Langsung ke konten utama

Ironi Dua Pasar: Yang Satu Rebutan Lapak, Yang Satu Jadi "Gudang Hantu"


Pernahkah Anda merasa gemas melihat fasilitas publik yang dibangun megah dengan anggaran besar, tapi ujung-ujungnya malah mubazir? Pemandangan ini nyata adanya di depan mata saya. Di dekat rumah, berdiri dua pasar dengan nasib yang ibarat bumi dan langit, padahal jaraknya hanya selemparan batu.

Kontras yang Menyesakkan Dada

Pasar pertama adalah tipikal pasar tradisional "bebas". Tanpa sekat kaku, semua pedagang menyatu, membuat suasana begitu hidup. Sudut-sudutnya penuh, pembeli selalu ramai.

Namun, tengoklah pasar kedua. Ini adalah pasar "modern" dengan sekat-sekat rapi. Dulu, lapaknya dibagikan gratis lewat sistem undian. Di sinilah akar masalahnya. Siapa yang beruntung dapat posisi depan, sementara yang "apes" terlempar ke pojokan yang tak terlihat orang.

Banyak pemenang undian ternyata bukan pedagang asli, sehingga lapak hanya dibiarkan mangkrak atau berusaha dijual kembali. Hasilnya miris: seperempat area dalam pasar kini hanya berisi tumpukan sampah, wadah plastik pecah, dan bangku kayu lapuk. Alih-alih jadi pusat ekonomi, bagian dalam pasar ini berubah fungsi menjadi gudang rongsokan yang suram.

Dilema Pintu Terkunci dan Aturan Kaku

Selain posisi yang tak strategis, aturan jam operasional menjadi "lonceng kematian" bagi pasar modern ini. Pasar hanya dibuka dari jam 1 pagi hingga 11 siang. Setelah itu? Pintu akses digembok rapat.

Bagi pedagang, aturan ini adalah pedang bermata dua. Memang jam 1 pagi adalah puncak grosir sayur, tapi menutup pintu di jam 11 siang terasa seperti pengusiran halus. Pedagang kehilangan fleksibilitas, dan pembeli yang ingin mampir di siang hari harus gigit jari. Karena sirkulasi orang terhenti total, terjadilah eksodus besar-besaran dari dalam pasar ke area luar.

Luar Meledak, Dalam Melompong

Dampaknya adalah anomali yang luar biasa kacau. Area luar pasar yang seharusnya untuk parkir dan pejalan kaki kini "meledak" menjadi pasar tumpah. Di sana, orang membangun warung semi-permanen karena merasa lebih bebas tanpa takut digembok.

Bahu jalan disikat, kemacetan tak terhindarkan, dan suasana menjadi semrawut. Padahal, tepat di samping mereka, bangunan pasar yang teduh dan rapi justru kosong melompong. Pembeli pun akhirnya memilih cara drive-thru ilegal: berhenti di atas motor, bayar di pinggir jalan, lalu pergi. Praktis bagi pembeli, tapi bencana bagi tata kelola kota.

Saatnya Logika Pedagang Mengalahkan Logika Birokrasi

Keresahan saya sederhana: jika semua pedagang di luar mau masuk ke dalam, pasar ini akan luar biasa keren. Area parkir kembali berfungsi, jalanan lancar, dan lingkungan jadi rapi. Namun, ini tidak bisa dilakukan hanya dengan perintah lisan.

  1. Audit Ulang Kepemilikan Lapak: Lapak yang hanya dijadikan tempat sampah selama berbulan-bulan harus ditarik dan diberikan kepada pedagang asli yang saat ini kepanasan di lahan parkir.

  2. Fleksibilitas Akses: Pasar adalah jantung ekonomi, bukan kantor instansi yang harus tutup saklek. Selama ada transaksi, akses harus dipermudah.

Kita semua merindu pasar tradisional yang bersih tapi tetap ramai. Jangan sampai anggaran besar berakhir sia-sia hanya untuk membangun "gudang hantu". Pasar yang sukses adalah pasar yang dikelola dengan logika pedagang, bukan sekadar logika birokrasi yang penting "gedungnya jadi".


FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Mengapa pedagang lebih memilih jualan di area parkir daripada di dalam pasar? Pedagang merasa area luar lebih strategis karena langsung terlihat pembeli. Selain itu, mereka menghindari aturan jam operasional yang kaku di dalam gedung yang seringkali sudah ditutup sebelum transaksi benar-benar selesai.

2. Apa dampak sistem undian terhadap kegagalan fungsi pasar? Sistem undian sering kali memberikan lapak kepada orang yang tidak berniat dagang (spekulan), sementara pedagang aktif justru mendapatkan posisi "mati" di pojokan yang tidak terjangkau pembeli.

3. Bagaimana cara mengatasi pasar yang mangkrak seperti ini? Pemerintah atau pengelola perlu melakukan audit lapak. Lapak yang tidak digunakan harus dialihkan kepada pedagang pasar tumpah, disertai dengan perbaikan akses pintu masuk agar lebih fleksibel bagi pembeli.

4. Mengapa pembeli juga enggan masuk ke dalam gedung pasar? Faktor kenyamanan dan kecepatan. Karena area parkir sudah penuh oleh pedagang, pembeli lebih memilih belanja di pinggir jalan tanpa harus turun dari kendaraan (drive-thru) demi menghemat waktu.


Tag (Meta Description/Tags):


Fenomena pasar mangkrak, ironi pasar tradisional vs modern, masalah lapak pasar tumpah, tata kelola fasilitas publik, solusi pasar sepi, pedagang kaki lima, pemborosan anggaran gedung pasar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

  Ada kalanya, ruang yang seharusnya damai—entah itu bilik kerja kita di kantor, atau bahkan teras rumah kita sendiri—berubah mendadak jadi panggung konser. Bukan, ini bukan konser yang Anda beli tiketnya. Ini adalah simfoni bising yang tak diundang. Rasanya seperti ada yang teriak, "Muter musik kenceng emang mau hajatan, ya?" Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Di kantor, seorang rekan (mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan) memutar musik dengan volume yang sukses bikin telinga pengang. Kadang, yang diputar itu alunan musik dengan beat super kencang yang muncul tiba-tiba, bikin dag dig dug sampai rasanya jantung mau copot. Di lain hari, malah lagu-lagu melankolis dengan vokal menusuk yang volumenya diputar kencang-kencang, membuat suasana jadi sendu padahal deadline sudah di depan mata. Pekerjaan terhampar, tapi fokus saya buyar, terpecah oleh gelombang sonik yang sama sekali tidak saya minta. Masalah Universal: Dari Meja Kerja Sampai Tembok Rumah Dilema ini tidak...

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai

Beberapa hari yang lalu, keponakan saya resmi melakukan aksi "mogok nasional" skala rumah tangga. Dia memilih mendekam di kamar, menggulung diri dalam selimut tebal, dan dengan tegas ogah berangkat ke sekolah. Wajahnya ditekuk, mirip orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. ​Awalnya saya pikir dia belum mengerjakan PR Matematika yang setebal kamus itu, atau mungkin habis diputusin pacarnya. Namun, ternyata alasannya jauh lebih masuk akal sekaligus tragis: dia merasa gurunya sedang melakukan eksperimen aneh yang di luar nalar manusia normal. ​Begini ceritanya. Keponakan saya ini tipe anak yang otaknya sudah disetel untuk menghitung angka, logika, dan segala sesuatu yang pasti-pasti saja. Dia adalah penyembah Matematika garis keras. Tapi entah kenapa, tiba-tiba gurunya di sekolah merasa dapat hidayah dan memaksa keponakan saya ikut lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. ​Di sisi lain, temannya yang jago banget bikin tulisan puitis—yang kalau nulis status galau di Instagr...

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Pernah nggak sih kamu lagi jalan, terus ngeliat kucing terlantar yang kurus banget, ngeong-ngeong kelaparan, atau badannya penuh luka? Rasanya nyesek banget, ya. Jujur, aku pribadi sering banget ngerasain hal ini. Rasanya pengen banget nolong, minimal ngasih makan biar perut mereka nggak perih. Tapi sayangnya, realita di lapangan nggak seindah itu. Di saat kita ngerasa iba, ternyata banyak juga orang di luar sana yang justru "alergi" sama keberadaan mereka. Kenapa Masih Banyak Orang yang Kejam? Sering banget kita lihat pemandangan yang bikin marah. Ada orang yang melempar kucing, memukul, bahkan tega menyiram air panas cuma karena si kucing lewat atau minta makan. Tetanggaku sendiri pernah memukul kucing pakai kayu besar. Untungnya si kucing sempat menghindar, kalau nggak, mungkin nyawanya sudah melayang. Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: Kucing itu hewan, mereka nggak punya akal seperti manusia. Saat mereka "mencuri" makanan, itu bukan karena mereka ja...