Minggu-minggu ini menjadi waktu yang cukup melelahkan sekaligus sangat memuaskan bagi saya. Seluruh tubuh rasanya pegal, tangan kapalan, dan punggung terasa kaku karena seharian bergelut dengan kayu dan palu. Tapi jujur saja, ada rasa bangga yang menyeruak setiap kali saya berdiri di pintu belakang dan menengok ke arah lahan sisa di sana. Baru saja saya merampungkan renovasi besar-besaran pada kandang bebek yang selama ini menjadi sandaran ekonomi utama keluarga kami.
Tidak hanya sekadar mengganti genteng yang pecah atau memperbaiki atap yang bocor, kali ini saya memutuskan untuk melakukan ekspansi kecil-kecilan. Saya membangun kandang umbaran ayam yang dibuat sejajar dengan kandang bebek. Melihat deretan kandang yang kini tampak rapi, kokoh, dan tertata sejajar di sepanjang tembok tua itu memberikan kepuasan batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ayam-ayam kini punya ruang lebih luas untuk mengepakkan sayap, sementara bebek-bebek punya hunian yang lebih layak. Namun, di balik riuhnya suara paku yang beradu dengan martil, pikiran saya seringkali melayang ke memori lama—tentang bagaimana perjuangan saya memanfaatkan lahan ini seringkali menjadi buah bibir yang kurang sedap di telinga sebagian orang.
Nostalgia Kejayaan yang Kini Terbengkalai
Lahan yang saya tempati ini sebenarnya menyimpan sejarah panjang yang cukup melankolis. Tepat di belakang rumah saya, berdiri tegak sebuah tembok raksasa yang tampak kusam dan dipenuhi lumut. Tembok itu adalah sisa-sisa dari pabrik pupuk yang dulunya sangat berjaya dan menjadi pusat denyut nadi ekonomi warga sekitar belasan tahun lalu. Sekarang? Pabrik itu hanyalah rongsokan beton raksasa yang membisu. Bagian dalamnya sudah rusak parah, mesin-mesin besarnya sudah entah ke mana, dan atap sengnya mungkin sudah banyak yang terbang ditiup angin atau hancur dimakan karat.
Namun, di tengah puing-puing kerusakan itu, kehidupan baru justru muncul secara alami. Karena sudah tidak digunakan lagi oleh pemilik aslinya, bagian dalam pabrik itu kini berubah fungsi berkat kreativitas warga. Ada area yang cukup luas dan berlantaikan semen rata yang akhirnya dimanfaatkan anak-anak muda sebagai lapangan voli dan sepak bola. Sore hari biasanya suasana di sini sangat riuh, penuh tawa dan keringat. Sebagian area lainnya sudah ditumbuhi berbagai macam tanaman liar, semak, dan pepohonan yang sengaja ditanam warga untuk sekadar peneduh.
Persis di sisi timur tembok pabrik itulah, terbentang lahan milik institusi stasiun kereta api. Di sinilah saya mendirikan "kerajaan" kecil saya. Dengan cerdik, saya memanfaatkan kokohnya tembok luar pabrik sebagai sandaran bangunan kandang. Saya menyulap lahan tidur yang dulunya semak belukar ini menjadi barisan kandang produktif yang kini sudah jauh lebih rapi setelah renovasi kemarin.
Meluruskan Status Tanah: Pak RT atau Stasiun?
Salah satu hal yang paling mengganjal di hati saya dulu—bahkan sempat membuat saya sulit tidur—adalah tudingan miring dari segelintir orang bahwa saya menyerobot tanah milik Pak RT. Jujur saja, saat pertama kali mendengar kabar itu dari salah satu kawan, saya merasa heran sekaligus ingin tertawa. Bagaimana mungkin orang-orang yang hanya melihat dari jauh, yang jarang sekali menginjakkan kaki di area belakang ini, bisa merasa lebih tahu tentang status kepemilikan tanah daripada saya yang setiap hari berkutat dan membersihkan area tersebut?
Mari kita bicara data dan fakta lapangan yang bisa dicek siapa saja. Secara administratif dan fisik, batas-batas tanah di lingkungan kita sebenarnya sudah sangat jelas. Ada patok-patok beton yang menandai mana lahan warga dan mana lahan milik institusi negara. Lahan yang saya gunakan untuk kandang bebek dan area umbaran ayam yang baru saja selesai saya bangun ini berada di wilayah milik stasiun kereta api, bukan tanah pribadi milik Pak RT.
Logikanya sangat sederhana: Pak RT adalah tokoh masyarakat yang melek hukum dan sangat dihormati. Jika memang saya secara serampangan memakai tanah pribadi beliau, sudah pasti sejak pertama kali saya memaku kayu pertama, beliau akan langsung menegur saya. Tapi faktanya? Beliau justru sering menyapa saya dengan ramah. Lalu, kenapa justru orang lain yang sibuk "kebakaran jenggot"? Inilah potret unik masyarakat kita; terkadang tetangga merasa memiliki hak kontrol yang jauh melebihi pemilik aslinya. Tapi syukurlah, seiring berjalannya waktu dan bukti kerja nyata saya, omongan-omongan miring itu mulai menghilang ditiup angin. Mungkin mereka sudah bosan, atau mungkin saya yang sudah terlalu fokus mengurus bebek sampai telinga saya otomatis melakukan "filter" terhadap energi negatif.
"Daripada Tidak Terpake, Kan?"
Prinsip saya dalam hidup ini simpel saja: Pemanfaatan Lahan Tidur. Saya sering merasa sangat sayang melihat sebidang tanah yang hanya ditumbuhi semak belukar setinggi dada manusia. Lahan seperti itu sangat berisiko menjadi sarang ular, tempat berkembang biak nyamuk, atau bahkan lokasi pembuangan sampah sembarangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Daripada dibiarkan tidak terpakai dan malah menjadi sumber penyakit, jauh lebih baik dikelola untuk sesuatu yang produktif dan menghasilkan cuan.
Saya sangat sadar diri bahwa saya tidak memiliki sertifikat hak milik atas tanah ini. Saya hanya menempati lahan milik stasiun dan bersandar pada tembok milik pabrik pupuk. Posisi saya sangat jelas: saya adalah seorang "penumpang" sementara yang sedang mencoba mandiri secara ekonomi di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Jika suatu hari nanti pihak stasiun atau pengelola pabrik pupuk membutuhkan lahan dan tembok itu kembali untuk kepentingan negara, saya sudah menyiapkan mental untuk dua skenario:
Negosiasi: Jika diizinkan, saya dengan senang hati bersedia membayar sewa atau memberikan kompensasi secara resmi agar usaha ternak ini bisa tetap berjalan.
Keikhlasan: Jika prosedur mengharuskan lahan itu dikosongkan tanpa kecuali, saya mempersilakan mereka untuk membongkarnya. Saya tidak akan menuntut ganti rugi sepeser pun karena saya tahu diri saya hanya menumpang.
Selama hari itu belum tiba, saya akan terus merawat tempat ini. Toh, kami melakukan ini semua karena butuh uang untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anak, bukan untuk pamer kekayaan atau gaya-gayaan.
Pesan untuk yang Suka Iri: Kenapa Tidak Meniru?
Saya sering berpikir di tengah kesunyian malam saat memberi makan ternak, daripada menghabiskan energi yang berharga untuk membicarakan keberhasilan kecil tetangga, bukankah lebih baik energi itu dipakai untuk memikirkan sesuatu yang bisa menghasilkan? Rasa iri itu sifatnya merusak diri sendiri, sementara bekerja itu sifatnya membangun masa depan.
Sebenarnya, peluang untuk memanfaatkan lahan sisa itu terbuka sangat lebar bagi siapa saja di lingkungan kita. Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja tetangga saya yang lain. Beliau jauh lebih "bernyawa" dan berani daripada saya dalam memanfaatkan lahan pabrik. Beliau masuk jauh ke bagian dalam pabrik pupuk yang sudah rusak itu dan menanaminya dengan pohon pisang serta singkong. Hasilnya? Beliau bisa panen secara rutin dan hasilnya bisa dinikmati keluarga.
Ada juga tetangga lain yang dulu sempat membangun kandang ayam di sisi lain tembok. Meski sekarang kandangnya terlihat sudah agak rusak karena faktor usia, beliau tetap konsisten menjaga area tersebut agar tetap bersih. Saya sangat menghargai orang-orang seperti mereka. Mereka adalah tipe orang-orang yang memilih untuk "bergerak", bukan tipe orang yang hanya berdiri di pinggir jalan sambil mengomentari cara orang lain berjalan.
Jika saya bisa membangun kandang bebek dan ayam di pinggiran tembok tua ini, Anda pun pasti bisa mencari sudut lahan kosong lainnya untuk dijadikan lahan produktif. Daripada ngiri melihat kandang saya yang sekarang sudah rapi, lebih baik mari kita sama-sama menghijaukan atau meramaikan lahan-lahan tidur yang ada di sekitar kita.
Penutup: Mari Saling Menghargai Ikhtiar
Dunia ini sudah cukup keras dan penuh tantangan, jadi tolong jangan ditambah lagi dengan bumbu permusuhan antar-tetangga hanya karena masalah lahan yang sebenarnya bukan milik kita secara pribadi. Saya sangat bersyukur sekarang suara-suara sumbang itu sudah mereda. Mungkin orang-orang mulai melihat bahwa apa yang saya lakukan tidak merugikan siapa pun, justru malah memberikan dampak positif. Dengan adanya aktivitas rutin di sini, area belakang pabrik yang dulunya angker kini jadi tidak sesunyi dan semengerikan dulu.
Kandang bebek saya yang baru diperbaiki dan kandang umbaran ayam yang sejajar itu adalah simbol dari kerja keras, keteguhan hati, dan harapan besar. Harapan agar ekonomi keluarga tetap terjaga dan hubungan antar-tetangga tetap harmonis tanpa harus dibumbui rasa iri yang tidak perlu. Semoga saja pihak stasiun dan pabrik tetap memberikan izin bagi warga kecil seperti kami untuk memanfaatkan lahan ini dalam waktu yang lama. Dan bagi siapa pun yang masih merasa kurang nyaman, pintu rumah saya selalu terbuka untuk diskusi yang sehat, bukan bisik-bisik di belakang. Mari kita fokus pada isi piring masing-masing dengan cara yang halal dan bermanfaat bagi lingkungan.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah memanfaatkan lahan tidur milik instansi bisa dikenakan sanksi? Secara hukum, penggunaan lahan tanpa izin memang memiliki risiko penertiban. Namun, biasanya instansi memberikan toleransi selama lahan tersebut tidak sedang digunakan, tidak dibangun bangunan permanen berbahan beton, dan pemakai lahan siap pindah kapan saja jika lahan dibutuhkan oleh pemilik resminya.
2. Bagaimana cara paling elegan menghadapi tetangga yang iri dengan usaha kita? Cara terbaik adalah dengan tetap bersikap ramah namun tetap fokus pada pekerjaan. Jangan membalas dengan sindiran. Biarkan hasil kerja keras dan manfaat lingkungan (seperti lahan yang jadi bersih) yang menjawab tudingan mereka secara alami.
3. Apa saja keuntungan memanfaatkan lahan sisa tembok pabrik untuk kandang? Sisi positifnya adalah penghematan biaya konstruksi karena kita tidak perlu membangun satu sisi tembok lagi. Selain itu, tembok pabrik tua biasanya sangat tebal sehingga mampu meredam panas matahari dan menjaga suhu di dalam kandang tetap stabil bagi ternak.
4. Apakah bau kandang bebek tidak diprotes oleh warga sekitar? Inilah pentingnya renovasi dan perawatan rutin. Dengan membuat kandang yang rapi dan memiliki sistem umbaran yang sejajar, sirkulasi udara menjadi lebih baik. Penggunaan sekam padi atau kapur secara rutin juga sangat efektif untuk menekan aroma tidak sedap agar tidak mengganggu pemukiman.
Tags: Pemanfaatan Lahan Tidur, Tips Ternak Bebek, Renovasi Kandang Ayam, Hubungan Bertetangga, Ekonomi Kreatif Desa, Lahan Stasiun Kereta, Ide Usaha Sampingan, Cara Mengatasi Tetangga Iri, Bisnis Mandiri.

Komentar