Menjadi anak bungsu sering kali dianggap sebagai sebuah anugerah tak bertepi. Dalam persepsi publik secara umum, bungsu adalah spesies paling dimanja, kerjanya hanya meminta jajan, dan jika ada masalah, mereka tinggal berlindung di balik punggung kakak atau orang tuanya. Namun, di rumah kami, narasi tersebut hanyalah mitos belaka yang jauh dari kenyataan pahit sehari-hari. Di sini, posisi bungsu bukan berarti bebas tugas, melainkan justru menjadi pemegang kunci operasional keluarga yang tidak mengenal tanggal merah. Di saat orang lain bisa beristirahat di hari libur, ia justru menjadi orang pertama yang harus menghadapi realitas kerja fisik yang berat demi kenyamanan anggota keluarga lainnya. Ia adalah mesin yang tidak boleh berhenti, detak jantung dari ruko dan kandang yang terus berdenyut.
Adik bungsu saya adalah sosok "tulang punggung" sesungguhnya di rumah ini. Jam kerjanya dimulai sejak fajar menyingsing, jauh sebelum matahari benar-benar menampakkan diri, dan baru benar-benar selesai saat orang lain sudah meringkuk di balik selimut. Namun, ia tidak sendirian dalam dedikasi tanpa batas ini. Di puncak hierarki pengabdian domestik ini, ada Ibu. Jika rumah kami diibaratkan sebuah perusahaan besar, Ibu dan Si Bungsu adalah duet maut yang memastikan seluruh roda kehidupan kami tetap berputar. Mereka adalah jangkar yang menahan kapal keluarga ini agar tidak karam, meskipun anggota keluarga lainnya memiliki ritme kerja dan suasana hati yang sering kali sulit untuk diprediksi. Tanpa mereka berdua, rumah ini akan segera kehilangan arah dan kekuatannya.
1. Tangan Dingin Ibu di Balik Dapur dan Sudut-Sudut Rumah
Meskipun secara usia Ibu adalah yang tertua di rumah ini, soal urusan ketahanan fisik dan kerajinan, beliau tetap berada di peringkat satu yang tak tergoyahkan. Ibu adalah orang yang paling jarang terlihat duduk beristirahat atau sekadar menikmati waktu santai. Beliau adalah sosok utama di balik layar yang memastikan rumah ini layak disebut tempat tinggal yang nyaman bagi semua orang. Urusan kebersihan, mulai dari setiap sudut teras depan hingga area dapur yang paling belakang, sepenuhnya berada dalam kendali tangan dingin beliau. Tanpa sentuhan Ibu, rumah ini mungkin akan segera kehilangan jiwanya dan berubah menjadi tempat yang berantakan.
Salah satu tantangan harian terbesar yang dihadapi Ibu adalah urusan dapur dan ruang makan. Di rumah ini, terdapat beberapa anggota keluarga yang sangat sulit jika diminta untuk mencuci piring segera setelah mereka memakainya. Akibatnya, perkakas dapur, piring, dan gelas sering kali menumpuk tinggi di bak cuci piring seolah tidak ada habisnya. Pemandangan tumpukan piring kotor ini menjadi beban tambahan yang harus dihadapi Ibu setiap harinya. Tanpa banyak bicara dan tanpa keluhan yang berarti, Ibu sering kali mengalah dan membereskan tumpukan itu sendiri demi menjaga kerapian dapur agar tetap layak digunakan untuk memasak sesi berikutnya.
Beban Ibu tidak berhenti di dapur saja. Ada satu aspek krusial dalam kebersihan rumah yang sering kali luput dari perhatian anggota keluarga lain, namun menjadi beban rutin bagi Ibu dan saya: kebersihan kamar mandi. Dalam sebuah rumah yang dihuni oleh banyak kepala, kamar mandi menjadi fasilitas yang paling sering digunakan dan, tentu saja, yang paling cepat kotor. Sayangnya, kesadaran untuk menjaga kebersihan area ini sangatlah minim di kalangan penghuni lain. Hanya Ibu dan saya yang memiliki inisiatif serta kemauan untuk menyikat lantai, membersihkan dinding, hingga memastikan bak mandi tetap higienis. Anggota keluarga yang lain seolah-olah menganggap bahwa kamar mandi akan bersih dengan sendirinya melalui keajaiban. Ibu biasanya mengerjakan bagian ini di sela-sela kesibukan dapurnya, memastikan sanitasi tetap terjaga meskipun tidak pernah ada apresiasi khusus untuk tugas sunyi ini.
2. Cerita Si Bungsu yang Jadi "Ayah" Sekaligus Pekerja Keras
Sementara Ibu menjaga stabilitas bagian dalam rumah, adik bungsu saya adalah eksekutor lapangannya. Ia memiliki sifat "nggak tegaan" yang sangat kuat, terutama jika ia mulai melihat guratan kelelahan di wajah Ibu. Sifat inilah yang membuat hampir semua urusan yang menguras fisik secara alami bergeser ke pundaknya. Seolah-olah, ada tanggung jawab moral yang ia pikul sendiri untuk memastikan beban Ibu sedikit berkurang, meskipun itu berarti ia harus mengorbankan waktu istirahat pribadinya.
Setiap pagi, ia harus berkeliling mencari sisa makanan pasar untuk pakan tambahan ternak dan belanja kebutuhan pakan pabrikan ke toko langganan. Setelah urusan kandang beres, ia tidak lantas beristirahat, melainkan lanjut memikul stok tabung gas LPG yang berat untuk persediaan ruko termasuk pengantaran gas LPG saat ada pembeli minta diantarain atau dipasangin di rumahnya.
Selain urusan ternak dan logistik gas LPG ruko, adik saya memikul tanggung jawab besar sebagai "wali" bagi keponakan-keponakannya. Setiap hari, ia bertugas antar-jemput dua keponakannya yang masih duduk di bangku SD. Ia juga harus mengantar keponakan yang sudah SMA menuju mobil jemputan yang membawanya ke sekolah bersama siswa lainnya.
Peran ini terasa lebih berat karena adanya kekosongan figur ayah bagi keponakan-keponakan tersebut. Ayah mereka telah menikah lagi dan memilih untuk tidak lagi mempedulikan nasib anak-anaknya. Alhasil, adik sayalah yang maju di garda terdepan sebagai pengganti peran ayah yang hilang. Jika ada panggilan dari sekolah, seperti rapat wali murid atau agenda pengambilan rapor, adik saya yang selalu datang mewakili jika Mbak atau ibu dari keponakan sedang berhalangan kerja di pabrik. Ia memosisikan diri sebagai pelindung bagi keponakannya, memastikan mereka tetap mendapatkan perhatian pendidikan yang layak. Ia adalah sosok pelindung, kurir, jagal, dan wali dalam satu tubuh yang sangat jarang mengeluh.
3. Mengelola "Satu Dompet" Lewat Kepercayaan Penuh
Salah satu pilar yang menjaga rumah ini tetap berdiri adalah sistem pengelolaan keuangan yang unik namun didasari kepercayaan penuh. Rumah kami sebenarnya menampung dua keluarga, namun demi efisiensi dan kebersamaan, semua aliran dana dikelola secara terpusat. Uang hasil kerja dari satu keluarga, ditambah dengan hasil usaha lainnya seperti ruko dan ternak, dikumpulkan menjadi satu pintu. Tidak ada dompet yang saling terpisah ketika berurusan dengan kebutuhan hidup bersama; semuanya melebur menjadi satu kekuatan ekonomi.
Di sinilah peran vital Ibu dan Si Bungsu kembali terlihat. Mereka berdua adalah pemegang amanah yang mengelola seluruh kas keluarga tersebut. Karena sifat mereka yang rajin, jujur, dan lurus, anggota keluarga lain merasa paling aman jika uang tersebut dipegang oleh mereka. Ibu dan adik saya bahu-membahu mengatur agar uang yang terkumpul cukup untuk membiayai segala kebutuhan, mulai dari biaya sekolah keponakan-keponakan, operasional dapur harian, hingga modal untuk perputaran usaha ruko dan ternak. Tanggung jawab ini bukanlah hal yang mudah, karena mereka harus menyeimbangkan banyak kepentingan dalam satu wadah keuangan, namun mereka melakukannya dengan penuh dedikasi demi kesejahteraan seluruh penghuni rumah.
4. Peran Saya Mengakali Pakan Ternak dan Menjaga Ruko
Saya berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi ritme kerja keluarga yang sangat cepat. Sebagai pekerja malam di bidang farming game, waktu pagi hingga sore saya dedikasikan sepenuhnya untuk menjaga ruko agar Ibu bisa fokus pada urusan lainnya. Namun, peran saya jauh melampaui sekadar menjaga toko; saya mengambil tanggung jawab penuh atas operasional peternakan rumah tangga kami.
Setiap harinya, saya adalah orang yang bertanggung jawab penuh merawat ayam-ayam kami. Mulai dari mengeluarkan ayam dari kandang di pagi hari dan memasukkannya kembali saat petang, hingga memastikan kebersihan kandang tetap terjaga. Saya juga berperan krusial sebagai ahli strategi pakan. Sadar bahwa biaya pakan pabrikan dapat mencekik ekonomi keluarga, saya meracik pakan fermentasi sendiri dengan mengolah bahan organik dari pasar agar nutrisi tetap terpenuhi secara efisien. Selain itu, saya memastikan sanitasi lingkungan tetap terkendali dengan rutin membuang sampah rumah tangga sebanyak dua ember besar setiap harinya.
Di sela-sela melayani pelanggan, saya sering kali turun tangan di dapur dan kamar mandi untuk meringankan beban Ibu. Saya sadar betapa lelahnya Ibu melihat tumpukan piring kotor atau kamar mandi yang mulai berkerak. Oleh karena itu, saya rutin mengambil alih tugas menyikat kamar mandi secara total dan membersihkan gunung perkakas dapur. Tugas fisik lainnya, seperti mengisi bak mandi secara manual saat debit air kecil (meskipu n agggota keluarga lain juga ikut andil,namun saya memastikan diri untuk menjadi garda terdepan dalam memantau ketersediaan air tersebut bersama ibu) hingga memasang tabung gas LPG untuk pelanggan ruko, telah menjadi bagian dari rutinitas harian saya.
Meski tenaga terkuras pada tugas fisik, saya tetap menjaga produktivitas di sektor digital. Saya terus mengelola bisnis online dan menulis artikel untuk menambah pundi-pundi ekonomi keluarga. Bagi saya, tidak ada tugas yang terlalu kecil atau terlalu berat selama itu bisa menjaga keseimbangan beban kerja di dalam rumah kami.
5. Sisi Lain Mbak dan Keponakan yang Tak Terduga
Di sisi lain, ada Mbak saya dan anaknya yang sudah SMA dengan dinamika peran yang cukup unik. Mbak saya bekerja sangat keras di sebuah pabrik kayu, sebuah profesi yang sangat menuntut fisik dan menguras tenaga. Saat sedang libur, fokus utamanya adalah menyelesaikan urusan domestik, seperti mencuci tumpukan pakaian dia dan anaknya. Di sela-sela itu, ia juga tetap membantu menjaga ruko bersama anaknya yang SMA menggantikan saya (saya bersyukur pekerjaan saya berkurang) dan mengisi bak kamar mandi.
Di balik semua kesibukan itu, ada kontribusi Mbak yang sangat kami syukuri terkait urusan ternak. Selain adik bungsu yang rutin mencari pakan, Mbak juga sering membantu mengurus pakan tambahan. Ternyata hal ini berkaitan dengan sosoknya yang hobi berjalan-jalan; menariknya, kegemaran ini membawa manfaat besar karena ia sering kali mencarikan pakan. Berkat inisiatifnya tersebut, stok pakan tambahan menjadi melimpah, yang secara langsung meringankan beban biaya produksi ternak kami secara signifikan.
Sementara itu, anaknya yang SMA juga memiliki pola bantuan yang menarik meski tidak menentu. Sehari-harinya, ia memang cenderung fokus pada dunianya sendiri dan jarang membantu urusan rumah tangga. Namun, ada kalanya—entah dalam siklus mingguan atau bulanan—ia tiba-tiba berubah menjadi sangat rajin. Dalam momen tersebut, ia bisa membersihkan rumah dengan sangat telaten, bahkan ikut mengangkat air secara manual untuk mengisi bak mandi. Kehadiran mereka berdua di ruko saat libur memberikan ruang bagi saya untuk lebih fokus pada urusan teknis seperti meracik pakan fermentasi.
Meskipun bantuan mereka sangat berarti, kami tetap harus menjaga pola komunikasi dengan sangat hati-hati. Mbak dan keponakan saya cenderung sulit jika bantuan tersebut bersifat "suruhan" atau permintaan mendadak, apalagi jika suasana hati mereka sedang tidak stabil atau gampang emosi (kumat). Mbak saya juga memiliki kebiasaan menunda cuci piring hingga menumpuk, yang sering kali membuat Ibu atau saya tidak sabar dan akhirnya mengerjakannya lebih dulu. Karena itulah, kami jarang meminta bantuan secara langsung kepada mereka. Kami lebih memilih membiarkan bantuan itu datang secara alami dari inisiatif mereka sendiri demi menjaga ketenangan dan kedamaian di dalam rumah.
Penutup
Melihat dinamika ini, saya menyadari bahwa menjadi orang yang terlalu bisa diandalkan terkadang adalah sebuah tanggung jawab yang sunyi namun sangat berat. Karena ada Ibu dan Si Bungsu yang selalu sigap bergerak dan tidak pernah menolak tugas, anggota keluarga yang lain secara tidak sadar merasa memiliki sandaran yang kuat. Kedekatan dan saling pengertian di antara kami bertigalah yang selama ini menjaga agar seluruh roda kehidupan keluarga ini tetap seimbang dan berjalan semestinya.
Ibu dengan ketulusannya menjaga kebersihan rumah dan manajemen keuangan, serta Si Bungsu dengan otot dan dedikasinya sebagai wali keluarga, adalah fondasi utama kami. Melalui sinergi di antara kami, dibantu dengan kontribusi Mbak dan keponakan pada waktu-waktu tertentu, seluruh operasional ruko, masa depan pendidikan keponakan, dan keharmonisan rumah ini dapat terjaga dengan baik. Menjadi bagian dari keluarga dengan dinamika yang kompleks seperti ini mengajarkan kami bahwa setiap peran, sekecil apa pun itu, memiliki arti penting dalam memastikan semua orang bisa melangkah maju setiap harinya dalam ikatan kasih sayang yang kuat.

Komentar