Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Bencana Banjir, Kayu Gelondongan, dan Pernyataan Pejabat yang Bikin "Hanyut" Logika

Aku marah. Serius, siapa yang nggak emosi membaca berita belakangan ini? Di saat warga sedang sibuk menguras lumpur, menyelamatkan sisa harta, bahkan menangisi keluarga yang jadi korban banjir bandang, tiba-tiba muncul pernyataan dari seorang menteri yang rasanya seperti menabur garam di atas luka yang masih menganga. Coba bayangkan: ribuan gelondongan kayu hanyut menghantam pemukiman. Bukti fisik bertebaran di mana-mana. Tapi, narasi yang keluar dari pusat justru bilang itu "roboh alami" karena tanah longsor, bukan akibat pembalakan liar. Hah? Gimana konsepnya, Pak? Pernyataan ini jelas bikin aku—dan mungkin jutaan warga lain—merasa logika kita sedang dipermainkan. Kayu Gelondongan vs "Roboh Alami" Ayo kita pakai akal sehat saja, nggak usah pakai bahasa langit. Kalau satu atau dua pohon tumbang karena angin atau tanah labil, itu namanya musibah alami. Masuk akal. Tapi kalau yang hanyut itu kayu gelondongan dalam jumlah massal, potongannya rapi, atau bahkan sisa-sis...

Gagal Foya-Foya Bukan Salah Keluarga: Ubah "Mindset Korban" Jadi "Mindset Tanggung Jawab"

  Gue punya teman, sebut aja namanya Budi. Nah, si Budi ini punya keponakan yang masih sekolah, sebut aja Vina . Vina disekolahkan di sekolah favorit, lho. Semua keperluan sekolahnya dituruti, termasuk laptop baru yang menunjang belajarnya. Faktanya, keluarga Vina ini hidup benar-benar pas-pasan. Mereka berjuang mati-matian. Demi Vina bisa punya semua fasilitas itu, mereka sampai harus makai duit cadangan . Dan yang paling bikin hati teriris, salah satu anggota keluarganya sampai kerja hampir seharian, cuma tidur 2 jam demi memastikan biaya sekolah Vina aman. Ayah kandung Vina sudah menikah lagi dan nggak peduli. Bahkan, adik tirinya juga ditinggal oleh ayahnya, menambah beban emosional dan finansial keluarga. Namun, pengorbanan sebesar itu dibalas dengan kepahitan. Vina nggak cuma ngeluh ke Budi, tapi juga ke Nenek, Ibu, dan Omnya. Keluhannya selalu sama: menyalahkan keluarga karena miskin sehingga dia nggak bisa foya-foya seperti teman-temannya. Ironisnya lagi, Vina ini sangat p...