Memanen Benih Pengkhianatan (FH Bag. 2): Sosok Parasit di Meja Farming



Setelah kepergian Owner, farming house (FH) tempat kami menggantungkan hidup bukan lagi sekadar tempat mencari cuan, melainkan panggung bagi drama kemanusiaan yang menyesakkan dada. Jika pada artikel sebelumnya dari seri farming house saya membahas bagaimana sistem mulai goyah, kali ini saya ingin menyoroti satu sosok spesifik—seorang rekan kerja yang perilakunya melampaui batas kewajaran, bahkan saat tanah makam sang Owner belum kering.


Warisan Kebaikan yang Disalahgunakan

Dahulu, FH adalah rumah kedua yang penuh kehangatan. Almarhum Owner bukan sekadar bos; beliau adalah penyedia segalanya. Kami datang hanya membawa raga dan fokus pada layar monitor. Komputer, akun, kamar mandi, hingga urusan perut pun dijamin dengan sangat manusiawi.

Saya masih ingat betapa royalnya keluarga beliau. Di dapur, stok mi instan selalu tersedia melimpah untuk kami masak sendiri kapan pun lapar melanda di tengah grinding. Tidak jarang, istri almarhum turun tangan memasakkan nasi juga lauk-pauk untuk kami makan bersama. Terkadang gorengan hangat dikirim ke meja kerja sebagai teman farming di malam yang dingin. Pembagian hasil 50:50 saat itu terasa sangat adil karena kami benar-benar "terima beres" tanpa harus memikirkan biaya listrik, internet, maupun logistik perut.

Namun, roda berputar. Sejak beliau sakit hingga akhirnya berpulang, manajemen berubah total. Kami sekarang memegang kendali lebih besar dengan pembagian 75:25 (75% untuk kami, 25% untuk keluarga atau biaya operasional FH). Konsekuensinya jelas: biaya operasional harian seperti mi instan, gas, dan air galon bukan lagi tanggung jawab FH. Kami harus iuran atau membeli sendiri secara mandiri, kalau saya selalu bawa bekal sendiri dari rumah. Perubahan ini seharusnya menjadi ujian kedewasaan bagi kami semua, namun bagi sebagian orang, ini justru menjadi celah untuk memelihara sifat parasit.

Datang Hanya Saat "Tambal Butuh"

Kejadian tadi malam benar-benar memicu amarah saya, meski saya mendengarnya dari cerita adik saya. Saat itu saya terpaksa absen karena fisik yang tumbang. Pagi hingga sore saya harus membanting tulang membangun kandang dan rumah, hingga tangan kiri saya linu luar biasa akibat beban berat. Di tengah rasa sakit itu, sebuah cerita pahit sampai ke telinga saya tentang si "Farmer Parasit" ini.

Setelah berminggu-minggu menghilang tanpa kabar, dia tiba-tiba muncul di FH seolah tidak terjadi apa-apa. Tanpa rasa sungkan, dia menyalakan komputer dan mulai menanak nasi dari sisa stok lama yang masih ada di sana. Dengan nada tanpa dosa, dia bertanya kepada rekan lain, "Mienya habis? Kenapa enggak minta?"

Kalimat itu terdengar seperti penghinaan bagi kami yang bawa bekal sendiri dari rumah, atau yang suka rela menyediakan stok tanpa minta iuran . Rekan saya hanya menjawab singkat, "Enggak enak mau minta," karena dia sadar betul bahwa mi itu bukan lagi fasilitas gratis dari FH yang bisa diklaim seenaknya.

Si parasit ini seolah mengidap amnesia selektif. Dia sudah tidak masuk berminggu-minggu lalu datang-datang ingin menikmati fasilitas seolah-olah sistem masih seperti zaman Owner sehat. Dia menjadikan FH sebagai "tambal butuh"—hanya datang saat dompetnya benar-benar kering dan terdesak kebutuhan hidup.

Manipulasi Setoran dan Kecurangan Sistemik

Ada kabut kecurigaan yang tebal melingkupi absennya orang ini. Dalam dunia farming game, konsistensi adalah kunci pendapatan. Dalam satu shift 12 jam, setidaknya Rp100.000 hingga Rp200.000 bisa dikantongi dengan mudah. Jika dia tidak masuk dalam waktu lama, logikanya dia akan kesulitan secara finansial. Namun, saya mencurigai motif yang lebih gelap: menghindari setoran 25% ke keluarga almarhum.

Modusnya sederhana namun licik. Dengan menghilang lama, dia bisa berdalih sudah berhenti atau tidak lagi aktif saat dimintai laporan oleh keluarga owner. Dengan begitu, dia tidak perlu menyetor ke rekening FH atau transparan di grup WhatsApp. Padahal, rekam jejaknya sudah kotor sejak lama.

Sejak almarhum Owner masih sehat, dia pernah  menjual hasil koinnya sendiri secara diam-diam tanpa membagi hasil dengan Owner. Uang hasil "curian" itu dia nikmati sendiri. Saat itu, almarhum yang terlalu baik mungkin tidak menyadarinya, atau mungkin terlalu sabar untuk menegur. Kecurangan itu dia pelihara hingga hari ini. Saat keluarga yang ditinggalkan sedang berjuang menata ekonomi pasca-kehilangan kepala keluarga, dia justru sibuk mengamankan keuntungan pribadi dengan cara yang tidak ksatria.

Mengaku Teman, Tapi Tak Berhati

Yang paling mengiris hati adalah klaimnya yang mengaku bahwa keluarganya adalah teman dekat almarhum Owner. Namun, tindakan nyata menunjukkan kontradiksi yang luar biasa. Saat Owner sakit keras dan dipulangkan dari rumah sakit karena medis sudah angkat tangan, dia memang datang menjenguk di hari terakhir. Tapi setelah itu? Semuanya kosong.

Bukti nyatanya terlihat saat prosesi duka. Saat Owner meninggal, dia tidak nampak di pemakaman. Tidak ada batangnya saat kami semua bahu-membahu mengangkat jenazah beliau ke peristirahatan terakhir. Di mana sosok "teman dekat" itu saat penghormatan terakhir dibutuhkan? Bahkan selama rangkaian tahlilan, kehadirannya bisa dihitung dengan jari. Dia benar-benar definisi teman yang hanya ada saat butuh fasilitas, namun menghilang saat ada kewajiban moral dan empati yang dituntut.

Pesan Terbuka untuk Sang Teman: FH Bukan Panti Asuhan

Untukmu, temanku yang kini sedang membaca atau mungkin sedang merasa tersindir. Jujur, di dalam hati terkecilku, aku masih mengingat sisi baikmu. Aku tahu kamu adalah orang yang sebenarnya suka berbagi dan asyik diajak bercanda saat semua sedang lancar. Kita pernah tertawa bersama di balik layar monitor, berbagi strategi, dan melewati malam-malam panjang demi mengumpulkan pundi-pundi koin. Sifat dermawanmu di masa lalu tidaklah palsu, aku menghargai itu.

Namun, kebaikan masa lalu tidak bisa dijadikan tiket gratis untuk berperilaku semena-mena sekarang. Kita harus bicara jujur: Farming House ini adalah tempat kerja, sebuah bisnis, bukan panti asuhan.

Almarhum Owner sudah memberikan segalanya saat beliau hidup. Beliau memberikan kita pancing, umpan, bahkan tempat berteduh yang nyaman. Sekarang, setelah beliau tiada, adalah tugas kita untuk menjaga pancing itu tetap berfungsi, bukan malah merusaknya atau mencuri ikannya diam-diam.

Kamu tidak bisa datang hanya saat butuh uang, lalu menghilang saat tiba waktunya bertanggung jawab pada kas dan setoran. Kamu tidak bisa berharap disediakan mi instan, nasi, atau gas secara cuma-cuma. 

Menghindar dari setoran 25% bukan hanya bentuk kecurangan materi, tapi itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan keluarga almarhum yang masih memberikan kita izin untuk menggunakan tempat ini. Ingatlah, 25% itu adalah hak bagi keluarga yang sudah menyediakan infrastruktur untukmu mencari nafkah. Tanpa akun game, komputer wifi, dan listrik di FH ini, kamu mungkin tidak akan bisa mendapatkan Rp100.000-Rp200.000 itu dengan mudah.

Kembalilah menjadi teman yang kami kenal dulu—teman yang jujur dan punya integritas. Jangan jadikan kesusahan finansialmu sebagai alasan untuk mematikan hati nurani. FH ini milik bersama untuk masa depan bersama. Jika kamu tetap memilih jalan sebagai parasit yang datang hanya untuk "tambal butuh", maka jangan salahkan jika pintu rumah ini suatu saat akan tertutup rapat untukmu. Karena pada akhirnya, kerja keras bisa dipelajari, tapi kejujuran adalah karakter yang tidak bisa ditawar.

Di dunia virtual kita boleh saja menipu sistem game, tapi di dunia nyata, jangan sekali-kali menipu orang-orang yang pernah mengulurkan tangan saat kamu jatuh. Karena sekali kepercayaan itu hilang, tidak ada koin sebanyak apa pun yang bisa membelinya kembali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai