, ia bercerita bahwa pada akhirnya, dialah yang menghandle semuanya sendirian bersama almarhum owner. Mulai dari mengangkat PC satu per satu, merapikan kabel yang ruwet, hingga memastikan FH baru siap pakai.
Ada satu cerita yang bikin aku agak merasa bersalah sekaligus terharu. Ternyata, saat proses pindahan itu, almarhum owner sudah menyiapkan gorengan dalam jumlah banyak sebagai camilan untuk kami yang membantu. Beliau mengira kami semua bakal gotong royong sampai selesai. Tapi faktanya? Begitu gorengan datang, nggak ada satu pun orang di sana kecuali Si Z.
Si Z makan gorengan itu berdua saja sama owner sambil lanjut angkat-angkat PC. Si "paling pemalas" ini ternyata adalah orang yang paling loyal di saat-saat terakhir perpindahan markas kami. Inilah plot twist terbesar di FH: si pemalas di urusan kecil, ternyata adalah pahlawan di urusan besar.
Kenapa Nggak Ngepel? Tolong Jangan Tanya!
Mungkin kamu nanya, "Loh, udah nyapu bersih gitu, kenapa nggak sekalian dipel?" Jawabannya cuma satu: Males, ah! Coba bayangkan, tugasuk tuh udah segunung. Nyapu satu rumah dari teras sampai dapur aja udah bikin keringetan kayak habis lari maraton, belum lagi urusan sampah, belum lagi urus jastip makanan, terus masih harus kerja di rumah lagi. Kalau disuruh ngepel juga, bisa-bisa aku berubah jadi debu beneran gara-gara kecapekan.
Lagian, di FH ini nggak butuh lantai yang mengkilap sampai bisa buat ngaca. Yang penting debunya nggak nempel di kaki aja udah sujud syukur. Tapi, aku punya solusi cerdas bin ajaib kalau ada lantai yang basah atau ketumpahan air.
Aku punya "senjata rahasia" berupa kain serbet legendaris. Dan kamu tahu apa itu? Itu sebenarnya adalah celana bekasku yang sudah pensiun dari tugas utamanya sebagai pakaian. Celana itu sudah mengabdi jadi serbet di FH ini selama satu tahun lebih! Wkwkwk. Estetik? Nggak. Tapi fungsional banget buat ngeringin lantai secara instan tanpa perlu repot-repot ambil pel-pelan. Inilah yang namanya upcycling ala anak farming!
Trauma Masa Lalu: Mengenang "Museum Sampah" di FH Lama
Kenapa aku se-obsessi ini soal kebersihan? Jujur, aku punya trauma psikis yang cukup dalam. Kamu belum tahu kan gimana kondisi FH yang lama? Kalau kamu ke sana, kamu mungkin bakal nyangka itu tempat pembuangan akhir.
Bayangin, di kolong meja itu sampahnya numpuk sampai kalau kaki kamu tanpa sengaja nyentuh bawah meja, rasanya kayak lagi injak rahasia kelam yang sudah membusuk bertahun-tahun. Lantainya? Debunya setebal dosa masa muda. Aku bersumpah dalam hati, FH yang baru ini nggak boleh jadi "Gudang Sampah Part 2".
Makanya, meski capek, aku usahakan tiap hari minimal nyapu keseluruhan tempat. Kalau kamar mandi dan area kompor? Ya seminggu beberapa kali lah, aku kan manusia, bukan robot pembersih otomatis yang baterainya nggak habis-habis.
Pelajaran Hidup dari Sapu dan Gorengan
Bekerja di FH bukan cuma soal berapa koin yang bisa kita hasilkan dalam sehari. Ini soal bagaimana kita bertahan hidup dalam sebuah komunitas mini dengan berbagai macam kepala.
Aku belajar bahwa:
Tanggung Jawab Tidak Selalu Tertulis: Seperti aku yang mematikan lampu Si A atau Si Z yang membereskan FH baru sendirian, kontribusi seringkali datang dari celah-celah yang tidak terlihat.
Jangan Menilai Orang dari "Malasnya": Si Z mengajarkanku bahwa orang yang terlihat tidak berguna di rutinitas harian mungkin adalah orang yang paling bisa diandalkan saat kondisi chaos.
Kebersihan adalah Investasi Mental: Tempat kerja yang bersih bikin kita nggak gampang stres saat harga koin lagi anjlok.
Jadi buat kamu yang mungkin lagi ngerasa jadi "si paling kerja bakti" di kantor atau di tempat nongkrong, sabar ya. Anggap aja lagi grinding pahala sambil nunggu koin game cair. Ingat, koin yang banyak nggak akan terasa nikmat kalau kaki kamu masih nempel debu pas mau tidur, atau kalau kamu bangun tidur dalam keadaan lampu masih menyala padahal sudah siang bolong!
Stay clean, stay cuan, dan jangan lupa titip makan di warungku ya!

Komentar