Langsung ke konten utama

Menjadi Buruh "Farming House": Saat Hantu Tak Lagi Seram Dibanding Maling dan Target Koin


Bagi banyak orang, rumah adalah tempat untuk pulang dan merebahkan penat. Namun bagi saya, rumah hanyalah persinggahan sementara untuk mengurus ternak dan menjaga dagangan dari pagi hingga sore. Hidup saya yang sebenarnya justru dimulai saat matahari tenggelam, di sebuah bangunan yang kami sebut Farming House (FH). Di sana, saya bukan sedang bertani padi atau jagung dalam arti harfiah, melainkan bertani koin digital di belantara dunia Lost Ark demi menyambung hidup dan membagi hasilnya dengan istri almarhum bos saya.

Bekerja di FH memiliki ritme yang tidak mengenal kalender merah. Prinsip saya sederhana: tiada hari tanpa kerja, kecuali raga ini benar-benar menyerah pada sakit. Saya mengambil shift malam setiap hari demi membagi waktu dengan urusan domestik di siang hari. Di dalam ruangan yang dipenuhi deru kipas CPU yang berputar kencang, saya menghabiskan waktu bersama tumpukan monitor yang memancarkan cahaya biru ke wajah saya. Namun, tantangan terbesarnya bukan pada tingkat kesulitan raid atau dungeon di game, melainkan pada lokasi gedung FH itu sendiri dan sunyi yang merayap dari luar.

Kesunyian Tegalan dan Bayang-bayang Makam Tionghoa

FH kami berdiri di lokasi yang bisa dibilang cukup terisolasi dan menyendiri. Tetangga hanya ada satu yang letaknya cukup dekat, sisanya adalah hamparan tegalan luas—sebutan kami untuk ladang terbengkalai yang ditumbuhi semak belukar dan tanaman liar yang tampak seperti bayangan raksasa yang bergerak-gerak saat tertiup angin malam. Namun, yang membuat atmosfer di sini jauh lebih "berat" adalah fakta bahwa beberapa ratus meter dari FH, terbentang kompleks pemakaman Tionghoa yang cukup luas.

Meskipun lokasinya agak sedikit berjarak, keberadaan "Bong China" itu seolah mengirimkan aura dingin yang konsisten ke arah bangunan kami. Di malam yang sangat sunyi, ingatan bahwa ada ratusan nisan besar yang membeku di kegelapan sana seringkali membuat bulu kuduk berdiri. Suasana di luar benar-benar mati, hanya menyisakan suara serangga malam yang saling bersahutan, seolah sedang berkomunikasi dengan entitas yang tidak terlihat. Suasana ini terasa semakin "bernyawa" sejak pemilik FH ini meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Lantai atas rumah tersebut kini kosong melompong dan gelap gulita. Sesuai dengan tradisi dan wasiat keluarga almarhum, lantai atas tidak boleh dimasuki, diusik, apalagi dibersihkan sebelum genap 40 hari kepergiannya. Jadi, secara teknis, setiap malam saya bekerja tepat di bawah sebuah ruangan hampa yang masih menyimpan sisa-sisa memori, pakaian, dan energi orang yang sudah tiada. Ruangan di atas kepala saya adalah kotak hitam yang menyimpan kenangan sekaligus misteri yang tak boleh disentuh.

Dalam urusan tim, saya beruntung memiliki seorang rekan yang sangat loyal. Dia adalah tipe orang yang sering menginap sampai tiga hari berturut-turut di FH karena merasa bertanggung jawab dan tidak mau tempat ini ditinggalkan dalam keadaan kosong. Lucunya, setiap kali dia merasa lelah dan ingin mengambil jatah libur untuk pulang, dia selalu bertanya dengan nada memastikan kepada saya, "Kamu masuk nggak malam ini?" Dan jawaban saya selalu konsisten, seperti sebuah mantra: "Tentu, tiada hari tanpa kerja." Begitu mendengar kalimat itu, dia akan menghela napas lega dan pulang dengan tenang, meninggalkan saya sebagai pendekar tunggal di tengah sunyinya tegalan yang berbatasan dengan pemakaman tersebut. Di saat itulah, kesunyian benar-benar menjadi kawan yang setia sekaligus lawan yang mengintimidasi.

Musik Jepang sebagai Benteng Pertahanan Mental

Untuk mengusir rasa mencekam, saya punya ritual sendiri. Sebagai penggemar musik Jepang, saya selalu memutar lagu-lagu J-Pop atau anisong sebagai latar belakang saat jari-jemari saya sibuk memencet keyboard. Terkadang saya memakai headset, tapi jika rasa sepi mulai terasa menindas, saya akan menyalakan pengeras suara agar ruangan tidak terasa hampa. Melodi Jepang yang ceria atau gahar menjadi benteng pertahanan mental saya agar tidak terlalu memikirkan apa yang sedang terjadi di lantai atas.

Bicara soal horor, FH ini sebenarnya sudah punya "penghuni" tetap. Teman kerja saya sering melihat sosok hantu perempuan atau mendengar suara-suara aneh. Saat owner masih hidup pun, kalau keluarganya sedang pergi liburan, lantai atas sering mengeluarkan suara gaduh. Kadang suara benda jatuh, kadang seperti langkah kaki yang menyeret. Kami mencoba berpikir positif, mungkin itu kucing atau cicak. Tapi lama-kelamaan, logika kami menyerah karena suara itu terlalu berpola. Hingga saat owner meninggal, suara-suara di atas seolah setia menemani saya "nguli" koin di benua Arkesia.

Anugerah Gampang Tidur di Tengah Suasana Mencekam

Anehnya, saya adalah tipe orang yang gampang tertidur. Seringkali, di tengah kesunyian yang mencekam itu, kepala saya jatuh terantuk meja. Saya bisa tiba-tiba terlelap di depan deretan monitor yang masih menampilkan karakter Lost Ark yang sedang idle, mengabaikan segala suara langkah kaki di atas kepala. Namun, ada satu momen yang tak akan saya lupakan. Suatu malam saat bekerja sendirian, saya ketiduran dengan sangat lelap. Saat terbangun, dunia mendadak hitam pekat. Mati lampu.

Dalam kondisi gelap gulita di tengah tegalan, bulu kuduk saya merinding hebat. Bukan karena hantu, tapi karena rasa takut akan kehadiran manusia jahat yang mungkin memanfaatkan kegelapan. Saya segera menyalakan senter HP, membuka YouTube sekadar untuk memecah sunyi dengan suara orang bicara, lalu menoleh ke kanan-kiri dengan waspada. Saya takut ada penjahat yang menerobos masuk saat saya lengah. Tapi kocaknya, karena rasa kantuk saya yang luar biasa, dalam kondisi mencekam dan gelap gulita itu pun saya akhirnya malah tertidur lagi hingga pagi. Setan atau maling, silakan antre, saya mau tidur dulu.

Mengendap-endap demi Keamanan Nyawa

Ketakutan saya pada manusia memang jauh lebih besar daripada pada hantu. Karena itulah, setiap kali saya bekerja sendiri, saya selalu mengunci gerbang depan dan semua pintu rumah dengan sangat rapat. Saya tidak mau memberikan celah sekecil pun bagi siapa pun untuk masuk tanpa izin. Pernah suatu malam, seorang teman datang mendadak. Dia mengira FH kosong karena gerbang tertutup rapat dan suasana sangat sepi. Begitu melihat saya buru-buru mengambil kunci dan membukakan pintu, dia tertawa sambil bertanya, "Dikunci, Dan?" Saya hanya bisa ikut tertawa kecil sambil menjawab, "Iya, dong." Kami berdua sama-sama tahu betapa rawan dan mencekamnya suasana FH kalau malam. Begitu dia pulang, tanpa menunggu lama, semua pintu langsung saya kunci rapat kembali.

Pernah dalam dua kesempatan, saya datang ke FH sendirian dan mendapati rumah dalam keadaan gelap karena anak shift pagi pulang terlalu cepat dan lupa menyalakan lampu. Berdiri di depan pintu rumah gelap di pinggir tegalan adalah ujian nyali. Pikiran saya liar: Bagaimana jika ada orang yang bersembunyi di dalam dengan niat membunuh?

Adrenalin saya terpacu hebat. Saya mengambil kunci di tempat persembunyian, lalu membuka pintu sepelan mungkin. Saya mengendap-endap masuk ke dalam kegelapan, tangan bersiaga meraba dinding mencari saklar. Klik. Satu lampu menyala, mata saya menyapu setiap sudut. Saya cek kamar mandi pelan-pelan, memeriksa kolong meja, hingga membuka pintu kamar dengan perasaan waswas. Bahkan, meski lantai atas dianggap terlarang, saya tetap naik ke atas dengan langkah tanpa suara, menyalakan lampu satu per satu demi memastikan tidak ada maling yang bersembunyi. Rasa takut kehilangan nyawa ternyata jauh lebih besar daripada ketakutan pada bayangan almarhum.

Ketika Studio Drum Kembali Berdentum

Beruntungnya, dalam satu bulan terakhir, saya tidak lagi merasa sekesepian itu. Suasana FH mulai terasa lebih "hidup". Keluarga almarhum owner sekarang sering berkunjung dalam seminggu. Mereka biasanya naik ke lantai atas untuk sekadar mampir atau bermain musik di studio milik almarhum. Almarhum memang sangat menyukai musik, terutama drum, dan mendengar suara tabuhan drum dari atas sekarang terasa seperti salam rindu almarhum daripada gangguan gaib.

Selain itu, adik saya juga mulai sering menemani jika saya dijadwalkan masuk sendiri. Dua rekan kerja lain yang sebelumnya sempat menghilang berminggu-minggu, kini mulai rutin masuk kembali. Sekarang, FH tidak lagi sesunyi dulu. Meski suara-suara aneh itu kadang masih ada, kini ia tenggelam di antara suara tawa adik saya, obrolan teman kerja, dan dentuman drum dari lantai atas. Bekerja di farming house memang melelahkan, tapi selama ada kawan, musik Jepang yang menemani, dan lampu yang menyala terang, tegalan di luar sana tak lagi terasa mengancam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...