Drama Puskesmas: Konspirasi Tensi Digital dan Jempol Admin yang Lamban (pernah dimuat di mojok.co)

Sakit itu tidak enak. Lebih tidak enak lagi kalau sakit saat dompet sedang tipis-tipisnya, apalagi di tanggal tua yang napasnya sudah Senin-Kamis. Maka, ketika badan mulai meriang dan kepala terasa seperti dipukuli warga sekampung, tujuanku cuma satu: Puskesmas.

Kenapa Puskesmas? Tentu saja karena aku punya kartu sakti berwarna hijau bernama BPJS Kesehatan. Gratis, Bos. Sebuah privilese yang harus kumanfaatkan demi kesehatan fiskal pribadi. Pagi itu, dengan sisa tenaga yang ada, aku menyeret kaki ke Puskesmas terdekat, mengambil nomor antrean, dan memulai observasi gabutku.

Misteri Tensi Digital yang Selalu Dicurigai

Sebelum bertemu dokter, ada ritual wajib di meja screening: timbang badan, ukur tinggi (yang sepertinya makin hari makin menyusut karena beban hidup), dan cek tekanan darah. Nah, di bagian cek tensi ini selalu ada hal menarik.

Puskesmas zaman now sudah modern, pakai tensimeter digital alias otomatis. Tinggal masukkan lengan, pencet tombol, dan ngwing-ngwing-ngwing, angka keluar. Tapi, entah kenapa, alat ini punya reputasi aneh di kalangan pasien.

"Alat ginian mah kadang nggak akurat, Mas. Kata teman ku yang istrinya perawat, mending yang dipompa manual. Kalau digital gini gerak dikit angkanya langsung ngawur," celetuk bapak-bapak di sebelah ku dengan nada penuh konspirasi.

Aku manggut-manggut saja. Memang sih, tensimeter ini sensitif banget. Kita batuk sedikit, hasilnya bisa setara orang yang baru dikejar debt collector. Namun, ya mau bagaimana lagi? Kalau petugas harus memompa manual buat ratusan pasien BPJS tiap hari, bisa-bisa tangan mereka berotot sebelah. Aku harus terima tensimeter ini demi kecepatan.

Ujian Kesabaran di Meja Admin

Setelah lolos dari "jepitan" tensimeter, aku dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan awal. Di sinilah puncak komedi tragis hari itu terjadi, yaitu saat sesi tanya jawab yang sekaligus menjadi sesi input data.

Aku duduk berhadapan dengan petugas. Pertanyaannya standar: "Sakit apa, Mas?" dan "Sudah sejak kapan?". Aku menjawab dengan cepat dan lugas. Masalahnya, kecepatan bicara ku tidak sebanding dengan kecepatan jari si petugas dalam mengetik data di komputer.

Di depan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan atraksi mengetik "sebelas jari"—alias hanya dua jari telunjuk yang bertugas mematuk keyboard. Telunjuk kiri dan telunjuk kanan beradu di atas tombol dengan gerakan mematuk yang lambatnya minta ampun.

Tak... (jeda 2 detik)... Tak... (jeda lagi).

Parahnya, suara tombol backspace terdengar lebih sering daripada tombol huruf. Typo melulu! Mengetik kata "demam dan pusing kepala" saja butuh waktu yang cukup untuk aku merenungi dosa-dosa masa lalu. Rasanya gemas ingin kugeser badannya dan bilang, "Minggir, Bu/Pak, biar aku saja yang ngetik!"

Sistem Canggih, Operatornya... Yah Begitulah

Selesai dengan sesi wawancara yang diiringi musik staccato keyboard itu, petugas bilang, "Silakan langsung tunggu di depan apotek ya, Mas."

Aku tidak diberi kertas resep. Canggih, Bos. Datanya sudah terintegrasi. Begitu petugas menekan Enter (setelah bertarung melawan typo), data resep obatku konon kabarnya langsung meluncur secara gaib via jaringan lokal ke komputer bagian farmasi. Sistemnya sudah SIMPUS (paperless), modern, dan sat-set.

Aku pun berjalan gontai menuju ruang tunggu pengambilan obat. Di sini aku kembali menunggu.

Saat itulah aku sadar ironi yang sesungguhnya: Sistem pengiriman datanya ke farmasi memang secepat kilat. Tapi, alur yang seharusnya sat-set itu menjadi melambat di bagian hulu—di tangan petugas yang kesulitan mencari di mana letak huruf 'Q' atau 'Z'.

Darurat Kemampuan Mengetik 10 Jari

Ini membawaku pada sebuah perenungan serius. Di era digital ini, kenapa kemampuan mengetik 10 jari buta (touch typing) belum menjadi standar wajib kompetensi pegawai?

Jika satu pasien memakan waktu input data 3 menit hanya karena petugasnya gagap keyboard, dan ada 50 pasien sehari, itu sudah buang-buang waktu berjam-jam secara kumulatif. Kalau mereka bisa mengetik 10 jari, waktu input bisa dipangkas jadi 30 detik. Antrean lebih cepat, pasien tidak makin darah tinggi menunggu, dan obat bisa lebih cepat sampai ke tangan.

Ayolah, ini bukan soal skill premium. Ini skill dasar yang wajib dimiliki semua pekerja di depan komputer, baik di instansi pemerintah maupun kantoran.

Aku akhirnya dipanggil, menerima plastik obat, dan pulang membawa paracetamol. Di kepala ku, suara tek... tek... backspace... tek... dari meja admin masih terngiang-ngiang. Semoga cepat sembuh, bukan cuma buat badanku, tapi juga buat skill mengetik para pelayan publik.


❓ FAQ Ringkas

1. Apa kontradiksi utama di Puskesmas? Sistem canggih (paperless) vs. kecepatan mengetik petugas yang lamban.

2. Kenapa pasien mencurigai tensi digital? Dianggap terlalu sensitif dan tidak seakurat alat manual.

3. Apa yang dimaksud "sebelas jari" admin? Petugas mengetik hanya menggunakan dua jari telunjuk (hunting and pecking).

4. Apa solusi yang disarankan penulis? Kemampuan mengetik 10 jari harus jadi standar wajib pegawai Puskesmas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Bikin Konser di Kantor! Gak Semua Orang Suka Lagumu!!

Dilema Kucing Jalanan: Antara Rasa Iba, Emosi, dan Tanggung Jawab Kita

Selamatkan Keponakan Saya dari Guru yang Terobsesi Jadi Raja Api Ozai