Beberapa waktu lalu, sebuah komentar di jagat media sosial berhasil membuat dahi saya mengkerut sampai ke tengkuk. Dalam sebuah video yang menampilkan seseorang sedang menikmati makanan di sebuah restoran hingga piringnya bersih tak bersisa, seorang netizen dengan ringannya menulis: “Hii, malu-maluin banget. Kayak orang yang jarang makan enak aja sampai bersih gitu piringnya.”
Membaca itu, saya rasanya ingin mengirimkan teks Pancasila lengkap dengan buku Iqro ke rumah orang itu. Sejak kapan menghargai jerih payah petani padi, peternak, dan koki restoran menjadi sebuah tindakan yang memalukan? Sejak kapan piring yang mengkilap dianggap sebagai simbol kemiskinan, sementara gundukan sisa makanan yang mubazir dianggap sebagai lambang kemapanan?
Di negeri yang katanya menjunjung tinggi adab ini, tampaknya sedang berjangkit penyakit sosial baru: Gengsi Sisa Makanan. Sebuah fenomena di mana seseorang merasa derajat sosialnya naik beberapa tingkat jika ia menyisakan makanan di piring. Ada asumsi konyol kalau piringmu bersih, kamu adalah orang "susah" yang baru bisa makan mewah. Sebaliknya, kalau kamu menyisakan sepertiga porsi steak atau membiarkan nasi gorengmu tersisa beberapa sendok, kamu dianggap sebagai "orang kaya" yang saking seringnya makan enak, sampai-sampai tidak butuh menghabiskannya.
Ini ironi yang menyedihkan. Di saat netizen tersebut sibuk memuja gengsi dari tumpukan sampah, Indonesia justru sering masuk daftar negara pembuang makanan (food waste) terbesar di dunia. Jutaan orang memeras keringat demi sepiring nasi, sementara di layar ponsel kita, menyisakan makanan justru dijadikan standar kelas sosial.
Lapar Mata di Meja Kondangan
Membicarakan soal makanan sisa, saya tidak mau berlagak suci. Saya juga pernah jadi pelaku pemborosan. Kejadiannya saat saya masih SD. Kala itu, kondangan adalah momen "perbaikan gizi" paling dinanti. Karena belum mengerti konsep mubazir, saya sering gelap mata.
Saya ingat betul, saya mengambil hampir semua jenis lauk. Nasi saya tumpuk tinggi, ditambah rendang, mi goreng, sambal goreng ati, hingga kerupuk yang menutupi seluruh permukaan piring. Hasilnya? Piring itu tampak seperti gunung makanan yang tidak masuk akal untuk dihabiskan anak kecil. Benar saja, baru separuh jalan, perut saya menyerah. Sisa makanan di piring itu akhirnya teronggok lemas dan berakhir di tempat sampah.
Kejadian itu membekas. Ada rasa bersalah yang aneh saat melihat tumpukan makanan itu dibuang. Sejak saat itu, saya berjanji: tidak akan ada lagi nasi yang menangis di piring saya. Sekarang, kalau ambil makan sendiri, saya mulai dari porsi kecil. Kalau kurang, tinggal tambah. Itu jauh lebih ksatria daripada mengambil porsi macan tapi kapasitas lambung hanya setingkat teri.
Melawan Mitos "Ndeso" Lewat Kantong Plastik
Salah satu hal yang paling sering bikin orang "gengsian" adalah urusan membungkus sisa makanan di restoran. Padahal porsinya seringkali lebih besar dari kapasitas perut. Pilihan logisnya ya minta dibungkus (doggy bag). Tapi bagi kaum pemuja gengsi, ini dianggap tindakan "ndeso" atau tidak punya harga diri.
Logikanya begini: Kita sudah bayar makanan itu secara penuh, lengkap dengan pajaknya. Mengapa kita harus meninggalkan milik kita untuk dibuang oleh restoran? Membawa pulang sisa makanan itu bukan soal miskin, tapi soal menghargai nilai uang dan bahan pangan. Makanan itu bisa dipanaskan lagi atau diberikan kepada orang yang membutuhkan di jalanan.
Harga diri itu dibangun di atas integritas, bukan di atas tumpukan limbah. Saya lebih baik terlihat "ndeso" karena menjinjing kantong plastik berisi sisa pizza, daripada terlihat "keren" tapi meninggalkan tumpukan sampah yang cuma bakal menghasilkan gas metana dan merusak atmosfer bumi di TPA nanti.
Diplomasi Piring dan Nasib Nasi "Ditaning"
Sekarang, saya punya protokol pribadi yang mungkin dianggap memalukan oleh kaum elit medsos. Setiap kali makan di luar bersama pasangan, sebelum dia mulai menyuap, saya selalu interogasi: “Kamu yakin habis? Kalau ragu, sini aku pindahin sebagian ke piringku sekarang.”
Prinsip saya simpel: daripada nanti jadi sampah, lebih baik masuk ke perut saya yang memang siap menampung. Begitu juga saat acara tahlilan atau kenduri di desa. Biasanya nasi sudah ditaning—porsinya sudah ditakar tuan rumah. Karena porsinya ditentukan sepihak, seringkali keponakan saya yang masih kecil tidak sanggup menghabiskannya. Sebelum nasi itu mendingin dan berakhir di cucian piring, saya pastikan nasi itu berpindah ke piring saya. Ini bukan soal rakus, ini soal memastikan rezeki tidak terbuang sia-sia.
Dari Meja Makan ke Kandang Bebek
Pemanfaatan sisa makanan ini sebenarnya punya rantai manfaat yang luas. Sebagai orang yang punya ternak, saya melihat sisa makanan bukan sebagai sampah, tapi sumber nutrisi. Nasi sisa atau potongan sayur adalah berkah bagi bebek dan ayam. Selain menghemat biaya pakan, ini adalah cara paling organik untuk mengurangi limbah.
Bahkan kalau nasi sudah tidak layak makan pun, orang desa punya cara penyelamatan luar biasa: dijemur jadi nasi aking atau karak. Nasi kering ini punya nilai ekonomi; bisa dijual untuk pakan ternak skala besar atau jadi camilan. Melihat butiran nasi dijemur di atas tampah adalah pemandangan tentang bagaimana rakyat kecil menghargai rezeki hingga tetes terakhir. Makanan itu tidak berhenti jadi sampah, tapi kembali jadi energi atau uang. Ini sirkulasi kebaikan yang nyata, asal kita rajin mencucinya dulu agar tetap higienis untuk hewan.
Menjadi Membosankan adalah Perlawanan
Di dunia yang sudah terlalu "berisik" dengan pamer kemewahan, menjadi orang yang "membosankan" dengan piring bersih adalah sebuah perlawanan. Kita sedang di era di mana orang lebih takut dianggap miskin daripada dianggap tidak bersyukur. Lebih takut dianggap tidak gaul daripada dianggap merusak lingkungan.
Tapi bukankah jauh lebih "cool" kalau kita punya kendali penuh atas diri sendiri tanpa disetir komentar netizen? Menjadi membosankan artinya kita berani berkata "cukup". Kita tidak lagi lelah berlari mengejar standar hidup orang lain yang tidak ada habisnya. Ada ketenangan luar biasa saat kita bisa tidur nyenyak karena tahu piring kita bersih bukan karena rakus, tapi karena kita tahu cara berterima kasih pada alam, petani, dan jerih payah sendiri.
Berhentilah berlagak kaya dengan cara yang salah. Kalau ingin terlihat elit, donasikan uangmu ke panti asuhan, jangan siksa butiran nasi itu hanya demi validasi sosial yang semu. Dunia sudah penuh polusi; jangan ditambah lagi dengan sampah makanan hasil gengsi. Piring yang bersih adalah bukti bahwa kita tahu cara menghargai hidup. Menjadi membosankan ternyata jauh lebih menyelamatkan kewarasan daripada menjadi "keren" tapi kehilangan akal sehat.

Komentar