Langsung ke konten utama

Menikah Itu Ibadah, Pamer "Grepe-Grepe" Itu Musibah: Sebuah Pesan untuk Pengantin Baru yang Overproud

Menikah memang pencapaian. Di tengah gempuran pertanyaan "kapan kawin?" dari tante-tante di kondangan, berhasil duduk di pelaminan adalah sebuah kemenangan telak. Tapi, ada satu fenomena yang belakangan ini bikin dahi berkerut lebih dalam daripada cicilan KPR: pasangan baru yang merasa dunia adalah milik berdua, dan kita semua cuma penonton bayaran yang dipaksa nonton adegan "ranjang" mereka.

Iya, saya bicara soal kalian yang baru sah, lalu tiba-tiba merasa punya lisensi untuk pamer keintiman secara vulgar di depan teman, atau lebih parah lagi, mengirim video "tangan suami lagi grepe-grepe paha" ke grup WhatsApp atau pesan pribadi. Hadeh, Bos. Tolong dibedakan antara kemesraan dan eksibisionisme.

Privasi yang Jadi Barang Murahan

Dulu, ruang privat adalah benteng terakhir kehormatan. Hubungan suami istri disebut "rahasia ranjang" bukan tanpa alasan. Ada nilai kesakralan di sana. Tapi sekarang, gara-gara haus validasi, kesakralan itu digadaikan demi pengakuan bahwa "hubungan kami sangat bergairah".

Bayangkan, Anda sedang asyik ngopi atau sekadar cek HP, lalu tiba-tiba ada pesan masuk dari teman yang baru nikah. Isinya video pendek yang memperlihatkan tangan suaminya lagi "eksplorasi" di area sensitif si istri. Niat si pengirim mungkin pamer kebahagiaan—atau mungkin pamer kalau suaminya sangat effort—tapi bagi yang menerima, itu adalah polusi visual tingkat dewa.

Alih-alih bilang "Wah, goals banget!", dalam hati si penerima pasti teriak: "Gue salah apa sampai harus lihat ginian?"

Pelecehan Visual Berkedok "Sharing"

Sadar atau tidak, mengirim konten vulgar tanpa persetujuan itu adalah pelecehan visual. Anda mungkin merasa bangga karena sudah sah, tapi si penerima video merasa risih, jijik, dan terintimidasi. Tidak semua orang punya minat untuk menonton dokumenter amatir tentang paha pasangan Anda.

Pelaku sering kali berlindung di balik kalimat, "Ah, kan sama teman sendiri, santai aja." Maaf, kedekatan pertemanan bukan berarti Anda boleh mencekoki mata teman Anda dengan hal-hal yang seharusnya terkunci rapat di balik pintu kamar. Justru karena berteman, Anda seharusnya menjaga mereka agar tidak melihat aib Anda sendiri.

Rusaknya Batas Pertemanan

Dampak dari kelakuan "overproud" ini sangat nyata bagi lingkaran sosial. Teman-teman yang masih punya akal sehat pasti akan mulai membangun jarak. Bukan karena iri melihat Anda sudah laku, tapi karena malas berurusan dengan orang yang tidak tahu batasan (boundaries).

Ketika Anda menjadikan tubuh pasangan sebagai konten pameran, Anda sebenarnya sedang menurunkan harga diri sendiri dan pasangan di mata teman-teman. Rasa hormat itu pelan-pelan luntur. Anda tidak lagi dilihat sebagai pasangan yang harmonis, melainkan pasangan yang "haus perhatian" dan kurang kerjaan.

Belum lagi bicara risiko digital. Di zaman di mana jejak digital lebih abadi daripada janji manis politikus, mengirim video intim adalah tindakan paling berisiko. Sekali tombol kirim ditekan, video itu bukan lagi milik Anda. Kalau suatu saat terjadi peretasan atau hubungan pertemanan retak, video itu bisa jadi senjata yang menghancurkan reputasi Anda seumur hidup. Apakah pamer sebentar sebanding dengan malu selamanya?

Saran untuk Para "Exhibitionist" Amatir

Untuk kalian yang sedang dalam fase "dunia milik berdua", tolong dengerin ini baik-baik:

 * Kehormatan Itu Dijaga, Bukan Dipajang: Suami yang hebat adalah yang mampu melindungi aurat istrinya dari mata lelaki lain, bukan yang malah menjadikannya tontonan. Begitu juga istri yang cerdas.

 * Validasi Bukan dari Penonton: Kalau kalian benar-benar bahagia dan puas secara seksual, kalian nggak butuh pengakuan dari teman lewat video pendek. Orang yang benar-benar kenyang nggak akan sibuk pamer menu makanan ke orang yang lagi lapar.

 * Pikirkan Masa Depan: Bayangkan kalau sepuluh tahun lagi anak Anda melihat video itu, atau mertua Anda yang nggak sengaja liat. Dunia ini sempit, Bos. Jangan bikin jalan hidup kalian jadi makin sempit gara-gara video paha.

Saran untuk Para Korban "Curhat Vulgar"

Dan untuk kalian yang kebetulan jadi tempat penampungan konten nggak jelas ini, jangan cuma diam karena alasan "nggak enak sama teman".

 * Tegas Sejak Awal: Kalau dia mulai kirim yang aneh-aneh, langsung bilang: "Bro/Sis, gue risih. Tolong jangan kirim ginian lagi, itu privasi kalian." Tegas bukan berarti musuhan, itu namanya menjaga kesehatan mental.

 * Jangan Kasih Panggung: Jangan diketawain, jangan ditanya balik. Respon yang datar akan membuat si pelaku merasa aksinya gagal total.

 * Hapus dan Lupakan: Jangan disimpan di galeri, apalagi diterusin ke orang lain. Jadilah penghapus aib teman, meski temanmu sendiri hobi buka aibnya.

Penutup

Menikah itu memang indah, tapi bukan berarti etika ikut luntur bersamaan dengan sahnya ijab kabul. Kemesraan itu mahal harganya karena ia bersifat rahasia. Begitu ia diobral ke mata orang lain, ia nggak lagi jadi kemesraan, tapi cuma jadi sampah visual.

Jadi, buat para pengantin baru, silakan nikmati masa-masa indah kalian. Tapi tolong, simpan tangan dan video kalian untuk kalian sendiri saja. Kami, teman-teman kalian, lebih suka melihat foto kalian makan bakso bareng daripada melihat video kalian yang... ah, sudahlah.


FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Mengapa membagikan momen intim setelah menikah dianggap tidak etis, padahal sudah sah? Meskipun hubungan sudah sah secara hukum dan agama, privasi ranjang tetap memiliki nilai kesakralan. Membagikan konten intim (seperti video atau foto vulgar) di ruang publik atau pesan pribadi bukan lagi bentuk kemesraan, melainkan eksibisionisme. Hal ini melanggar batasan sosial dan dapat membuat orang lain merasa risih atau dilecehkan secara visual.

2. Bagaimana cara menegur teman yang hobi mengirim konten "oversharing" tentang hubungan mereka? Cara terbaik adalah bersikap tegas namun sopan. Anda bisa mengatakan, "Mohon maaf, saya merasa kurang nyaman menerima konten seintim ini. Menurut saya ini adalah privasi kalian yang sebaiknya dijaga." Menetapkan batasan (boundaries) sejak awal sangat penting untuk menjaga kesehatan mental Anda dan kualitas pertemanan.

3. Apa risiko jangka panjang dari membagikan video atau foto intim ke orang lain? Risiko utamanya adalah jejak digital yang tidak bisa dihapus sepenuhnya. Konten tersebut bisa disalahgunakan jika terjadi peretasan atau retaknya hubungan pertemanan. Selain itu, hal ini dapat menurunkan martabat diri dan pasangan di mata orang lain, serta berpotensi menjadi masalah hukum jika dianggap melanggar UU ITE atau pornografi.

4. Apakah membagikan konten seperti itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan? Ya, mengirimkan konten vulgar atau seksual kepada seseorang tanpa persetujuan mereka dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual non-fisik atau pelecehan visual. Meskipun pengirim merasa itu hanya bercanda atau berbagi kebahagiaan, perspektif penerima yang merasa terintimidasi atau jijik adalah yang menentukan batas pelecehan tersebut.


Tags

Etika Menikah, Privasi Pasangan, Oversharing, Batasan Pertemanan, Pelecehan Visual, Eksibisionisme, Jejak Digital, Hubungan Sehat, Tips Pernikahan, Self Respect, Etika Media Sosial, Boundaries, Pasutri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...