Ada sebuah rahasia yang saya simpan rapat-rapat dari pelanggan ruko maupun tetangga sekitar. Di luar sana, saya mungkin terlihat seperti manusia super dengan fisik yang ditempa kerja keras lapangan. Sebagai peternak yang juga menjaga ruko, otot saya sudah teruji oleh kerasnya realita. Fisik saya adalah hasil dari angkat beban yang sebenarnya—bukan beban besi yang statis di gym, melainkan beban hidup yang dinamis dan menguras keringat. Namun, semua kegagahan itu mendadak luntur, menguap, dan hilang tak berbekas begitu saya masuk ke rumah dan melihat satu objek yang lebih mengerikan dari hantu mana pun: tumpukan baju yang habis kering dijemur.
Bagi saya, melipat baju bukan sekadar pekerjaan rumah tangga biasa. Itu adalah ujian eksistensial yang membuktikan bahwa pria yang biasa angkat beban berat setiap hari sekalipun bisa takluk di tangan selembar daster atau kaos oblong yang kusut.
Ritual Pagi-Sore Melawan Karung Pemberat
"Olahraga" saya bukan angkat beban di bawah lampu neon gym yang wangi, melainkan duel maut melawan gravitasi setiap hari di kandang ayam. Karena kandang saya cukup banyak, sistem keamanannya pun harus ekstra manual. Setiap pagi dan sore, saya punya ritual wajib: memindahkan barikade pemberat pintu kandang agar maling tidak mudah beraksi.
Barikade ini bukan sekadar kayu ringan. Saya menggunakan sekitar empat karung pemberat yang masing-masing beratnya mencapai puluhan kilo. Isinya pun "ajaib"—mulai dari sandal bekas hingga serabut kelapa. Karung-karung ini makin hari makin berat secara tidak logis karena sudah bercampur tanah akibat ulah hewan kecil penghuni tanah dan resapan air hujan yang terjebak di dalamnya. Selain karung, benteng ini juga diperkuat dengan kayu-kayu besar dan pemberat lainnya seperti bekas bangku tua yang sudah rusak.
Pagi hari, saya seret dan angkat semua pemberat itu demi bisa masuk ke kandang. Setelah itu, saya masih harus mengangkat satu bak penuh pakan untuk dibagikan ke ayam-ayam saya. Ritual pemberian pakan ini pun dilakukan tiga kali sehari; sebuah repetisi tenaga yang konstan. Sore harinya, ritual penutup dilakukan dengan lebih serius; saya harus menata kembali karung-karung, kayu, dan bangku bekas itu tepat melintang di depan pintu agar maling malas jika mencoba mencuri. Berat totalnya mungkin mencapai ratusan kilo jika digabungkan, tapi saya jabanin demi keamanan aset.
Menjadi Kurir Gas dan Teknisi Dadakan di Ruko
Beban hidup tidak berhenti di kandang. Di ruko, saya adalah "atlet" angkat tabung gas LPG. Tugas saya bukan cuma menata stok di toko agar terlihat rapi dan simetris, tapi juga melayani jasa antar jemput. Saya harus memanggul tabung gas itu, melewati gang-gang sempit, lalu memasangkannya ke kompor pelanggan dengan presisi. Suruh saya angkat beban berat sampai urat leher keluar semua? Gas. Saya jabanin tanpa tapi.
Aktivitas fisik ini membuat saya merasa berguna. Ada energi yang tersalurkan dengan benar. Saya merasa gagah saat berhasil memasang regulator LPG milik ibu-ibu yang ketakutan mendengar suara desis gas. Namun, entah kenapa, kekuatan yang sama ini mendadak hilang tak berbekas begitu saya berhadapan dengan kain-kain lembut hasil jemuran di dalam rumah. Rasanya seperti ada bug dalam sistem saraf saya yang membuat tangan saya kaku seketika.
Perjuangan Memindahkan Air demi Mandi Keluarga
Jika Anda pikir angkat gas dan karung sudah cukup berat, mari kita bicara soal urusan air di rumah saya. Keluarga kami tidak memiliki pompa air listrik yang canggih. Masalah muncul saat debit air mengalir kecil; air tersebut tidak akan sanggup naik sendiri melewati pipa yang menjulang ke atas menuju bak mandi. Solusinya adalah solusi otot: air tersebut dialirkan terlebih dahulu ke tandon bawah yang menggunakan pipa rendah.
Dari tandon bawah itulah, tugas "angkat beban" saya dimulai. Saya harus mengangkut air secara manual menggunakan ember dari bagian belakang rumah menuju kamar mandi. Aktivitas ini bukan sekadar memindahkan air, tapi maraton kekuatan tangan dan punggung. Sering kali saya harus mengisi bak mandi itu sampai penuh hingga dua kali sehari. Bayangkan berapa liter air yang saya pindahkan secara manual setiap harinya. Bagi orang lain, ini mungkin siksaan fisik, tapi bagi saya, ini adalah bentuk tanggung jawab yang menyehatkan otot-otot bicep saya. Namun, ironinya tetap sama: tangan yang sanggup mengangkut berpuluh-puluh ember air ini akan gemetar tidak berdaya saat harus merapikan kerah kemeja.
Menaklukkan Piring di Lantai Dapur
Selain urusan kandang, ruko, dan air, saya punya satu lagi "medan tempur" harian: mencuci piring. Dalam sehari, saya bisa satu sampai tiga kali berjibaku dengan tumpukan piring kotor bekas keluarga. Ini adalah konsekuensi hidup bersama, di mana beberapa anggota keluarga terkadang susah diatur untuk langsung membereskan alat makan sendiri. Daripada melihat tumpukan piring menggunung dan mengundang bau serta kecoa, saya memilih turun tangan.
Tempat cuci piring saya bukan wastafel tinggi yang mewah. Tempatnya di bawah, di lantai biasa. Jadi, saya harus duduk rendah—entah itu jongkok atau bersila—menghadap ember dan kran air. Anehnya, meski harus duduk rendah di lantai dalam waktu lama sambil menyikat lemak sisa opor atau sambal yang membandel, saya tidak keberatan. Ada sensasi "perang" yang memuaskan: suara gesekan sabun, gemericik air, dan hasil instan berupa piring yang kembali kinclong bisa buat ngaca. Saya merasa menang setiap kali rak piring kembali rapi. Tapi, kenapa perasaan menang ini tidak pernah muncul saat saya duduk bersila di depan tumpukan baju?
Filosofi Gerak: Dinamis vs Statis
Kenapa saya lebih pilih memindah karung pemberat, mengangkut air, mengantar gas LPG, atau mencuci piring di lantai? Jawabannya sederhana: ada sensasi dinamis di sana. Ada gerak motorik yang nyata, ada adrenalin saat menaklukkan kekacauan. Singkatnya, saya adalah manusia kinestetik yang butuh bergerak secara masif agar merasa hidup. Aktivitas-aktivitas tersebut memiliki feedback yang instan. Karung pindah, pintu aman. Air terisi, keluarga bisa mandi. Piring bersih, dapur rapi.
Sedangkan melipat baju? Oh, itu adalah kegiatan paling statis yang pernah diciptakan manusia. Kita dipaksa duduk bersila—posisi yang hampir sama saat saya mencuci piring—tapi bedanya, melipat baju menuntut kita fokus pada detail sudut kain yang sangat membosankan. Bagi orang yang terbiasa angkat beban ratusan kilo di lapangan, melipat baju itu seperti menyuruh seekor gajah untuk menyulam kain sutra. Bisa saja dilakukan, tapi butuh perjuangan batin yang luar biasa hebat. Melipat baju menuntut kesabaran yang bersifat mikroskopis, sementara saya terbiasa dengan tantangan yang bersifat makroskopis.
Masalah Progres yang Sering Menipu
Dalam dunia manajemen proyek rumah tangga, melipat baju adalah pekerjaan dengan reward paling rendah tapi tingkat stres paling tinggi. Saat saya memindahkan karung pemberat, kayu-kayu pintu kandang, atau mengangkat bak pakan, hasilnya terlihat dalam hitungan menit. Kandang bersih, ayam kenyang, pintu aman terkunci. Piring pun sama; sekali bilas, langsung bersih dan bisa dipakai lagi. Bak mandi penuh pun memberikan kepuasan visual yang melegakan.
Tapi saat melipat baju, kita baru melipat lima potong, eh, tumpukannya masih kelihatan setinggi Gunung Everest. Belum lagi kalau kita sudah melipat dengan rapi, tiba-tiba ada kucing lewat atau keponakan datang lalu ditarik satu bagian bawahnya, buyar sudah tatanan yang dibangun dengan tetesan air mata itu. Sebuah siklus penderitaan tanpa akhir yang membuat saya berpikir: Kenapa sih manusia tidak pakai baju dari kertas sekali pakai saja? Sejujurnya, saya lebih rela mengisi bak mandi sepuluh kali daripada harus melipat satu keranjang baju selama satu jam.
Otot yang Tidak Berdaya di Depan Lengan Kaos
Secara fisik, pekerjaan saya sebagai peternak melibatkan otot besar (gross motor skills). Ada kepuasan saat otot punggung bekerja keras mengangkat gas LPG atau mengangkut ember air dari belakang rumah. Tapi melipat baju membutuhkan motorik halus (fine motor skills) yang tingkat presisinya setara dengan dokter bedah saraf.
Lengan kaos yang melintir sedikit saja sudah bikin lipatan tidak simetris. Kalau miring, dia bakal ambruk. Dan ambruknya tumpukan baju yang sudah setengah jadi adalah puncak penderitaan yang bisa membuat pria perkasa ingin menangis di pojokan ruko. Inilah ironinya: saya sanggup memindahkan barikade kandang yang berat dan memindahkan air tumpah-ruah, tapi saya menyerah kalau disuruh merapikan isi lemari. Saya lebih suka disuruh angkat beras dua karung sekaligus daripada disuruh melipat dua potong sprei yang cara melipatnya saja butuh tutorial YouTube berdurasi sepuluh menit.
Penutup : Perbanyaklah Hanger
Setelah bertahun-tahun merenungi nasib di sela-sela memberi makan ayam, memindah karung pemberat, dan melayani pelanggan gas, saya sampai pada satu kesimpulan: tidak semua orang diciptakan untuk menjadi ahli origami kain. Ada orang yang diciptakan untuk melakukan pekerjaan kasar yang butuh tenaga besar, dan ada orang yang memang punya kesabaran setebal kamus bahasa Inggris untuk melipat baju.
Kalau Anda seperti saya, saran saya cuma satu: Perbanyak Hanger. Kalau bisa, semua baju digantung saja di lemari. Jangan biarkan tumpukan baju itu menghakimi harga diri Anda. Kita memang gagah saat memikul beban ratusan kilo di kandang atau mengangkut berember-ember air, tapi kita tetaplah "remah-remah rengginang" di hadapan tumpukan jemuran yang belum dilipat selama tiga hari. Menjadi pria tangguh itu keren, tapi mengakui kalau kita kalah sama daster itu namanya jujur. Dan jujur adalah bagian dari iman, bukan? Lagi pula, daster istri atau ibu itu jauh lebih berat beban mentalnya daripada tabung gas 12 kilo atau karung pemberat kandang mana pun.

Komentar